Skip to main content

Butuh “Whycation”? Saat Fan Tourism Jadi Alasan Jalan-Jalan

Fan tourism dan whycation bukan sekadar liburan ke destinasi hits, tapi perjalanan emosional mendekati dunia fandom yang kamu cintai. Cari tahu kenapa penggila jalan-jalan rela terbang jauh demi pagar, gang kecil, atau rumah fiksi favorit mereka — dan bagaimana whycation bisa bikin kamu merasa “pulang” ke diri sendiri.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Jalan-jalan
Pemandangan perbukitan Hobbiton lokasi syuting Lord of the Rings
Pemandangan perbukitan hijau di Hobbiton, dekat Matamata, New Zealand, lokasi syuting The Lord of the Rings.

Fan tourism lagi naik daun sebagai salah satu alasan orang kabur sejenak dari rutinitas dan mencari jeda hidup.

Orang yang sering jalan-jalan buat senang-senang cenderung merasa lebih bahagia dibanding mereka yang jarang atau nggak pernah traveling sama sekali. Tapi, kenapa bisa begitu? Beberapa artikel riset terbaru menunjukkan bahwa buat banyak orang, traveling itu bukan cuma soal mau ke mana, tapi kenapa berangkat.

Alih-alih ngejar satu destinasi tertentu, banyak wisatawan yang justru mencari:

  • pelarian dari rutinitas,

  • rasa punya tujuan hidup,

  • dan identitas baru atau versi diri yang lain.

Perjalanan selalu identik dengan perubahan. Saat kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kita juga diam-diam menggeser cara pandang terhadap diri sendiri. Ketika kamu berada di tempat yang berbeda, kamu sering merasa jadi orang yang berbeda juga — dan itu rasanya sangat membebaskan.

Survei Ipsos untuk Hilton menemukan bahwa para pelancong sekarang jauh lebih sering mikirin “why” (kenapa mereka pergi) dibanding “where” (mereka pergi ke mana). Hilton sampai menjuluki tahun 2026 sebagai “tahun Whycation” — liburan yang digerakkan oleh “kenapa”, bukan sekadar “di mana”.

Di sinilah fan tourism pelan-pelan mencuri panggung.

DAFTAR ISI

Fan Tourism: Dari Fandom ke Boarding Gate

Pada dasarnya, pariwisata selalu soal mendekat ke sesuatu yang kita cintai. Buat sebagian orang, itu berarti pantai tropis, gunung berkabut, atau kota tua penuh sejarah. Tapi buat seorang fan, surga itu bisa berarti kunjungan ke Graceland, jalan-jalan menyusuri lokasi syuting film ikonik, atau foto di depan gedung yang dipakai sebagai markas Ghostbusters.

Sudah sejak lama, dunia fans dan dunia jalan-jalan saling beririsan. Fans rela menempuh ribuan kilometer untuk:

  • datang ke konvensi (comic con, fan con, dan sejenisnya),

  • nonton konser idola,

  • menyaksikan pertandingan olahraga,

  • atau sekadar mengunjungi lokasi-lokasi yang pernah “dilewati” tokoh favorit mereka.

Kadang tempat-tempat ini bukan destinasi wisata dalam arti tradisional — bukan destinasi “brosur agen travel” — tapi justru sangat masuk akal kalau kita pakai kacamata Whycation.

Secara akademis, fan tourism didefinisikan sebagai rangkaian praktik ekspresif yang membuat para fans bepergian ke destinasi yang terkait dengan fandom mereka (Lexhagen dkk., 2023). Dengan kata lain: kalau kamu rela naik pesawat hanya untuk datang ke stadion, lokasi syuting, atau jalan kecil yang muncul 3 detik di drama favoritmu, selamat datang di dunia fan tourism.

Contohnya?
Sebuah artikel di The Korea Economic Daily menyebut bahwa para fans BTS dan mereka yang melakukan “K-Pop Pilgrimage” ke Seoul — mengunjungi kafe, restoran, dan spot yang pernah disinggahi para idol — membantu melipatgandakan omzet restoran dan membuat hotel-hotel full booking. Dunia hospitality jelas nggak bisa pura-pura nggak lihat fenomena ini.

Media mainstream seperti Architectural Digest juga menangkap tren serupa, mengulas bagaimana rumah keluarga di film Home Alone dan gedung pemadam kebakaran ikonik di Ghostbusters jadi magnet wisata penggemar.

Bahkan ada blog khusus yang fokus ke fan tourism, seperti Fangirl Quest, yang mempopulerkan foto “sceneframing”: mereka memegang still image dari salah satu adegan film/series di depan lokasi asli, lalu memotretnya sehingga dunia fiksi dan dunia nyata nyatu dalam satu frame.

Buat para fans, momen seperti ini priceless.

Keterikatan emosional yang kuat terhadap media atau selebriti favorit seringkali mirip dengan jenis hubungan keterikatan (attachment relationship). Ada dorongan untuk merasa dekat — termasuk secara fisik. Kita memang nggak bisa benar-benar berdiri di sebelah Frodo, tapi berdiri di lokasi syuting Lord of the Rings di Selandia Baru bisa memberi sensasi “hampir sampai sana”. Kita nggak bisa lagi menyaksikan John Lennon tampil live, tapi mengunjungi rumah tempat ia lahir dan tumbuh besar bisa jadi cara untuk merasa lebih dekat dengannya hari ini.

Ketika Fan Travel Terasa Seperti Pulang Kampung

Zebra cross Abbey Road yang ikonik di London

Gambar: Zebra cross di depan Abbey Road Studios, London, yang terkenal lewat sampul album Abbey Road The Beatles.

Lewat passion para fans, situs-situs dunia nyata ini pelan-pelan berubah jadi semacam arena karnaval, di mana kreativitas dan imajinasi bekerja tanpa batas. Batas antara yang nyata dan yang mitos jadi kabur.

Fans datang membawa memori mereka tentang dunia fiksi yang sudah begitu akrab di kepala. Saat tiba di lokasi nyata, mereka melihat tempat itu lewat “filter fandom” mereka sendiri. Halaman biasa jadi terasa sakral. Jalanan kecil jadi penuh makna. Jembatan, pagar, bahkan tembok yang sebenarnya biasa aja bisa mendadak punya “spark” kalau ada adegan penting yang terjadi di sana — baik di dunia nyata maupun di layar.

Perjalanan ini memberi kesempatan buat fans untuk meninggalkan hidup sehari-hari mereka dan masuk ke semacam ruang liminal — zona “antar” di mana mereka bisa bermain, bereksperimen, dan jadi versi diri yang lebih bebas.

Banyak fans yang merasa senang hanya dengan berdiri di tempat yang sebelumnya cuma mereka lihat di layar, lalu mengambil foto diri mereka di sana. Ada yang:

  • foto di tangga yang sama seperti karakter favoritnya,

  • re-enact adegan penting,

  • atau bikin mini “fan project” bareng teman-teman fandom.

Secara nggak langsung, mereka menuliskan diri mereka ke dalam cerita itu. Mereka bukan lagi penonton pasif, tapi “figuran emosional” di dalam narasi yang mereka cintai.

Yang menarik, rasa koneksi ini seringkali bukan terutama dengan fans lain, tapi dengan cerita dan karakter itu sendiri. Banyak fans menggambarkan pengalaman ini sebagai sensasi “pulang” — padahal mereka sedang berada di tempat yang sama sekali baru. Aneh tapi familiar. Jauh tapi dekat.


Fan Pilgrimage: Ketika Tempat Biasa Jadi “Sakral”

Jenis perjalanan seperti ini sering disebut sebagai fan pilgrimage — ziarah fans. Saat fans mengunjungi tempat yang bagi mereka sarat makna, mereka secara sementara mengganti identitas lokasi itu: yang tadinya cuma titik biasa di peta, naik level jadi simbol sesuatu yang sangat dicintai.

Sosiolog Émile Durkheim menyebut “yang sakral” sebagai sesuatu yang dipisahkan dan dianggap kuat, transenden, dan berbeda dari hal-hal duniawi biasa. Yang sakral ini menjadi sumber makna, nilai, dan tujuan hidup.

Seorang peziarah — entah itu religius atau sekuler — meninggalkan dunia normal dan melakukan perjalanan menuju ruang liminal, di mana ia “berjumpa” dengan sesuatu yang sakral tersebut. Setelah itu, ia kembali ke kehidupan sehari-hari, tapi seringkali dengan identitas dan pemahaman diri yang sedikit (atau sangat) berubah.

Dalam konteks fan pilgrimage, perjalanan ini bukan cuma perpindahan dari titik A ke titik B di peta. Ini juga perjalanan dari satu versi diri ke versi diri yang lain.

Menariknya, fan pilgrimage juga mirip dengan ziarah religius dalam hal keinginan untuk “meninggalkan jejak”. Fans cenderung:

  • menulis pesan atau nama mereka di dinding,

  • meninggalkan catatan kecil,

  • atau menaruh benda-benda simbolik di lokasi yang dianggap penting.

Contohnya:

  • Fans The Beatles menuliskan nama mereka di dinding di luar Abbey Road Studios.

  • Fans Sherlock Holmes menulis pesan di call box dekat St. Barts Hospital.

  • Ketika Star Trek Experience (rekonstruksi fisik kapal ikonik untuk dikunjungi fans) ditutup oleh Las Vegas Hilton, fans yang patah hati menutupi dinding dengan pesan tentang betapa berarti pengalaman itu bagi hidup mereka.

Semua itu mengubah tempat yang tadinya biasa aja jadi situs yang signifikan — penuh lapisan makna.

“Ada Pagar Itu, Kita Harus ke Sana!”: Fan Pilgrimage yang Sangat Personal

Penulis aslinya, Lynn Zubernis, juga bersaksi soal betapa emosionalnya fan pilgrimage. Ia bercerita pernah bergabung dengan beberapa fans Supernatural lain untuk mencari sebuah pagar nondeskriptif di tepi sungai — hanya karena di situlah Sam dan Dean Winchester pernah punya percakapan yang sangat penting di salah satu episode.

Mencari pagar itu butuh waktu sampai lewat tengah malam, lengkap dengan momen canggung saat harus menjelaskan ke polisi apa yang sebenarnya mereka lakukan di area itu. Kedengarannya absurd, tapi buat mereka, semua usaha itu terasa sepadan.

Mereka pun kembali lagi ke tempat yang sama di siang hari, semata-mata untuk mengulang adegan itu dan… nangis bareng lagi.

Kalau kamu bukan bagian dari fandom tersebut, mungkin semua ini terdengar berlebihan. Tapi kalau kamu pernah:

  • sengaja mampir ke kafe yang dipakai syuting drama favorit,

  • bela-belain ke stadion klub bola kesayanganmu meski lagi nggak ada pertandingan,

  • atau sengaja lewat di depan rumah idola yang cuma kelihatan di belakang pohon

…kamu pasti ngerti perasaan “nyari pagar tengah malam” ini.


Fan Tourism: Rezeki Destinasi, PR bagi Warga Lokal

Fan tourism sekarang makin diakui sebagai pasar wisata yang sangat potensial. Banyak destinasi yang menyambut kehadiran fans dengan tangan terbuka — karena jelas: ada uang yang bergerak. Hotel terisi, restoran ramai, toko suvenir laku keras.

Kunjungan para fans:

  • menaikkan citra destinasi,

  • menciptakan narasi baru yang bikin orang lain pingin datang,

  • dan memperpanjang “umur wisata” sebuah kota atau lokasi yang tadinya tidak terlalu populer.

Namun di sisi lain, ada juga tempat-tempat yang merasa terganggu dengan lonjakan wisatawan ini. Terutama ketika:

  • kapasitas lingkungan dan infrastruktur tidak siap,

  • warga lokal merasa privasinya terganggu,

  • atau perilaku fans melampaui batas sopan santun.

Fenomena ini mirip banget dengan masalah overtourism pada umumnya. Bedanya, di fan tourism, pemicunya bukan “tempat cantik” melainkan “cerita dan karakter” yang bikin tempat itu tiba-tiba viral.

Meski begitu, selama fans tetap punya investasi emosional yang kuat terhadap media dan selebriti yang mereka cintai, keinginan untuk mendekat secara fisik ke lokasi-lokasi yang bisa menghadirkan rasa koneksi itu akan terus jadi bahan bakar kuat untuk Whycation berikutnya.


Apakah Kamu Butuh Whycation?

Jadi, buat kamu para penggila jalan-jalan, pertanyaannya sederhana tapi agak nyelekit:
Kapan terakhir kali kamu jalan-jalan bukan cuma karena tiket lagi promo, tapi karena kamu tahu persis kenapa kamu berangkat?

Whycation bisa jadi:

  • cara untuk keluar dari rutinitas yang bikin kamu ngerasa stuck,

  • momen untuk reconnect dengan bagian diri yang sempat “ketumpuk tagihan dan deadline”,

  • atau kesempatan buat “pulang” ke dunia fiksi dan fandom yang selama ini menemani hidupmu diam-diam.

Kalau kamu merasa:

  • capek tapi nggak tahu capeknya dari mana,

  • hidup terasa jalan di tempat,

  • atau kamu butuh sesuatu yang bikin hati berbinar lagi,

mungkin saatnya mempertimbangkan fan tourism sebagai bentuk self-care versi penggila jalan-jalan.

Cara Sederhana Merencanakan Whycation ala Penggemar

Kerumunan wisatawan menonton aksi street performer

Gambar: Kerumunan wisatawan berkumpul di area publik untuk menonton atraksi seorang street performer.

Kalau kamu pingin mulai, beberapa langkah kecil ini bisa membantu:

  1. Mulai dari fandom yang paling bikin kamu “hidup”
    Apakah itu K-Pop, anime, film klasik, serial kriminal, komik, atau novel fantasi? Pilih satu yang benar-benar bikin matamu berbinar setiap kali ngobrol soal itu.

  2. Cari lokasi yang punya makna emosional
    Bisa berupa:

    • lokasi syuting,

    • museum atau rumah masa kecil tokoh,

    • kafe, jalan, atau taman yang muncul di video klip,

    • atau sekadar kota yang jadi “kampung halaman” fandom tersebut.

    Banyak blog fan tourism, akun Instagram fandom, maupun artikel panduan wisata tematik yang bisa membantu kamu memetakan lokasi-lokasi ini.

    Rencanakan “ritual kecil” di sana
    Misalnya:

    • foto “sceneframing” ala Fangirl Quest,

    • re-enact adegan penting bareng teman,

    • menulis pesan kecil (kalau memang diperbolehkan),

    • atau sekadar duduk diam, menikmati suasana sambil memutar OST favorit di headphone.

  3. Hormati ruang dan orang-orang di dalamnya
    Ingat, buatmu ini mungkin tempat sakral, tapi buat orang lain ini cuma rumah, kantor, atau jalan yang mereka lewati tiap hari. Taat aturan, jaga kebersihan, dan jangan sampai bikin warga lokal sebel.

  4. Bawa pulang lebih dari sekadar foto
    Catat perasaanmu. Apa yang berubah setelah perjalanan ini? Apakah kamu merasa lebih “nyambung” dengan diri sendiri? Apakah kamu pulang dengan sense of purpose yang sedikit lebih jelas?

Kalau jawabanmu “iya”, berarti whycation-mu berhasil.


Poin-Poin Utama tentang Fan Tourism dan Whycation

  • Keterikatan emosional yang kuat terhadap karakter dan selebriti menciptakan keinginan untuk merasa dekat — termasuk melalui perjalanan fisik.

  • Perjalanan ke lokasi yang penting bagi fandom membantu fans merasa menjadi bagian dari cerita, dan itu bisa jadi sumber makna dan identitas.

  • Banyak fans menggambarkan fan pilgrimage sebagai rasa pulang ke tempat yang baru namun terasa familiar, berkat cerita yang sudah lama mereka bawa dalam kepala dan hati.

  • Lokasi yang mungkin terlihat biasa untuk orang lain diinvestasi dengan simbolisme yang sakral dan spesial oleh para fans, tanpa mengubah bentuk fisiknya, tapi mengubah maknanya.

  • Fan tourism semakin dipandang sebagai pasar pariwisata yang menguntungkan, meski juga membawa tantangan baru soal kenyamanan warga lokal dan daya dukung lingkungan.


Daftar Referensi

Brooker, W. (2007). Everywhere and nowhere: Vancouver, fan pilgrimage and the urban imaginary. International Journal of Cultural Studies, 10(4), 423–444.

Lexhagen, M., Ziakas, V., & Lundberg, C. (2023). Popular culture tourism: Conceptual foundations and state of play. Journal of Travel Research, 62(7), 1391–1410.

Toy, J. Caroline. (2017). Constructing the fannish place: Ritual and sacred space in a Sherlock fan pilgrimage. Journal of Fandom Studies, 5(3), 251–266.

Chen, C., et al. (2020). Would you be more satisfied with your life if you traveled more frequently? Tourism Analysis, 26(1), 57–63.

MacCannell, D. (1999). The Tourist: A New Theory of the Leisure Class. University of California Press.

Urry, J., & Larsen, J. (2011). The Tourist Gaze 3.0. SAGE Publications.


Atribusi

Artikel ini merupakan adaptasi dan pengembangan bebas dari tulisan Lynn Zubernis Ph.D. dan Gary Drevitch berjudul “Need a ‘Whycation’?” yang terbit di blog The Science of Fandom di Psychology Today pada 22 November 2025.

Sumber asli: Lynn Zubernis, Ph.D. & Gary Drevitch, 22 November 2025 (Need a “Whycation”?, Psychology Today).


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!