Toxic Productivity: Ketika “Sibuk” Malah Jadi Bumerang
Selalu merasa harus sibuk? Kenali toxic productivity, tanda-tandanya, dan cara menahan doing bias agar kerja lebih efektif, sehat, dan tetap punya hidup.
Ada orang yang kalau sehari nggak checklist apa pun, rasanya kayak… “hidup gue ngapain sih?” Padahal ya—kadang memang hidup itu perlu napas. Tapi di kepala, ada alarm kecil yang bunyinya kenceng:
“Ayo, kerjain sesuatu. Apa aja. Yang penting gerak.”
Kalau kamu sering hidup di mode itu, boleh jadi kamu sedang ketemu dengan satu kebiasaan yang kelihatannya “rajin”, tapi diam-diam bikin rusak: toxic productivity.
Bukan produktif yang sehat, ya. Ini versi “produktif” yang obsesif—yang bikin kita merasa harus terus doing tanpa henti, walau badan sudah capek, relasi mulai retak, dan kepala rasanya kayak browser kebanyakan tab.
DAFTAR ISI
- Poin penting yang perlu kamu pegang
- Toxic productivity itu apa, sih?
- Bedanya produktif vs toxic: sekilas gampang, prakteknya tricky
- Tanda-tanda kamu mulai “kecanduan doing”
- Kenapa kita jadi begini? “Doing” sering terasa lebih aman daripada diam
- “Cukup” itu nggak pernah cukup kalau kamu terjebak toxic productivity
- Jadi, harus gimana? Cara keluar dari jebakan doing bias
- Mini “alat bantu” 3 menit saat kamu pengin reaktif
- Untuk kamu yang memimpin tim: toxic productivity bisa jadi budaya
- Produktif itu harus melayani hidup, bukan memakan hidup
Poin penting yang perlu kamu pegang
-
Keinginan untuk terus doing bisa berubah jadi racun—dan anehnya, sering nggak efektif juga.
-
Budaya toxic productivity bisa muncul di mana-mana: negara, kantor, komunitas, bahkan di dalam diri.
-
Luangkan waktu untuk merenung dan memilih tindakan jauh lebih baik daripada reaktif dan bergerak tanpa pikir panjang.
Toxic productivity itu apa, sih?

Toxic productivity adalah kondisi ketika ada dorongan obsesif untuk selalu produktif, apa pun biayanya—kesehatan mental, kesehatan fisik, hubungan, waktu istirahat, bahkan rasa “hidup yang beneran hidup”.
Orang yang produktif sehat biasanya:
-
punya tujuan,
-
tahu kapan gas dan kapan rem,
-
bisa berhenti tanpa rasa bersalah,
-
dan hasil kerjanya cenderung lebih rapi karena ada jeda berpikir.
Orang yang terjebak toxic productivity seringnya begini:
-
pokoknya harus gerak,
-
harus ada output,
-
harus kelihatan sibuk,
-
dan kalau nggak sibuk… merasa “nggak cukup”.
Dalam artikel sumber, perilaku ini juga sering disebut action bias atau doing bias: dorongan untuk segera bertindak, bahkan ketika yang dibutuhkan sebenarnya adalah diagnosis, analisis, rencana, atau sekadar tenang dulu.
Bedanya produktif vs toxic: sekilas gampang, prakteknya tricky
Kalau dibuat analogi: produktif sehat itu kayak masak pakai resep—ngukur, nyiapin bahan, atur api, dan cek rasa.
Toxic productivity itu kayak masak sambil panik:
-
belum nyalain kompor sudah lempar bumbu,
-
belum tahu mau bikin apa tapi sudah ngegoreng,
-
begitu gosong, malah tambah gas lagi biar “cepet selesai”.
Kelihatan aktif, tapi hasilnya sering… ya gitu deh.
Tanda-tanda kamu mulai “kecanduan doing”

Coba cek pelan-pelan. Kalau beberapa poin ini terasa “iya banget”, kamu nggak sendirian.
-
Nggak bisa santai tanpa rasa bersalah. Lagi istirahat tapi pikiran menyalahkan: “Harusnya bisa ngerjain sesuatu.”
-
Nilai diri diukur dari checklist. Hari yang “berharga” itu hari yang penuh to-do list.
-
Sulit memulai fase diagnosis. Begitu ada masalah, refleksnya: “Oke, sekarang ngapain? Cepet!”
-
Hasil kerja sering terburu-buru. Cepat selesai, tapi sering perlu revisi ulang (yang bikin capek dobel).
-
Kepala tetap “kerja” walau badan sudah rebah. Badan di kasur, pikiran di spreadsheet.
-
FOMO produktif. Lihat orang lain “nggiling”, kamu ikut panas—padahal kamu sudah hampir burnout.
Kalau ini terjadi terus-menerus, produktivitas jadi semacam cara untuk merasa “layak”.
-
Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah
-
Jasa Backlink DoFollow Berkualitas Dari Berbagai Topik
-
Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website
-
Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain
-
Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis
Kenapa kita jadi begini? “Doing” sering terasa lebih aman daripada diam
Ada banyak alasan kenapa toxic productivity gampang tumbuh.
“Doing” lebih nyaman daripada “not doing”
Diam itu ruang. Dan ruang itu kadang bikin kita ketemu hal-hal yang nggak enak:
-
takut,
-
ragu,
-
rasa nggak aman,
-
atau pertanyaan besar: “Sebenarnya gue lagi ngejar apa?”
Akhirnya, kita lari ke aktivitas. Bukan karena itu yang paling penting—tapi karena itu yang paling cepat bikin kita merasa “baik-baik aja”.
Ada budaya yang memuja “aksi cepat”
Di banyak tempat, ada keyakinan: action speaks louder than words. Gerak cepat dianggap virtue. Orang yang cepat respons dianggap jago.
Masalahnya, cepat respons belum tentu cepat tepat.
Budaya ini sering makin terasa di dunia kerja:
-
pemimpin ingin terlihat “berhasil” lalu menyamakannya dengan “sibuk”,
-
staf junior ingin kelihatan “paling niat” biar cepat naik,
-
akhirnya terbentuk satu atmosfer: sibuk = hebat.
Kalau kamu pernah hidup di kantor yang menganggap lembur sebagai badge of honor… kamu tahu rasanya.
Dan dari situ, lahirlah hustle culture versi lokal: yang penting kelihatan jalan terus.
Teknologi bikin kerja “nempel” 24/7
Email, chat kantor, grup WhatsApp, notifikasi… bikin otak sulit benar-benar pulang.
Dulu ada garis yang jelas:
-
pulang kantor = selesai.
Sekarang?
-
laptop bisa dibuka kapan aja,
-
HP selalu ada,
-
“cuma bales bentar” bisa jadi satu jam.
Di titik ini, work-life balance bukan lagi slogan motivasi—tapi kebutuhan dasar biar manusia tetap manusia.
Pandemi bikin “sibuk” naik kelas—bahkan saat dunia melambat
Di masa pandemi, banyak orang sebenarnya punya lebih banyak waktu (nggak commute, lebih banyak di rumah, ritme berubah). Tapi justru muncul tekanan baru:
-
“Harus tetap produktif.”
-
“Harus upgrade diri.”
-
“Harus bikin sesuatu.”
Media sosial pun ikut menambah volume: belajar bahasa baru, bikin roti, olahraga, bikin event online… semua dipamerkan dengan aura “lihat nih, aku tetap berguna”.
Ada kutipan yang kuat dari psikolog Kathryn Esquer (dalam artikel sumber): banyak orang sebenarnya bisa memakai waktu luang untuk istirahat dan memulihkan diri, tapi malah mengisi jam-jam itu dengan kerja tambahan agar merasa layak, terpenuhi, dan punya kontrol.
Dan di sinilah toxic productivity terasa seperti solusi… padahal ia cuma menunda masalah.
“Cukup” itu nggak pernah cukup kalau kamu terjebak toxic productivity
Salah satu cirinya: target bergerak terus.
Selesai satu hal, muncul suara:
-
“Harusnya bisa lebih cepat.”
-
“Harusnya lebih rapi.”
-
“Harusnya bikin dua hal sekalian.”
Dan kalau ada celah kosong? Celah itu diisi rasa bersalah.
Ironisnya, budaya “sibuk” justru bisa merusak produktivitas:
-
kualitas keputusan menurun,
-
hubungan dengan keluarga renggang,
-
relasi kerja jadi dangkal karena semua orang lari ke tugas berikutnya.
-
Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda
-
Berbisnis halal bikin hati tenang. Cek caranya disini!
-
Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik!
-
Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda!
-
Mau Hemat Biaya Transfer Antar Bank dan Isi Saldo e-Wallet?
Jadi, harus gimana? Cara keluar dari jebakan doing bias

Ini bagian yang paling penting: melawan toxic productivity bukan berarti jadi malas. Ini soal mengembalikan kendali: bertindak karena memilih, bukan karena panik.
Berikut langkah-langkah yang disarankan dalam artikel sumber—dengan versi yang lebih membumi untuk kehidupan sehari-hari.
Beri diri izin untuk “menimbang” (bukan langsung bertindak)
Tidak semua hal harus dibereskan saat itu juga. Tidak semua masalah butuh kamu turun tangan.
Pertanyaan kuncinya:
-
“Apa yang paling buruk terjadi kalau aku ambil 24 jam untuk memikirkan ini dulu?”
Sering kali jawabannya: ya… nggak ada yang runtuh juga.
Kalau kamu tipe yang gampang “kebakar”, coba bikin aturan mini:
-
keputusan yang berpotensi bikin konflik, biaya, atau energi besar → tunda 24 jam bila memungkinkan.
Latih kecerdasan emosional: “Aku lagi ngerasa apa sih?”
Sebelum bertindak, berhenti sebentar dan beri nama perasaan yang muncul.
Contoh:
-
“Aku panik.”
-
“Aku takut dinilai.”
-
“Aku kesal.”
-
“Aku merasa tidak dihargai.”
-
“Aku merasa harus membuktikan diri.”
Lalu tanya:
-
Kebutuhan apa yang belum terpenuhi di balik perasaan itu?
-
Kenapa aku pengin cepat-cepat turun tangan?
-
Ini memberi sinyal apa soal caraku memimpin diriku sendiri? (atau memimpin orang lain, kalau kamu berada di peran itu)
Kadang kita bergerak bukan karena itu penting, tapi karena kita butuh meredakan rasa tidak nyaman.
Pelihara rasa ingin tahu: tinggal lebih lama di fase diagnosis
Ini kebalikan dari reaktif.
Coba perpanjang fase “paham dulu”:
-
Apa outcome yang diinginkan?
-
Siapa saja pihak yang terlibat?
-
Faktor apa yang memengaruhi?
-
Pilihan apa saja yang ada?
-
Konsekuensi dari masing-masing pilihan?
Kalau situasinya melibatkan orang lain, pakai pertanyaan terbuka:
-
“Menurut kamu yang paling mengganggu dari situasi ini apa?”
-
“Kalau kita bisa mengubah satu hal saja, itu apa?”
-
“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dari aku?”
Semakin kamu bertahan di fase diagnosis, semakin kecil peluang kamu membuat keputusan impulsif yang nantinya bikin kerja dua kali.
Pilih-pilih aksi: tidak semua hal butuh campur tangan
Ini bagian yang sering menampar ego: kadang kita turun tangan karena merasa “kalau bukan aku, siapa lagi”.
Padahal, tidak semua situasi butuh kamu jadi penyelamat.
Coba pikirkan:
-
Mana yang benar-benar penting dan berdampak?
-
Mana yang bisa didelegasikan?
-
Mana yang justru memberi ruang orang lain untuk tumbuh kalau kamu tidak langsung masuk?
Memilih untuk tidak turun tangan bukan berarti tidak peduli. Kadang itu justru bentuk kepedulian yang lebih dewasa.
Buat batasan dan rawat diri: jeda itu juga kerja penting
Ambil waktu dari mode “doing”:
-
jalan santai,
-
olahraga ringan,
-
meditasi,
-
ngobrol tanpa bahas kerja,
-
main bareng keluarga,
-
kembali ke hobi,
-
atau sekadar tidur cukup.
Kuncinya: mulai melihat hari yang rileks sebagai sesuatu yang “bernilai”.
Karena hari yang rileks:
-
mengisi ulang energi,
-
memperbaiki fokus,
-
menurunkan stres,
-
dan bikin kamu lebih waras besok.
Kalau kamu pernah membaca tentang produktif bukan cuma disiplin, kamu tahu: produktif bukan hanya soal kemauan keras, tapi juga soal kondisi—lingkungan, energi, stres, ritme.
Mini “alat bantu” 3 menit saat kamu pengin reaktif
Kalau kamu butuh sesuatu yang bisa dipakai cepat (terutama saat pikiran sudah keburu panas), coba ini:
Metode STOP (versi simpel)
-
S — Stop: berhenti 10 detik.
-
T — Tarik napas: 3 kali, pelan.
-
O — Observasi: “Aku lagi ngerasa apa? Aku pengin ngapain?”
-
P — Pilih: tindakan kecil yang paling bijak, bukan yang paling cepat.
Kalau kamu ingin lebih konkret, pakai pertanyaan ini:
-
“Apakah ini perlu sekarang, atau cuma terasa perlu karena aku nggak nyaman?”
-
“Kalau aku ambil jeda 30 menit, apa yang berubah?”
-
“Tindakan apa yang paling mendekatkan pada tujuan, bukan sekadar meredakan cemas?”
Untuk kamu yang memimpin tim: toxic productivity bisa jadi budaya
Kalau kamu punya peran sebagai koordinator, ketua tim, atau atasan, toxic productivity bukan cuma urusan pribadi—bisa menular jadi norma.
Beberapa sinyal budaya yang perlu diwaspadai:
-
orang takut cuti karena takut dinilai,
-
balas chat di luar jam kerja dianggap standar,
-
rapat terlalu banyak tapi keputusan minim,
-
“sibuk” jadi identitas tim.
Langkah kecil yang bisa mengubah suasana:
-
beri contoh batasan (misal: tidak mengirim chat non-urgent malam hari),
-
apresiasi kualitas keputusan, bukan hanya kecepatan,
-
jadwalkan waktu refleksi sebelum mengambil keputusan besar,
-
buat ruang “diagnosis” sebelum eksekusi.
Budaya yang sehat bukan budaya yang paling sibuk—tapi yang paling jelas tujuan dan ritmenya.
Produktif itu harus melayani hidup, bukan memakan hidup
Kadang kita bisa terlalu sibuk, sampai lupa apa yang sebenarnya ingin dirawat: kesehatan, relasi, ketenangan, dan tujuan hidup.
Kalau kamu ingin produktif, pastikan produktivitasmu lahir dari pilihan, dan mengarah pada tujuan personal maupun profesional yang benar-benar kamu pegang. Bukan sekadar gerak tanpa henti.
Karena pada akhirnya, produktif yang paling keren itu bukan yang paling banyak “doing”… tapi yang paling tepat sasaran—dan masih menyisakan ruang untuk bernapas.
Atribusi
Artikel ini merupakan adaptasi dan terjemahan dari tulisan Palena R. Neale, Ph.D., PCC berjudul When Doing is Your Undoing: Toxic Productivity, ditinjau oleh Devon Frye, dipublikasikan 22 Januari 2022 di Psychology Today.
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.
Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.





















