Mitos “Alpha Male”: Dominasi vs Prestise, dan Kenapa Kita Perlu Berhenti Membaginya Jadi Hitam-Putih
Alpha vs beta itu mitos. Riset menunjukkan daya tarik paling kuat datang dari kombinasi percaya diri, tegas, santai, dan empatik—jalur prestise, bukan intimidasi.
Ada banyak “pilihan palsu” di dunia ini—kiri vs kanan, otak kiri vs otak kanan, nature vs nurture, dan seterusnya. Tapi ada satu mitos yang super bandel, dan (menurut penulis aslinya) dampaknya bisa sampai ikut “memakan korban”: pembagian laki-laki menjadi cuma dua kubu, “alpha” dan “beta”.
Kalau kamu pernah nyangkut di konten self-improvement yang vibe-nya keras, mungkin narasinya terdengar familiar:
-
“Alpha” = berada di puncak status sosial. Punya akses lebih besar ke kuasa, uang, dan pasangan—karena fisik, intimidasi, dan dominasi. Sering dipromosikan sebagai “real men”.
-
“Beta” = kebalikannya: lemah, patuh, status rendah, dan baru “kebagian” ketika orang lain memutuskan “sudah waktunya settle” dan mencari “nice guy”.
Masalahnya: hidup nggak sesederhana itu. Pembagian hitam-putih ini bukan cuma menyederhanakan maskulinitas (padahal manusia itu multidimensi), tapi juga bisa menyesatkan banyak anak muda untuk meniru gaya tertentu yang justru nggak membantu membangun relasi sehat—atau sukses di area hidup yang lain.
Jadi, kalau kamu pernah kepikiran, “Oke, emang benar ya dominasi bikin kita lebih menarik?”—mari kita bedah bareng, pelan-pelan, tanpa sok tahu.
DAFTAR ISI
- Kenapa Mitos “Alpha vs Beta” Terasa Meyakinkan
- Sains tentang Dominasi: Menarik, Tapi Nggak Sesederhana “Jadi Alpha Aja”
- Plot Twist: Bukan “Dominasi” yang Menang, Tapi Kombinasi Sifat yang Lebih Spesifik
- Dominasi Itu Banyak “Rasanya”: Tegas ≠ Galak
- Kombinasi yang Paling “Nempel”: Baik Hati + Tegas
- Dominasi vs Prestise: Dua Jalan Menuju Status Sosial
- Dua Jenis “Pride”: Hubristic vs Authentic
- “Alpha” di Alam Pun Tidak Sesederhana Meme Internet
- Keunggulan Prestise: Lebih Luwes, Lebih Tahan Lama
- Dominasi Itu Strategi Jangka Pendek, Prestise Itu Investasi
- Jadi, “Tipe Ideal” Itu Alpha atau Beta?
- Kalau Kamu Anak Muda dan Lagi Berjuang Soal “Gimana Sih Jadi Cowok yang Menarik?”
- Praktik Kecil yang Bisa Dicoba (Biar Nggak Cuma Jadi Wacana)
- Penutup
Kenapa Mitos “Alpha vs Beta” Terasa Meyakinkan
Karena manusia suka jalan pintas. Otak kita doyan label, doyan kategori, doyan template: kalau A, berarti B. Dan ketika template itu diulang-ulang di film, tongkrongan, sampai algoritma TikTok, rasanya jadi kayak “kebenaran umum”.
Masalahnya, saat kita cuma punya “palu”, semua hal terlihat seperti “paku”. Ketika dunia dipaksa masuk ke dua kotak, kita jadi gampang tertipu: seolah-olah untuk dicintai, dihargai, atau dianggap “bernilai”, kamu harus memilih salah satu persona, lalu memakainya seperti kostum harian.
Dan ya… kostum itu capek.
Sains tentang Dominasi: Menarik, Tapi Nggak Sesederhana “Jadi Alpha Aja”

Penulis aslinya mengangkat studi-studi awal tentang dominasi dan ketertarikan. Salah satu contohnya: peserta diberi skenario (video/tulisan) dua pria yang berinteraksi, lalu dibedakan apakah si pria bertingkah dominant atau nondominant.
Ada tokoh bernama John, pemain tenis.
Versi “dominant” John
John digambarkan kompetitif, menolak mengalah, gerak-geriknya memancarkan otoritas, bahkan “mendominasikan” lawan secara psikologis sampai lawan bikin kesalahan.
Versi “nondominant” John
Masih jago, tapi main untuk fun, nggak terlalu kompetitif, mudah goyah kalau lawan tampil berwibawa, dan cenderung menghindari situasi yang terlalu kompetitif.
Hasil awalnya: skenario dominan dinilai lebih menarik secara seksual, tapi si John dominan juga dianggap kurang disukai dan kurang diinginkan sebagai pasangan hidup.
Terdengar seperti kemenangan “alpha”?
Tapi… tunggu dulu.
Plot Twist: Bukan “Dominasi” yang Menang, Tapi Kombinasi Sifat yang Lebih Spesifik
Dalam studi lanjutan, peneliti memisahkan kata-kata sifat yang menyusun “dominant” itu. Ternyata:
-
“dominance” bisa terlihat menarik,
-
tapi “aggressive” dan “domineering” tidak menambah daya tarik—baik pada laki-laki maupun perempuan.
Lalu ada studi lain (Burger & Cosby) yang menambahkan kondisi kontrol: sebagian peserta cuma membaca tiga kalimat awal deskripsi John, tanpa embel-embel dominan atau tidak dominan.
Hasilnya?
John versi kontrol (yang deskripsinya paling minim itu) justru dapat rating “seksi” paling tinggi.
Artinya apa?
Kemungkinan besar, ketika kamu cuma diberi label “dominant” atau “nondominant” tanpa konteks lain, label itu malah mengurangi ketertarikan. Peneliti menyimpulkan bahwa dimensi “dominant vs nondominant” itu terbatas untuk memprediksi preferensi pasangan.
-
Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah
-
Jasa Backlink DoFollow Berkualitas Dari Berbagai Topik
-
Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website
-
Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain
-
Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis
Dominasi Itu Banyak “Rasanya”: Tegas ≠ Galak

Bagian ini penting banget, apalagi buat pembaca muda yang sering keburu mengira “tegas” harus “keras”.
Di eksperimen berikutnya, peneliti mengutak-atik lima sifat utama John.
Paket “dominant”: aggressive, assertive, confident, demanding, dominant.
Paket “nondominant”: easygoing, quiet, sensitive, shy, submissive.
Lalu peserta diminta memilih sifat yang ideal untuk:
-
kencan, dan
-
pasangan jangka panjang.
Temuannya tajam:
-
Hampir tidak ada yang memilih “dominant” sebagai sifat yang dicari.
-
Pemenang besarnya justru confident dan assertive.
-
“Demanding” nggak dipilih sama sekali.
-
“Aggressive” hanya dipilih minoritas kecil.
Di sisi lain:
-
Dari paket “nondominant”, yang menang adalah easygoing dan sensitive.
-
“Submissive” juga nggak dipilih sama sekali.
-
“Shy” dan “quiet” sangat rendah.
Kesimpulannya jelas: dominasi yang “nendang” itu bukan yang menuntut, kasar, atau egois—melainkan yang dekat dengan percaya diri + tegas.
Dan lebih keren lagi: sensitif dan tegas itu bukan musuh. Mereka bisa hidup bareng dalam satu orang yang sama.
Kalau kamu mau versi sehari-hari:
Kamu bisa jadi orang yang punya pendirian, tapi tetap paham perasaan orang lain. Kamu bisa bilang “nggak” tanpa bikin orang merasa direndahkan. Kamu bisa memimpin tanpa harus merendahkan.
Kombinasi yang Paling “Nempel”: Baik Hati + Tegas
Penelitian lain yang dikutip penulis menunjukkan bahwa dominasi saja bukan kuncinya. Daya tarik meningkat ketika dominasi itu bertemu perilaku prososial (ramah, kooperatif, altruistik). Dalam kata lain: dominasi baru menambah daya tarik kalau orangnya memang sudah tinggi dalam agreeableness dan altruism.
Ada juga temuan bahwa dominasi terlihat menarik dalam konteks kompetisi laki-laki vs laki-laki—misalnya saat bersaing secara sportif—tapi dominasi agresif (ancaman/force) dalam pengambilan keputusan informal justru tidak menarik.
Terjemahan “tongkrongan”-nya:
Yang sering bikin orang terkesan bukan si “preman kelas”, tapi orang yang bisa tampil kuat saat needed (misalnya di pertandingan), dan tetap asyik, bersahabat, aman diajak dekat di hari-hari biasa.
Dominasi vs Prestise: Dua Jalan Menuju Status Sosial

Nah, di sinilah artikel ini makin menarik: status sosial pada manusia bisa diraih lewat agresi dan intimidasi, tapi juga bisa lewat welas asih, kerja sama, dan kontribusi—bahkan sering kali lebih kuat.
Para peneliti lintas bidang menyebut ada dua rute menuju status sosial:
-
Dominance
-
Prestige
Biar gampang, bayangkan begini:
-
Dominance = “orang nurut karena takut / terpaksa.”
-
Prestige = “orang ngikut karena respek / pengin belajar / pengin jadi seperti dia.”
Kalau kamu ingin baca lebih dalam soal konsep prestige vs dominance dalam evolusi budaya, salah satu rujukan klasiknya bisa kamu cek di paper Henrich & Gil-White ini.
Dua Jenis “Pride”: Hubristic vs Authentic
Penulis juga membedakan dua “bahan bakar emosi” di balik dua rute status sosial.
1) Hubristic pride (kebanggaan yang sombong)
Ciri-cirinya: arogan, merasa superior, hubungan tidak stabil, cenderung antisosial, mudah agresif/manipulatif, dan berkaitan dengan hasil kesehatan mental yang buruk.
2) Authentic pride (kebanggaan yang sehat)
Ciri-cirinya: rasa berhasil, percaya diri, orientasi prestasi, prososial, hubungan memuaskan, serta kesehatan mental yang lebih positif. Yang paling krusial: terkait dengan self-esteem yang genuine—merasa diri berharga tanpa harus merasa lebih tinggi dari orang lain.
Kalau kamu penasaran bagaimana psikologi membedakan dua facet pride ini dan alat ukurnya, kamu bisa intip ringkasannya di halaman riset UBC Emotion & Self Lab.
-
Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda
-
Berbisnis halal bikin hati tenang. Cek caranya disini!
-
Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik!
-
Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda!
-
Mau Hemat Biaya Transfer Antar Bank dan Isi Saldo e-Wallet?
“Alpha” di Alam Pun Tidak Sesederhana Meme Internet
Kata “alpha” sering dipinjam dari dunia hewan (serigala, simpanse), lalu dipakai mentah-mentah untuk manusia. Padahal, bahkan di studi serigala pun, konsep “alpha” sebagai hasil duel dominasi itu sudah lama dikritik. Dalam tulisan klasik David Mech tentang serigala liar, struktur kawanan lebih mirip keluarga (orang tua memimpin), bukan arena adu jotos untuk jadi bos.
Dan bahkan di primata, status “alpha male” tidak melulu soal ukuran dan kekuatan; kemampuan sosial seperti membangun aliansi dan grooming juga berperan.
Keunggulan Prestise: Lebih Luwes, Lebih Tahan Lama
Sebelum kita menganggap dominasi itu “jahat” dan prestise itu “baik”, penulis mengingatkan: status itu kontekstual. CEO Fortune 500 bisa sangat dihormati di kantor, tapi kalau dilempar ke populasi umum di Sing Sing Prison, posisinya bisa ambyar jadi paling bawah. Kamu bisa “alpha” di satu kelompok, dan “beta” di kelompok lain.
Namun, dalam kondisi yang keras dan berbahaya, dominasi bisa dianggap berguna karena cepat menghasilkan “kepatuhan” dan akses sumber daya. Di luar situasi semacam “barbarian society”, justru orang yang punya prestise yang cenderung unggul di lebih banyak konteks.
Apa bedanya dalam data?
Dalam studi pada atlet universitas:
-
Individu dominan cenderung lebih rendah self-esteem yang genuine, penerimaan sosial, dan agreeableness; lebih tinggi narsisme, agresi, dll. Mereka dinilai lebih atletis dan “leader”, tapi lebih rendah altruism, kooperatif, helpful, etika, dan moral.
-
Individu prestisius cenderung lebih rendah agresi/neurotisisme; lebih tinggi self-esteem yang genuine, penerimaan sosial, agreeableness, bahkan GPA. Mereka juga dinilai atletis dan leader, tapi juga lebih intelektual, social skill bagus, altruistik, kooperatif, helpful, etis, dan bermoral.
Intinya: dua jalur ini beda banget. Tapi ada overlap yang penting—kekuatan, kepemimpinan, kebaikan, moralitas bisa ada pada orang yang sama. Kategori kaku “alpha vs beta” justru menutup kemungkinan seseorang bertumbuh jadi versi terbaiknya.
Dan penulis melempar pertanyaan yang bikin senyum: kalau bikin tim, kamu pilih Kevin Durant atau Dennis Rodman?
Dominasi Itu Strategi Jangka Pendek, Prestise Itu Investasi
Penulis menawarkan cara pandang lain:
-
Dominasi = strategi sukses jangka pendek. Kamu bisa “menaklukkan”, tapi belum tentu bisa “mengelola” hasilnya.
-
Prestise = strategi jangka panjang. Kamu membangun reputasi dan warisan.
Di simpanse, posisi alpha sering cepat digeser oleh penantang baru. Dalam sejarah manusia, bangsa-bangsa yang menonjol lewat dominasi (contohnya Mongols atau Vikings) bisa berjaya pada zamannya tapi kemudian memudar. Sementara tokoh-tokoh “prestisius” (contoh yang dipakai penulis: Founding Fathers) meninggalkan legacy yang bertahan.
Poinnya bukan untuk mengagungkan satu kelompok, tapi untuk menunjukkan pola: kekuatan yang cuma bertumpu pada intimidasi itu rapuh. Yang bertumpu pada kontribusi, kemampuan, dan respek sosial biasanya lebih tahan banting.
Jadi, “Tipe Ideal” Itu Alpha atau Beta?

Menurut rangkuman penelitian yang dibawakan penulis: bukan keduanya.
Laki-laki yang dianggap ideal (untuk kencan atau pasangan romantis) adalah yang:
-
assertive (tegas),
-
confident (percaya diri),
-
easygoing (santai),
-
sensitive (peka),
tanpa jadi:
-
agresif,
-
demanding,
-
dominan,
-
quiet (dalam arti pasif/kaku),
-
shy (terlalu minder),
-
submissive.
Dengan kata lain: yang dicari adalah sosok prestisius, bukan “dominant”.
Dan yang paling kuat: kombinasi tegas + baik hati terlihat paling menarik untuk hubungan jangka pendek maupun panjang.
Kalau Kamu Anak Muda dan Lagi Berjuang Soal “Gimana Sih Jadi Cowok yang Menarik?”
Bagian ini terasa seperti napas lega: kamu nggak harus “berperan” jadi seseorang yang bukan kamu.
Jalur yang lebih sehat (dan lebih efektif) bukan meniru stereotip “alpha” yang dominan, tapi membangun kualitas “prestisius”:
-
mengembangkan skill yang bernilai,
-
membangun identitas yang stabil,
-
menumbuhkan rasa berharga yang genuine.
Penulis memberi analogi yang nendang: mencoba memakai persona “alpha” itu seperti membangun house of cards—kelihatannya keren, tapi fondasinya rapuh.
Pada akhirnya, maskulinitas yang lebih menarik itu justru campuran: tegas, baik, punya skill yang diasah, dan punya rasa “aku ini berharga” tanpa perlu menginjak orang lain. “True alpha” (kalau mau pakai istilah itu) justru lebih penuh, lebih dalam, lebih kaya.
Praktik Kecil yang Bisa Dicoba (Biar Nggak Cuma Jadi Wacana)
Kalau kita tarik ke kehidupan sehari-hari—kuliah, kerja awal karier, pertemanan, PDKT—ini beberapa praktik yang sejalan dengan arah “prestise” (bukan intimidasi):
-
Latih ketegasan yang hangat: bilang “nggak” tanpa ngegas; tegas tanpa meremehkan.
-
Bangun rasa percaya diri lewat kompetensi: pilih satu skill yang kamu sukai, lalu konsisten latihan. Progress bikin pede lebih stabil daripada pencitraan.
-
Jaga empati tetap hidup: jadi pendengar yang beneran hadir. Empati itu bukan “lemah”; itu kekuatan sosial.
-
Berani kompetisi, tapi tetap sportif: menang tanpa menghina, kalah tanpa drama.
-
Rawat kesehatan mental: kalau lagi penuh overthinking, cemas, atau ngerasa “kurang”, kamu nggak sendirian—mulai dari rutinitas kecil yang realistis seperti yang dibahas di panduan kesehatan mental ramah pemula.
-
Waspadai “good vibes only”: menekan emosi supaya terlihat “kuat” seringnya meledak belakangan. Kalau kamu relate, kamu mungkin nyambung dengan menghindari positivitas palsu.
-
Keluar dari perangkap pikiran negatif: hal-hal kecil yang konsisten sering lebih mempan daripada motivasi meledak-ledak. Lihat juga 5 strategi sederhana mengatasi pikiran negatif dan lebih bahagia.
-
Kalau kamu lagi membangun nyali sosial: ada banyak cara yang bukan “jadi songong”. Artikel belajar tegar ala mantan agen rahasia bisa jadi teman baca yang seru.
Penutup
Mitos “alpha vs beta” itu menggoda karena terasa rapi. Tapi hidup, relasi, dan kesehatan mental jarang rapi. Kita lebih sering bertumbuh ketika berhenti memakai label sempit dan mulai membangun karakter yang benar-benar bisa dipakai lama: tegas, percaya diri, santai, peka, punya skill, dan punya rasa berharga yang stabil.
Dan mungkin, itu justru definisi “keren” yang paling tahan zaman.
Atribusi
Artikel ini merupakan versi Bahasa Indonesia dari tulisan Scott Barry Kaufman, “The Myth of the Alpha Male”, diterbitkan di Greater Good Science Center (10 Desember 2015).
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.
Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.


















