Skip to main content

Kesepian di Tempat Kerja Ternyata Lebih Berbahaya dari Yang Kita Kira

Kesepian di kantor bukan cuma bikin sedih. Riset terbaru ungkap dampaknya pada kesehatan mental, produktivitas, hingga performa kerja. Begini cara mengatasinya dengan pendekatan berbasis sains.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Pekerja Yang Merasa Kesepian
Ilustrasi Pekerja Yang Merasa Kesepian

Siapa sangka, kantor yang rame setiap hari bisa jadi tempat paling sepi buat sebagian orang? Kesepian di tempat kerja bukan cuma soal nggak punya teman makan siang. Ini masalah serius yang dampaknya bisa lebih parah dari yang kita bayangkan.

Di tahun 2023, Vivek Murthy—mantan kepala kesehatan Amerika Serikat—bahkan menyebut kesepian sebagai "epidemi," dengan konsekuensi yang setara dengan risiko kesehatan besar lainnya. Kalau lo pikir kesepian cuma bikin sedih doang, tunggu dulu. WHO memperkirakan sekitar satu dari enam orang dewasa di seluruh dunia mengalami kesepian yang signifikan.

Dan tau nggak? Tempat kerja justru jadi pusat dari krisis ini.

DAFTAR ISI

Kenapa Kesepian di Kantor Jadi Masalah Besar?

Buat kebanyakan orang dewasa, kantor adalah lingkungan sosial utama di luar keluarga dan sahabat dekat. Bayangin aja, kita menghabiskan hampir sepertiga hidup kita di tempat kerja—lebih lama dari waktu kita sama keluarga sendiri.

Penelitian komprehensif yang mengulas lebih dari 200 studi menemukan bahwa kesepian di tempat kerja bukan masalah sepele atau sementara. Ini adalah fitur sistematis dari kehidupan kerja modern yang membentuk kesejahteraan, perilaku, dan performa karyawan dengan cara yang dampaknya meluas jauh melampaui individu.

Kesepian Itu Subjektif, Bukan Soal Seberapa Rame Kantormu

Hal penting yang perlu dipahami: kesepian adalah pengalaman yang kompleks. Kesepian muncul ketika ada kesenjangan antara koneksi sosial yang kita inginkan dengan apa yang kita rasakan kita miliki.

Karena sifatnya subjektif, seseorang bisa merasa kesepian bahkan di tengah kantor yang sibuk dan kolaboratif. Pernah nggak lo merasa sendirian meski dikelilingi puluhan rekan kerja? Nah, itu dia.

Kesepian juga berbeda dalam durasi dan bentuknya:

Kesepian Sementara

  • Dipicu oleh transisi seperti mulai peran baru atau pindah ke posisi kepemimpinan
  • Dalam kasus ini, kesepian kadang bisa mendorong seseorang untuk kembali terhubung
  • Biasanya lebih mudah diatasi

Kesepian Kronis

  • Mengendap menjadi pola yang memperkuat dirinya sendiri
  • Lebih sulit dibalik dan lebih merusak seiring waktu
  • Butuh intervensi yang lebih serius

Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa kesepian mempengaruhi karyawan dan organisasi dengan cara yang sangat berbeda.

Dampak Psikologis dan Performa: Lebih dari Sekadar "Feeling Lonely"

lonely worker

Konsekuensi kesepian di tempat kerja bersifat personal sekaligus organisasional. Dan trust me, dampaknya nggak main-main.

Kesejahteraan Karyawan Tergerus Perlahan

Kesepian, sama seperti stres kronis, memberikan tekanan berkelanjutan pada kapasitas mental dan emosional seseorang. Riset konsisten menghubungkan kesepian di tempat kerja dengan:

  • Kelelahan emosional yang bikin lo burnout
  • Tekanan psikologis yang terus menumpuk
  • Perasaan terasing dari lingkungan sekitar

Yang lebih mengkhawatirkan, kesepian juga dikaitkan dengan respons stres fisiologis, termasuk peningkatan kadar kortisol—hormon stres yang kalau tinggi terus bisa bikin masalah kesehatan serius.

Di luar tekanan itu, kesepian juga mengurangi emosi positif, kepuasan hidup, dan rasa makna, sembari meningkatkan pengalaman emosional negatif. Basically, hidup jadi terasa lebih abu-abu.

Engagement dan Efektivitas Menurun Drastis

Riset secara konsisten menunjukkan bahwa karyawan yang kesepian cenderung kurang engaged dalam pekerjaannya. Mereka:

  • Lebih mungkin menarik diri dari peran mereka
  • Menginvestasikan lebih sedikit energi
  • Mengurangi kontribusi keseluruhan terhadap hasil organisasi

Kesepian juga dikaitkan dengan gangguan fungsi kognitif, termasuk fokus dan konsentrasi yang menurun—yang ujung-ujungnya merusak produktivitas. Jadi bukan cuma soal "kurang semangat kerja," tapi otak kita literally jadi kurang optimal.

Perilaku dan Hasil Organisasional: Efek Domino yang Merugikan

Efek psikologis kesepian punya konsekuensi hilir yang jelas untuk perilaku, performa, dan kesehatan.

Performa Kerja Jadi Berantakan

Kesepian berhubungan negatif dengan performa kerja—baik yang dilaporkan sendiri maupun yang dinilai supervisor. Karyawan yang kesepian:

  • Ditemukan kurang berkomitmen
  • Sering dipersepsikan sebagai kurang approachable
  • Mendapat evaluasi performa yang lebih rendah

Ada juga bukti bahwa kesepian dikaitkan dengan berkurangnya kreativitas di tempat kerja. Padahal di era sekarang, kreativitas jadi salah satu aset paling berharga.

Perilaku Kontraproduktif Meningkat

Riset menghubungkan kesepian di tempat kerja dengan level yang lebih tinggi dari perilaku kerja kontraproduktif, termasuk:

  • Cyberloafing (browsing hal-hal nggak penting saat jam kerja)
  • Perilaku internet yang bermasalah
  • Praktik keamanan siber yang lebih buruk
  • Absensi yang lebih tinggi

Kesepian juga dikaitkan dengan berkurangnya kapasitas regulasi diri—yang punya peran kritis dalam mengontrol perhatian, emosi, dan perilaku di tempat kerja. Ketika regulasi diri terganggu, karyawan bisa kesulitan tetap fokus dan mengelola respons emosional secara efektif.

Kesehatan Fisik dan Mental Terancam

Kesepian secara konsisten terkait dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk. Di antara orang dewasa yang bekerja, kesepian dikaitkan dengan tekanan psikologis, sementara penelitian yang lebih luas menunjukkan bahwa kesepian berhubungan dengan kesulitan kesehatan mental.

Bayangin aja: lo datang ke kantor setiap hari merasa sendirian, pulang juga merasa sendirian. Lama-lama ini bisa jadi bom waktu buat kesehatan lo—baik fisik maupun mental.

Cara Mengurangi Kesepian di Tempat Kerja: Solusi Berbasis Riset

man stressed while working on laptop picture id1022030402

Kabar baiknya, ada beberapa pendekatan berbasis bukti yang bisa mengurangi kesepian kalau diterapkan dengan thoughtful.

1. Sediakan Dukungan Sosial yang Terstruktur

Memberikan dukungan sosial adalah salah satu cara paling andal untuk mengurangi kesepian, terutama bagi orang yang sudah berisiko tinggi. Yang efektif:

  • Peer mentoring — punya mentor sebaya yang bisa diajak ngobrol
  • Group-based support — kelompok dukungan di kantor
  • Kesempatan terstruktur untuk terhubung — misalnya coffee break mingguan atau lunch & learn session

Strategi-strategi ini efektif karena menciptakan lingkungan aman di mana hubungan bisa berkembang secara natural.

2. Bangun Keterampilan Sosial

Kesepian nggak selalu soal kurangnya kesempatan; kadang ini juga mencerminkan kesulitan dalam memulai atau mempertahankan koneksi sosial.

Intervensi yang memperkuat keterampilan interpersonal—seperti komunikasi dan membangun hubungan—bisa mengurangi kesepian dengan membantu orang merasa lebih percaya diri tentang interaksi sosial di tempat kerja.

Ini penting banget, terutama buat generasi yang tumbuh di era digital dan mungkin kurang terlatih dalam interaksi tatap muka.

3. Volunteering: Aktivitas Pro-Sosial yang Bermakna

Volunteering muncul sebagai strategi yang sangat menjanjikan untuk mengurangi kesepian. Terlibat dalam aktivitas pro-sosial yang bermakna di luar peran inti seseorang bisa:

  • Memperkuat ikatan sosial
  • Meningkatkan perasaan terhubung
  • Memberikan sense of purpose yang lebih besar

Ini menjadikannya komponen berharga dari strategi organisasional yang lebih luas.

4. Mindfulness: Putus Pola Pikir Negatif

Ada bukti yang berkembang bahwa pendekatan berbasis mindfulness bisa mengurangi kesepian dengan menargetkan pola pikir yang nggak membantu, seperti self-talk negatif dan ekspektasi pesimistis tentang orang lain.

Dengan mendorong kesadaran yang fokus pada saat ini, mindfulness bisa membantu mengganggu pola-pola ini dan mendukung keterlibatan sosial yang lebih adaptif.

Mendesain Ulang Cara Kerja: Bukan Cuma Soal Produktivitas

Prevalensi kesepian di tempat kerja memunculkan pertanyaan yang lebih dalam tentang jenis tempat kerja seperti apa yang sedang kita ciptakan.

Lingkungan yang secara konsisten memberi reward pada kecepatan, output, dan ketersediaan konstan tanpa perhatian yang setara pada koneksi bisa secara nggak sengaja menumbuhkan isolasi—bahkan di antara karyawan yang sangat capable dan committed.

Ciptakan Tempat Kerja yang Memungkinkan Orang "Belong" Sekaligus Perform

Penting banget bagi employer untuk mendesain tempat kerja yang memungkinkan orang untuk belong sekaligus perform. Cara yang bisa dilakukan:

Program Dukungan Sebaya

  • Buddy system untuk karyawan baru
  • Kelompok interest yang difasilitasi perusahaan
  • Forum sharing informal

Ritual Tim Kolaboratif

  • Weekly check-in yang nggak cuma soal pekerjaan
  • Team bonding activities yang meaningful
  • Celebration of wins bersama

Kesempatan untuk Mindful Focus

Structuring kerja dengan sengaja untuk memasukkan elemen-elemen ini bisa memperkuat koneksi sosial sambil juga meningkatkan engagement dan performa.

Work from Home: Menambah atau Mengurangi Kesepian?

Signs of Employee Depression

Di Indonesia, terutama pasca pandemi, model kerja hybrid dan WFH makin populer. Tapi ini juga punya implikasi terhadap kesepian di tempat kerja.

Buat sebagian orang, WFH bisa mengurangi stres commuting dan memberikan fleksibilitas. Tapi buat yang lain, WFH justru bisa meningkatkan perasaan terasing—terutama kalau tinggal sendirian atau nggak punya struktur sosial yang kuat di luar kerja.

Tips untuk Remote Workers:

  • Tetap maintain komunikasi regular dengan tim
  • Manfaatkan video call, bukan cuma chat
  • Join virtual coffee breaks atau hangout sessions
  • Kalau memungkinkan, work from café atau coworking space sesekali

Investasi pada Koneksi Adalah Investasi pada Kesehatan dan Produktivitas

Organisasi yang serius menghadapi masalah kesepian di tempat kerja bukan cuma merespons masalah sosial—mereka berinvestasi pada cara kerja yang lebih sehat dan lebih resilient.

Kesehatan mental di tempat kerja bukan lagi nice-to-have, tapi necessity. Dan kesepian adalah salah satu aspek yang sering diabaikan tapi punya dampak massif.

Jadi, apakah kantormu sudah cukup peduli soal ini? Apakah ada ruang buat orang untuk nggak cuma bekerja, tapi juga terhubung secara genuine?

Kalau belum, mungkin saatnya mulai percakapan ini—baik sebagai karyawan maupun employer. Karena pada akhirnya, kita semua butuh merasa belong, nggak cuma perform.


Sumber Bacaan:

Diterjemahbebas dari artikel: "Loneliness at work matters more than we think", oleh Julie McCarthy.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!