Skip to main content

Kenapa "Banyak Baca" Adalah Saran Berpikir Paling Underrated yang Ada

Membaca dan menulis bukan dua hal terpisah — keduanya adalah satu loop kognitif yang melahirkan ide orisinal. Pelajari mengapa membaca luas adalah kunci berpikir lebih dalam dan menulis lebih tajam.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Membaca Dalam
Ilustrasi Membaca Dalam

Membaca bukan cuma persiapan sebelum menulis. Bersama-sama, membaca dan menulis adalah cara kita berpikir — dan melahirkan ide-ide paling orisinal yang kita miliki.

 

DAFTAR ISI

Poin-Poin Utama

  • Menulis bukan sekadar menuangkan pikiran yang sudah jadi. Menulis adalah proses di mana ide-ide yang masih kabur bisa diuji, diklarifikasi, dan ditransformasi.
  • Membaca secara luas menyediakan "bahan baku" bagi pikiran kita — dari situlah ide-ide orisinal lahir melalui kombinasi, analogi, dan refleksi mendalam.
  • Membaca saat sedang menulis tidak mengencerkan suara kita sebagai penulis. Justru sebaliknya: memperkuatnya.

Dua Hal yang Tidak Bisa Ditawar

"Kalau kamu mau jadi penulis, ada dua hal yang harus kamu lakukan di atas segalanya: banyak membaca dan banyak menulis. Tidak ada jalan pintas untuk dua hal ini, setahuku. [...] Kamu harus membaca secara luas, terus-menerus memperhalus (dan mendefinisikan ulang) pekerjaanmu seiring jalan. [...] Kalau kamu tidak punya waktu untuk membaca, kamu tidak punya waktu — atau alat — untuk menulis. Sesederhana itu." — Stephen King, On Writing (2000)

Bagi banyak orang, ini adalah satu nasihat terbaik yang pernah ditulis Stephen King. Dan itu bukan nasihat eksklusif buat para novelis. Siapa pun yang ingin mengekspresikan idenya lewat tulisan — blogger, jurnalis, content writer, bahkan kamu yang suka nulis caption panjang di Instagram — butuh ini.

Betapa mendasarnya nasihat ini, sampai-sampai penulis-penulis besar lain pun berkata hal yang sama. William Faulkner punya versinya yang paling sering dikutip: "Bacalah semuanya — sampah, klasik, yang bagus maupun yang jelek, dan perhatikan bagaimana mereka melakukannya. Seperti seorang tukang kayu yang magang dan belajar dari sang master. Baca!"

Tapi favorit pribadi penulis asli artikel ini adalah versi Terry Pratchett: "Bacalah dengan mindset seorang tukang kayu yang sedang melihat pohon."

Tentu, manfaat membaca sudah banyak diketahui: konsentrasi meningkat, empati bertumbuh, stres berkurang. Tapi bukan itu yang dimaksud para penulis besar ketika mereka menganjurkan kebiasaan membaca yang rakus.

Ada yang lebih dalam dari itu.


Membaca Adalah Bagian dari Menulis — Bukan Sebelumnya

improve reading comprehension

Margaret Atwood, dalam Second Words (1984), menulis begini: "Proses membaca adalah bagian dari proses menulis — penyelesaian yang diperlukan, tanpanya tulisan hampir tidak bisa dikatakan benar-benar ada."

Annie Proulx merangkumnya lebih singkat: "Tulisan lahir dari bacaan. Dan bacaan adalah guru terbaik tentang cara menulis."

Para penulis ini sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar memperkaya kosakata atau mempelajari struktur kalimat. Mereka bilang: membaca menyediakan bahan baku untuk berpikir di atas kertas. Membaca dan menulis bukan dua aktivitas terpisah — keduanya membentuk satu loop kognitif yang utuh. Dan hanya dengan menjalankan keduanya, kita bisa mengubah gagasan-gagasan kabur yang bergentayangan di kepala menjadi ide-ide orisinal yang nyata di atas halaman.


Salah Paham yang Sudah Terlalu Lama Beredar

Anehnya, para penulis besar itu merasa perlu mengingatkan sesama penulis untuk… membaca. Kenapa?

Mungkin karena ada beberapa kesalahpahaman yang sudah terlalu lama dibiarkan berkeliaran.

Kesalahpahaman pertama: membaca dan menulis adalah dua hal yang berlawanan.

Kita terbiasa melihat membaca sebagai aktivitas pasif — menerima. Menulis adalah aktif — memberi. Seolah-olah kata-kata hanyalah modem mental yang memindahkan informasi dari satu kepala ke kepala lain. Pandangan ini kemungkinan besar lahir dari pengalaman sekolah kita: baca teks, lalu tulis untuk membuktikan kamu paham. Membaca adalah persiapan ujian. Menulis adalah hasil tesnya.

Tidak heran banyak orang dewasa yang masih memandang dua hal ini secara terpisah.

Kesalahpahaman kedua: membaca saat menulis sama dengan nyontek.

Ada keyakinan bahwa ide yang benar-benar orisinal harus lahir dari keheningan total. Bahwa kalau kamu membaca karya orang lain saat sedang menulis, kamu sedang "mencemari" ide-idemu sendiri. Ini adalah versi romantis dari penulis yang mengurung diri di kamarnya, menulis mahakarya dalam satu sprint tiga hari tanpa tidur — hanya dipandu oleh kejeniusan dan sebotol minuman pilihan.

Tapi kesalahpahaman ini persis ada di sini: menjauhkan diri dari pengaruh luar bukan satu-satunya cara untuk menghasilkan karya yang orisinal.

Orkestra Intelektual

deep reading

Zadie Smith, salah satu penulis kontemporer paling disegani, punya cara pandang yang berbeda — dan jauh lebih menarik.

"Meja kerjaku dipenuhi novel-novel yang terbuka. Aku membaca beberapa baris untuk menyelami sensibilitas tertentu, untuk menyentuh nada yang tepat, untuk mempertajam ketika aku terlalu sentimental, untuk membawa kelenturan verbal ketika aku terlalu kaku secara sintaksis."

Zadie membandingkan pendekatan ini dengan musisi yang ingin "mendengar setiap anggota orkestra." Seorang pemain biola yang bermain bersama tiupan melodi dan dentuman perkusi musisi lain bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih kaya daripada satu instrumen sendirian. Dan bacaan, kata Zadie, adalah orkestra intelektual seorang penulis.

Dari sudut pandang ini, orisinalitas bukan soal isolasi. Orisinalitas adalah sintesis — berbagai suara dan ide yang bertemu dan membentuk sesuatu yang baru.

Salah satu "konduktor" orkestra Zadie adalah John Keats, penyair Romantik Inggris. Siapa pun yang akrab dengan puisi-puisinya bisa melihat pengaruh Shakespeare dan Spenser di sana. Dari karya-karya mereka, Keats belajar mengekspresikan dan mentransformasi idenya lewat permainan frasa, metafora yang menerangi, dan asonansi yang mengalir. Tapi tidak ada yang bisa bilang karya Keats jadi kurang orisinal karenanya.

"Dia tidak pernah takut pada pengaruh — dia melahap pengaruh. Dia ingin belajar dari mereka, bahkan dengan risiko suara mereka menenggelamkan suaranya sendiri." — Zadie Smith tentang Keats


Menghubungkan Titik-Titik yang Tampak Tidak Berkaitan

Sejarah penuh dengan contoh para pemikir besar yang menyedot pengaruh dari sumber-sumber yang tampak tidak berhubungan sama sekali.

  • Mary Shelley menggabungkan fiksi Gothic, mitologi Yunani, dan ilmu galvanisme — sains mutakhir di zamannya — untuk menulis Frankenstein (1818).
  • Ursula K. Le Guin dalam The Left Hand of Darkness (1969) memadukan minatnya seumur hidup pada antropologi dan Taoisme dengan kisah kontak alien.
  • Octavia Butler menghubungkan biologi, mitologi, sosiologi, dan sejarah kolonialisme untuk melahirkan Lilith's Brood (1987–89).

Pengaruh-pengaruh ini tampak jelas kalau kamu sudah membaca karyanya. Tapi justru dalam gaya orkestra — pertemuan ide dan suara yang beragam itulah — sesuatu yang benar-benar baru tercipta.

Dan ini bukan cuma berlaku untuk fiksi.

Darwin dan Orkestra Ilmiahnya

Ambil contoh Charles Darwin dan On the Origin of Species (1859). Darwin tidak tiba-tiba menemukan evolusi dalam sebuah momen eureka di Kepulauan Galápagos. Ide itu sudah mengambang di tengah masyarakat akademik Victoria.

Georges Cuvier sudah membuktikan kepunahan sebagai kenyataan dalam sejarah alam. Jean-Baptiste Lamarck sudah mengembangkan teori perubahan spesies melalui sifat yang diwariskan. Bahkan kakek Darwin sendiri, Erasmus Darwin, sudah menyelipkan benih gagasan evolusioner dalam sebuah puisi.

Kontribusi Darwin adalah mengembangkan teori evolusi melalui seleksi alam — menemukan mekanisme fundamental yang menjelaskan bagaimana spesies berubah seiring waktu. Dan dia berhasil melakukannya bukan hanya karena kejeniusannya, tapi juga karena dia mendengarkan anggota orkestra lainnya:

  • Charles Lyell, The Principles of Geology (1830–33) — memberikan Darwin teori sejarah geologis yang membuat teorinya sendiri bisa bekerja.
  • Thomas Malthus, An Essay on the Principle of Population (1798) — sebuah esai ekonomi yang justru mendorong Darwin berpikir tentang perjuangan untuk bertahan hidup dan bereproduksi.
  • William Paley, Natural Theology — menginspirasi Darwin untuk mengagumi bentuk-bentuk spesies dan bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungannya — meski keduanya sampai pada kesimpulan yang sangat berbeda.

Seperti yang Philip Pullman rangkum dengan jujur dan lucu:

"Ketika aku membaca, aku sedang mencari sesuatu untuk kucuri. [...] Pembaca sering bertanya, 'Dari mana kamu mendapat ide?' Kujawab: 'Kita semua punya ide setiap saat. Tapi aku sedang waspada mencarinya. Kamu tidak.'"


Menulis Adalah Berpikir — Bukan Sekadar Melaporkan Pikiran

Bahkan dengan seluruh orkestra itu, Darwin tidak serta-merta memindahkan teori evolusi dari kepalanya ke halaman begitu saja. Dia mengasah dan memperhalus teorinya melalui korespondensi yang ekstensif dan proses menulis On the Origin itu sendiri.

Bagi Darwin — dan bagi para penulis hebat lainnya — membaca dan menulis bukan aktivitas yang terpisah. Keduanya membentuk jenis kognisi yang diperluas.

William Zinsser, dalam Writing to Learn (1988), menjelaskan:

"Menulis mengorganisasi dan memperjelas pikiran kita. Menulis adalah cara kita berpikir menuju suatu subjek dan menjadikannya milik kita. Menulis memungkinkan kita menemukan apa yang kita tahu — dan apa yang tidak kita tahu — tentang apa pun yang sedang kita pelajari."

Zinsser berargumen bahwa menulis bukan sekadar menuangkan pikiran ke halaman. Justru tindakan menulis itu sendiri adalah tindakan berpikir.

Karena menulis adalah aktivitas fisik — baik dengan word processor maupun pena di atas kertas — ia memberi pikiran kita bentuk yang bisa kita interaksikan. Melihat sebuah pikiran tertulis di halaman bisa memberi tahu kita di mana pemahaman kita masih kabur, di mana logika kita berlubang, atau di mana kita perlu memeriksa fakta. Proses ini pula yang memungkinkan kita membentuk pikiran — mempertajam kalimat, mereorganisasi struktur, memperhalus ekspresi.

Dan yang paling penting: proses ini tidak hanya membuat ide kita lebih rapi di atas kertas. Ia mentransformasi ide-ide itu. Itulah makna di balik ungkapan yang sering diucapkan para penulis: "Satu-satunya jenis tulisan adalah tulisan ulang."

Membaca Bukan Hanya untuk Penulis

Zinsser percaya bahwa siswa — dan semua orang — seharusnya diwajibkan untuk membaca dan menulis lintas disiplin. Matematikawan yang bisa mempresentasikan solusi rumusnya, antropolog yang bisa menjelaskan teorinya, teoretikus musik yang bisa mengurai kerangka berpikirnya lewat tulisan — mereka tidak hanya akan mengajarkan pembacanya. Dalam prosesnya, mereka akan lebih memahami subjeknya sendiri, dan menemukan ide-ide baru untuk dikejar.

Seperti yang Zinsser tulis dalam On Writing Well (1976):

"Aku menggunakan tulisan untuk memberi diriku kehidupan yang menarik dan pendidikan yang terus berlanjut. Jika kamu menulis tentang hal-hal yang kamu pikir akan kamu nikmati untuk diketahui, kegembiraanmu akan tampak dalam tulisanmu. Belajar adalah tonik."


Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Membaca luas dan menulis banyak bukan sekadar saran klise buat anak sastra. Ini adalah strategi kognitif — cara paling efektif untuk berpikir lebih dalam, menghasilkan ide lebih orisinal, dan terus berkembang sepanjang hidup.

Beberapa cara praktis untuk mulai menerapkannya:

  • Baca di luar zona nyamanmu. Buku sains bisa menginspirasi penulis cerita. Sejarah bisa memantik ide bisnis. Puisi bisa mengubah cara kamu berkomunikasi sehari-hari.
  • Tulis saat membaca. Catatan pinggir, jurnal, atau sekadar tulisan pendek tentang apa yang baru kamu baca membantu mengintegrasikan ide-ide itu ke dalam cara berpikirmu.
  • Jangan takut terpengaruh. Orisinalitas bukan berarti menciptakan dari kekosongan. Ia lahir dari pertemuan berbagai pengaruh yang diolah lewat perspektif unikmu sendiri.
  • Anggap membaca sebagai bagian dari proses berpikir — bukan sekadar hiburan atau persiapan. Karena memang begitulah adanya.

Otak yang Terus Membaca adalah Otak yang Terus Hidup

Kalau kita kembali ke nasihat Stephen King di awal: membaca dan menulis bukan dua hal yang kamu lakukan satu per satu. Mereka adalah satu ekosistem berpikir. Membaca memberi bahan bakar. Menulis membakarnya menjadi cahaya.

Dan bahaya scrolling berlebihan pada otak yang semakin banyak dibicarakan hari ini justru menjadi pengingat bahwa otak kita butuh lebih dari sekadar konsumsi konten cepat. Ia butuh kedalaman. Butuh gesekan dengan ide-ide besar. Butuh proses membaca yang pelan, dan menulis yang penuh niat.

Karena pada akhirnya, seperti yang Terry Pratchett bilang: bacalah dengan mindset seorang tukang kayu yang sedang melihat pohon. Bukan sekadar menikmati pemandangan. Tapi membayangkan apa yang bisa dibangun darinya.


Artikel ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari tulisan Kevin Dickinson, dipublikasikan pada 23 Januari 2026 di Big Think.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!