Skip to main content

The Green Experience: Kenapa Kamu Butuh Alam — Lebih dari yang Kamu Kira

Pertemuan kita dengan alam, sekecil apapun, ternyata punya dampak besar pada kesehatan mental dan mood harian kita. Temukan kenapa the green experience itu penting dan cara mudah mendapatkannya setiap hari.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Hiking di Pegunungan
Ilustrasi Hiking di Pegunungan

Sekadar duduk di taman sambil makan siang pun sudah cukup. Pertemuan kita dengan alam, sekecil apapun itu, ternyata punya dampak yang jauh lebih besar dari yang kita sangka.

 

DAFTAR ISI

Poin-Poin Penting

  • Setiap pertemuan kita dengan alam — sekecil apapun — bisa disebut sebagai "The Green Experience"
  • Alam dalam wujud terbesarnya memang memukau, tapi bahkan pengalaman alam yang biasa-biasa saja pun sudah bisa sangat memuaskan
  • Alam punya kualitas restoratif — artinya, dia memulihkan kita. Kita jadi lebih rileks dan tenang saat berada di lingkungan alami

Kita Sudah Lama Jatuh Cinta pada Alam

Sejak dulu, manusia sepertinya selalu punya daya tarik tersendiri terhadap keindahan alam terbuka. Dan menariknya, semakin kita hidup di kota, semakin kuat kerinduan itu.

Coba ingat-ingat: kapan terakhir kali kamu merasa lega banget cuma gara-gara lihat pohon besar yang rindang di pinggir jalan? Atau ngerasa hati sedikit lebih ringan waktu nyiumin tanah habis hujan? Itu bukan kebetulan.

Di awal abad ke-19, gerakan Romantisisme Inggris sudah meyakini bahwa alam punya efek yang mengangkat jiwa (uplifting), menenangkan, dan menyehatkan manusia. Yang ironis — para seniman dan penulis Romantis itu hampir semuanya tinggal di kota. Tapi justru karena itulah mereka begitu bersemangat mencari alam, melukisnya, dan menulis tentang perasaan luar biasa yang mereka rasakan di sana.

Kedengarannya familiar? Ya, karena kita tidak jauh berbeda. Kita yang tinggal di Jakarta, Surabaya, atau Bandung pun sering kali ngerasa perlu "kabur" ke Puncak, Lombok, atau sekadar duduk-duduk di taman kota — hanya untuk bernapas sedikit lebih lega.


Alam Bisa Membuat Kita Takjub (dan Itu Bagus!)

Aspek alam yang paling dramatis — gunung dan laut — sudah sejak lama membangkitkan campuran perasaan yang unik: kagum, takut, sekaligus hormat.

Menurut geografer Yi-Fu Tuan, hampir setiap peradaban di dunia punya gunung suci yang jadi pusat kosmologi mereka:

  • Gunung Olympus di Yunani
  • Gunung Meru di India
  • Gunung Tabor di Israel
  • Gunung Fuji di Jepang

Dan kalau kita telusuri berbagai tradisi dan legenda:

  • Musa menerima Sepuluh Perintah Allah di atas gunung
  • Abraham bersiap mengorbankan putranya, Ishak, di sebuah gunung
  • Bahtera Nuh berlabuh di puncak gunung
  • Yesus dicobai iblis di pegunungan
  • Prometheus dalam mitologi Yunani dirantai di puncak gunung oleh Zeus
  • Kaisar Wu dari Tiongkok (140–87 SM) mempersembahkan kurban kepada langit di pegunungan

Alam dalam wujud terbesarnya — gunung, laut, hutan belantara — sudah lama jadi bagian penting dari cara manusia memaknai hidup, spiritualitas, dan kebesaran semesta.

Tapi kamu nggak harus mendaki Himalaya atau menyelam di Raja Ampat untuk merasakan manfaatnya.

Hal-Hal Kecil Pun Sudah Cukup

Ini yang sering kita lupakan: pengalaman kita dengan alam tidak harus dramatis untuk terasa bermakna.

Pohon yang daunnya berubah warna di musim gugur. Kebun bunga yang mekar penuh di musim semi. Atau — dalam konteks kita di Indonesia — hamparan sawah hijau di pinggir tol, atau langit sore yang berwarna jingga di balik gedung-gedung.

Semua itu sudah cukup untuk membuat kita merasa good.

Penelitian membuktikan bahwa pengalaman di alam terbuka — seperti hiking atau paddling di tempat yang indah — terbukti:

  • Mengurangi stres secara signifikan
  • Meningkatkan mood dan perasaan positif
  • Bahkan bisa membantu pemulihan dari penyakit

Yang lebih mengejutkan? Sekadar melihat foto pemandangan alam pun bisa memberikan efek yang serupa — meski tentu tidak sedramatis pengalaman langsungnya. Jadi kalau kamu lagi nggak bisa ke mana-mana, scroll foto sawah atau pantai di Pinterest bukan sekadar buang-buang waktu. Itu self-care versi darurat 😄


Mengenal "The Green Experience"

Psikolog lingkungan Rachel Kaplan punya istilah yang menarik untuk ini: The Green Experience — pengalaman hijau kita bersama dunia alami.

Dorongan untuk mencari alam dan merasakan green experience ini bisa sangat kuat. Banyak dari kita rela repot dan keluar biaya besar hanya untuk bisa "menyatu" dengan alam dalam bentuk apapun.

Bayangkan saja betapa banyak orang Indonesia yang rela macet berjam-jam ke Puncak di akhir pekan, atau merogoh kocek dalam-dalam untuk liburan ke Bali, Raja Ampat, atau Labuan Bajo. Bukan hanya karena gaya-gayaan — tapi karena ada sesuatu dalam diri kita yang membutuhkan itu.

Dan yang menarik, kita tidak harus jauh-jauh. Coba perhatikan di taman-taman kota: ada saja orang yang duduk di dalam mobil, makan siang sambil menatap pepohonan dari balik kaca jendela. Tidak ada agenda lain. Hanya ingin merasakan kehadiran alam sejenak — dan itu sudah cukup.

Mengapa Alam Bisa Memulihkan Kita?

Ini bagian yang secara ilmiah cukup menarik.

Alam biasanya lebih tenang dan teredam dibanding lingkungan kompleks yang kita hadapi sehari-hari — kantor yang ramai, notifikasi yang nggak berhenti, kemacetan, deadline. Otak kita terus-menerus bekerja keras untuk menyaring informasi yang tidak relevan dan tetap fokus.

Di sinilah alam berperan. Ada teori yang menyebutkan bahwa kita sudah terprogram secara evolusi untuk merespons lingkungan alami secara positif. Pola-pola yang ada di alam — dedaunan, aliran air, bentuk bebatuan — secara alami menarik perhatian kita, tapi tidak memaksanya. Kita tidak perlu berjuang keras untuk fokus. Hasilnya?

Kita jadi lebih rileks. Pikiran jadi lebih jernih. Hati jadi lebih ringan.

Itulah juga kenapa kadang rasanya agak menyebalkan kalau lagi asyik menikmati alam terbuka, tiba-tiba ada orang bising atau kerumunan yang datang. Mereka "memecah mantra" — breaking the spell — dari kesendirian dan pelarian yang sedang kita cari.


Alam dan Kenangan Masa Kecil Kita

Ada sesuatu yang sangat revealing dari serangkaian penelitian berikut ini.

Para peneliti meminta orang dewasa untuk menyebutkan tempat-tempat yang paling berkesan bagi mereka di masa kecil. Hasilnya? Di hampir setiap penelitian, mayoritas besar peserta memilih tempat-tempat di luar ruangan — seperti taman, hutan, atau tepi pantai — sebagai tempat paling bermakna di masa muda mereka.

Bukan mal. Bukan rumah. Bukan sekolah.

Alam.

Kalau kamu orang Indonesia yang tumbuh besar di kampung, mungkin kamu ingat: sungai di belakang rumah nenek, pohon mangga yang jadi tempat main, atau sawah yang jadi "lapangan sepak bola" dadakan. Semua itu bukan sekadar kenangan indah — tapi pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk bagaimana kita berhubungan dengan dunia.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan Mulai Hari Ini?

Alam dan ruang hijau untuk mood harian bukan hal yang mahal atau rumit. Kamu tidak perlu beli tiket ke Labuan Bajo untuk merasakannya.

Beberapa hal sederhana yang bisa kamu coba:

  • Jalan santai 15–20 menit di taman terdekat saat istirahat siang
  • Duduk di dekat jendela yang menghadap pohon atau langit terbuka saat kerja
  • Bawa tanaman hias ke dalam ruangan kerjamu
  • Makan siang di luar — di taman kantor, di bawah pohon, atau di mana saja yang ada udaranya
  • Akhir pekan ke taman kota — tidak harus jauh, tidak harus mahal
  • Atau sesederhana berhenti sejenak saat pulang kerja dan memperhatikan langit sore

Kalau kamu lagi ngerasa penat dan butuh jeda dari kesibukan, ingat: taman terdekat mungkin adalah yang kamu butuhkan — bukan liburan panjang yang belum tentu bisa diambil minggu ini.

Alam terbukti ampuh memperbaiki suasana hati jauh lebih efektif dari yang kita bayangkan. Dan yang paling penting — itu gratis, atau setidaknya sangat terjangkau.


Jangan Tunggu Sampai Burnout

Kita hidup di era yang menuntut kita terus-menerus on — selalu produktif, selalu terhubung, selalu responsif. Dan dalam ritme seperti itu, alam sering jadi hal yang kita anggap "nanti saja kalau ada waktu."

Tapi justru itulah masalahnya.

Saat kita terus memacu diri tanpa jeda, kita lupa bahwa otak dan jiwa kita punya kebutuhan yang sangat mendasar: ketenangan, keheningan, dan kontak dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Alam menyediakan semua itu.

Jadi mulai sekarang, coba jadikan green experience sebagai bagian dari rutinitas harianmu — bukan sebagai kemewahan, tapi sebagai kebutuhan. Karena tubuhmu, pikiranmu, dan perasaanmu memang dirancang untuk itu.


Ditulis berdasarkan artikel oleh Frank T. McAndrew, Ph.D., direview oleh Margaret Foley, dipublikasikan 24 Januari 2026 di Psychology Today: The Green Experience: Why You Need Nature.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!