Skip to main content

Bukan Sekadar Hiburan: Begini Cara Membaca Buku Menenangkan Saraf

Membaca buku ternyata bisa mengubah kondisi fisiologis tubuhmu secara nyata — dari detak jantung hingga kadar stres. Ini penjelasan sains di baliknya, plus 5 cara membaca yang lebih restoratif.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Membaca dengan Guru
Ilustrasi Membaca dengan Guru

Pernah nggak kamu ngerasain momen di mana kamu lagi baca buku, terus tiba-tiba sadar kalau bahumu udah turun, napasmu lebih pelan, dan pikiran-pikiran random yang biasanya berisik di kepala — mendadak sunyi?

Rasanya kayak dunia di sekitar kamu mengabur perlahan, dan yang tersisa cuma kamu dan halaman-halaman itu.

Kalau pernah, kamu nggak sendirian. Dan ternyata, itu bukan cuma perasaan. Ada sains di baliknya — dan penjelasannya jauh lebih dalam dari sekadar "baca buku itu menenangkan."

DAFTAR ISI

Apa Yang Terjadi di Dalam Tubuh Saat Kamu Membaca

ilustrasi membaca

Membaca buku bukan cuma soal menyerap informasi atau menikmati cerita. Di balik aktivitas yang kelihatannya sederhana itu, tubuh kita mengalami perubahan fisiologis yang nyata dan terukur.

Ketika kita membaca:

  • Detak jantung melambat
  • Napas menjadi lebih teratur dan dalam
  • Ketegangan otot berkurang

Ini bukan kebetulan. Ini adalah respons sistem saraf otonom kita — perpindahan dari mode sympathetic (alias mode "fight-or-flight", siaga penuh) ke mode parasympathetic (alias mode "rest-and-digest", istirahat dan pulih).

Singkatnya: tubuh kamu secara harfiah sedang reset setiap kali kamu tenggelam dalam sebuah buku.

Di era serba cepat seperti sekarang — notifikasi tiap menit, scroll tanpa henti, konten yang datang bertubi-tubi — kemampuan membaca untuk mengalihkan sistem saraf dari mode stres ke mode tenang adalah sesuatu yang, jujur aja, sangat kita butuhkan. Dan screen time berlebihan berdampak nyata pada otak kita, yang bikin aktivitas menenangkan seperti membaca jadi makin penting.


Otak Kita Sebenarnya "Lahir" untuk Membaca — Tapi Bukan Teks

Ini bagian yang menarik banget.

Kemampuan membaca teks tertulis sebenarnya masih sangat baru dalam skala evolusi manusia — tulisan baru muncul sekitar 5.000 tahun lalu. Itu artinya, otak kita belum punya waktu cukup untuk mengembangkan sirkuit khusus buat membaca.

Lalu bagaimana kita bisa membaca?

Kita meminjam jaringan saraf lama yang sebenarnya punya fungsi berbeda. Nenek moyang kita menggunakan jaringan ini untuk "membaca" alam: melacak jejak binatang di lumpur, mengenali pola cuaca dari awan, mendeteksi bahaya dari gemerisik dedaunan. Mereka yang bisa membaca sinyal-sinyal itu bertahan hidup. Mereka yang tidak — tidak.

Neurosaintis Stanislas Dehaene menyebutnya neuronal recycling hypothesis — hipotesis daur ulang neuronal. Sistem pengenalan pola purba inilah yang kita aktifkan setiap kali membuka buku.

Saat membaca, banyak area otak bekerja bersamaan:

  • Sistem visual mengenali bentuk huruf dan mengubahnya jadi kata
  • Jaringan bahasa memetakan kata-kata ke makna yang tersimpan di memori
  • Sistem atensi menjaga fokus pada benang cerita
  • Sistem memori mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada

Semua ini terjadi secara terkoordinasi — dan inilah yang membedakan membaca dari, misalnya, scrolling media sosial. Membaca membutuhkan fokus yang sustained dan berkelanjutan pada satu aliran informasi, bukan lompatan-lompatan cepat yang terputus-putus.

Kenapa Membaca Fiksi Itu Spesial (dan Bukan Sekadar Pelarian)

ilustrasi membaca

Ada yang menarik soal fiksi secara khusus.

Penelitian dengan brain imaging menunjukkan bahwa membaca tentang sebuah pengalaman mengaktifkan banyak area otak yang sama dengan saat kita benar-benar mengalami hal tersebut. Baca tentang seseorang yang berlari di tengah hutan? Korteks motorikmu aktif seolah-olah kamu yang sedang berlari. Baca tentang rasa sakit emosional seorang tokoh? Area otak yang terlibat dalam empati dan pemrosesan emosi merespons seolah kamu sedang menyaksikan kejadian nyata.

Ini yang disebut embodied reading — membaca secara "terwujud".

Cerita fiksi, dalam hal ini, berfungsi sebagai latihan berisiko rendah untuk kehidupan nyata. Otak kita memproses pengalaman-pengalaman fiktif sebagai semacam rehearsal — membangun jalur saraf yang bisa diaktifkan saat situasi serupa muncul dalam kehidupan nyata.

Jadi waktu kamu bilang novel favoritmu "mengubah hidupmu" — itu bukan lebay. Itu literally sains. Membaca mendalam menguatkan pikiran kritis dan membantu otak kita berlatih menghadapi kompleksitas dunia nyata.

5 Cara Membaca Lebih "Restoratif" untuk Sistem Sarafmu

Membaca buku apa saja, kapan saja, sudah bagus. Tapi kalau kamu mau mengoptimalkan efek menenangkannya, ada beberapa strategi yang bisa dicoba:

1. Kombinasikan Nonfiksi dan Fiksi

Nonfiksi memang bagus untuk melatih otak berpikir analitis. Tapi fiksi adalah yang paling efektif untuk benar-benar melepaskan otak dari mode problem-solving. Imajinasi yang dibutuhkan saat membaca fiksi memberikan istirahat paling menyeluruh dari stres dan kekhawatiran sehari-hari.

Coba variasikan bacaanmu — jangan terpaku pada satu jenis saja.

2. Pilih Waktu yang Strategis

Membaca sebelum tidur adalah pilihan yang sangat bagus. Ini membantu otak bersiap untuk tidur dengan cara mengurangi hormon stres dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatetis. Efeknya? Tidur lebih nyenyak, pikiran lebih segar di pagi hari.

Kalau kamu penasaran soal hubungan antara membaca dan kualitas tidur, ada banyak yang bisa kamu pelajari dari tips sleep hygiene untuk pembaca. Yang penting, pastikan kamu punya cukup waktu untuk benar-benar tenggelam dalam bacaan — jangan baca sambil buru-buru.

3. Bangun Ritual Membaca

Otak kita suka dengan rutinitas. Semakin konsisten kamu membaca di tempat yang sama, di jam yang sama, dengan "ritual" yang serupa sebelumnya — entah itu secangkir teh hangat, lampu baca yang khas, atau posisi duduk favorit — semakin mudah otakmu untuk langsung masuk ke mode relaksasi saat membaca.

Jadikan sesi membaca seperti sebuah privilege buat diri sendiri, bukan sekadar aktivitas pengisi waktu.

Kalau kamu baru mau membangun kebiasaan ini, mulai kebiasaan membaca dari 10 menit sehari bisa jadi titik awal yang sangat praktis.

4. Sesuaikan Bacaan dengan Kondisi Mental

Ini penting banget dan sering diabaikan.

Kalau kamu lagi dalam kondisi cemas atau stres berat, novel sastra yang berat secara emosional dan kognitif mungkin justru bikin kewalahan. Mulailah dengan sesuatu yang lebih ringan. Seiring sistem sarafmu mulai tenang, kamu bisa bergerak ke bacaan yang lebih menantang.

Dengarkan tubuh dan pikiranmu. Mereka tahu apa yang mereka butuhkan.

5. Ikuti Rasa Ingin Tahumu

Manfaat membaca untuk meredakan stres sangat bergantung pada tingkat absorpsi — seberapa dalam kamu tenggelam dalam bacaan itu. Kalau kamu nggak klik dengan sebuah buku, nggak ada gunanya memaksakan diri.

Taruh bukunya. Ambil yang bikin kamu genuinely penasaran.

Membaca di Tengah Dunia yang Berisik

Kita hidup di zaman di mana perhatian adalah komoditas. Semua platform digital berkompetisi memperebutkan detik-detik fokus kita. Rentang perhatian yang semakin pendek adalah salah satu dampak nyata dari gaya hidup digital yang kita jalani sekarang.

Di tengah semua itu, membaca buku menawarkan sesuatu yang sangat langka: sebuah aktivitas yang sekaligus menstimulasi otakmu dan menenangkan tubuhmu pada saat yang bersamaan.

Tidak banyak hal yang bisa melakukan keduanya sekaligus.

Jadi lain kali kamu settle di sofa dengan buku di tangan dan dunia perlahan-lahan memudar di latar belakang — tahu saja bahwa kamu sedang melakukan sesuatu yang otakmu, secara evolusioner, sangat ahli dalam melakukannya. Dan kamu sedang memberi sistem sarafmu persis apa yang ia butuhkan untuk reset dan recharge.

Itu bukan buang-buang waktu. Itu investasi.


Diadaptasi dari tulisan Anne-Laure Le Cunff, dipublikasikan pada 18 Februari 2026 di Big Think.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!