Wisata Kopi Vietnam: Budaya Ngopi, Phin, dan Egg Coffee
Jelajahi budaya kopi Vietnam: phin yang pelan tapi nendang, cà phê sữa đá, egg coffee, hingga coffee trail dan cocktail kopi di Hanoi–Hoi An.
Kopi itu lucu: di satu sisi ia “cuma” minuman, tapi di sisi lain ia bisa jadi ritual kecil yang bikin hari terasa lebih manusia. Ada yang minum cepat untuk sekadar nyala—ada juga yang sengaja minum pelan, supaya hidup nggak keburu lewat.
Di Italia, orang menikmati un caffè sambil berdiri di bar—cepat, ringkas, seperti salam singkat sebelum berangkat. Di Senegal, para pedagang menjajakan café touba yang pedas dan aromatik di kios pinggir jalan bernama tanganas. Di Mexico City, café de olla membawa wangi kayu manis dan cengkeh—hangatnya kayak selimut tipis saat pagi mendung. Dan di Indonesia, kita punya kopi joss: segelas kopi es yang “disetrum” arang membara—nggak perlu dijelaskan panjang, yang penting sensasinya.
Nah, di Vietnam, kopi bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita panjang tentang bertahan hidup, akal kreatif, dan kebiasaan sosial yang bikin orang betah duduk lebih lama—bukan semata biar melek, tapi biar sempat “hadir”.
DAFTAR ISI
- Sejarah Kopi di Vietnam: Dari Misi Prancis sampai Dataran Tinggi
- Budaya Ngopi Vietnam: Minum untuk Duduk, Bukan Sekadar Bangun
- Hanoi: Kota yang Serius Soal Kopi (Dan Punya Banyak Kejutan)
- Kopi Naik Kelas: Coffee-Infused Cocktails di Atas Kota
- Da Nang: Santai, Apa Adanya, dan Pagi yang Panjang
- Hoi An: Lampion, Gang Pejalan Kaki, dan Coconut Coffee yang Bikin Betah
- Saat Kopi Menjadi Lambang Daya Tahan dan Harapan
- Referensi Eksternal
Sejarah Kopi di Vietnam: Dari Misi Prancis sampai Dataran Tinggi

Di balik setiap cangkir yang khas, selalu ada jejak sejarah. Vietnam, terutama, punya kisah yang panjang dan unik—tentang bagaimana kopi datang, bertahan, lalu berubah menjadi bagian dari identitas.
Kopi diperkenalkan pertama kali pada tahun 1857 oleh para misionaris Prancis. Pada masa awal, keberhasilan budidaya kopi banyak ditopang para pekerja Vietnam yang menanam dan merawat varietas Arabica. Tapi ada masalah: Arabica kurang “betah” di banyak kondisi iklim Vietnam.
Lalu muncul jawaban yang lebih fleksibel: Robusta. Jenis ini lebih tahan, lebih adaptif, dan akhirnya tumbuh subur—terutama di Central Highlands (Dataran Tinggi Tengah) dan wilayah selatan. Seiring waktu, Vietnam pun berkembang menjadi salah satu raksasa kopi dunia, dengan produksi dan ekspor yang sangat besar.
Selepas Perang Vietnam, kopi punya peran lain: ia menjadi salah satu ekspor utama yang membantu proses pemulihan dan pembangunan ekonomi. Pada era 1980-an, investasi pemerintah pada tanaman kopi ikut mempercepat pertumbuhan produksi. Dari titik itulah, kopi bukan hanya komoditas—tapi juga bagian dari “cara Vietnam bangkit”.
Ketika Keterbatasan Jadi Inovasi: Phin, Susu Kental, dan Kopi Telur
Yang menarik: orang Vietnam tidak berhenti pada “menanam dan menjual”. Mereka menciptakan gaya minum yang benar-benar khas—dan banyak di antaranya lahir dari kebutuhan.
Salah satu ikon terbesarnya adalah phin filter, alat seduh logam kecil yang praktis dan portabel. Cara kerjanya sederhana: kopi menetes pelan, setia pada ritmenya sendiri. Hasilnya tebal, bold, dan sedikit smoky—karakter yang terasa “mantap” dari robusta.
Lalu ada kisah susu. Karena susu segar tidak selalu mudah didapat (terutama setelah perang), susu kental manis menjadi solusi yang lebih tersedia. Dari sinilah lahir salah satu minuman paling terkenal: cà phê sữa đá, kopi susu dingin yang manis, kuat, dan cocok dengan cuaca tropis.
Ketika susu makin langka pada 1940-an, kreativitas menemukan jalannya: orang mengocok kuning telur dengan gula untuk menciptakan egg coffee (kopi telur) yang kini ikonik. Dan karena Vietnam kaya akan pohon-pohon tropis, variasi lain ikut muncul: coconut coffee (kopi kelapa) yang creamy, segar, dan menyenangkan untuk dinikmati pelan-pelan.
“Kami selalu mengambil apa yang terbatas atau yang melimpah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang mudah diingat,” kata Helen Le, influencer kuliner Vietnam dan pendiri Helen’s Recipes.
Kalimat itu terasa seperti ringkasan karakter: kalau bahan terbatas, bukan berarti berhenti—justru jadi alasan untuk menemukan sesuatu yang baru.
-
Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah
-
Jasa Backlink DoFollow Berkualitas Dari Berbagai Topik
-
Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website
-
Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain
-
Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis
Budaya Ngopi Vietnam: Minum untuk Duduk, Bukan Sekadar Bangun

Kalau kamu membayangkan kopi hanya sebagai “bahan bakar”, Vietnam akan mengoreksi kamu dengan halus: di sini, kopi adalah alasan untuk duduk.
Entah kamu berada di Central Highlands yang menanam robusta di dataran tinggi, atau di Ho Chi Minh yang penuh kafe gang dan kedai sudut jalan, minum kopi jelas terasa sebagai ritual komunal. Orang menikmatinya perlahan—sambil ngobrol, menunggu waktu lewat, atau sekadar menonton hidup berjalan tanpa perlu buru-buru ikut berlari.
“Di Vietnam, kopi bukan sekadar minuman—ini gaya hidup dan ritme sosial. Orang tidak selalu minum kopi supaya tetap terjaga; mereka minum kopi supaya bisa duduk,” kata Helen Le.
Kalau di Indonesia kita familiar dengan warkop atau budaya ngopi sore—tempat obrolan kadang lebih penting daripada menu—Vietnam punya energi yang mirip. Kopi sebagai “alasan yang sopan” untuk memperlambat langkah.
Budaya ini juga cepat menarik wisatawan. Apalagi generasi muda dan para pelaku usaha lokal ikut “menata ulang” pengalaman ngopi: dari kualitas biji, proses roasting, hingga suasana kafe. Ada kebanggaan baru yang ingin menunjukkan bahwa kopi Vietnam tidak pantas dipandang sebelah mata.
Cara Menikmati Kopi Vietnam (Biar Nggak Cuma “Lewat”)
Kalau kamu tipe yang biasa minum kopi sambil scroll, ini tantangan kecil yang manis: coba nikmati kopi Vietnam tanpa terburu-buru—setidaknya sekali.
- Duduk dulu. Ini bukan gaya-gayaan. Duduk itu bagian dari pengalaman.
- Biarkan prosesnya pelan. Kalau pakai phin, nikmati tetesannya. Rasanya seperti jam pasir versi kafein.
- Minum untuk merasakan, bukan mengejar efek. Pahit, manis, smoky—semuanya punya cerita.
- Kasih ruang untuk obrolan atau hening. Dua-duanya sama valid.
- Kalau kamu sensitif kafein, pilih porsi kecil, minum lebih awal, dan dengarkan tubuhmu.
Intinya sederhana: kopi di Vietnam bukan sprint. Ia lebih mirip jalan santai sore hari—yang justru sering jadi momen paling “berasa”.
Hanoi: Kota yang Serius Soal Kopi (Dan Punya Banyak Kejutan)

Di Hanoi, kafe ada di mana-mana. Tapi yang bikin menarik: kota ini bukan hanya ramai—ia detail. Kamu bisa menemukan tempat tradisional yang terasa “rumahan”, sampai specialty cafe yang memperlakukan kopi seperti dunia wine: dibahas asalnya, karakter rasanya, bahkan “tanah dan udara” tempat ia tumbuh.
Tran Duc Thang, head barista di Capella Hanoi, merekomendasikan beberapa tempat untuk merasakan ragam kopi lokal:
- Cà phê Nhân — dikenal dengan robusta yang kuat.
- Gạt Tàn Coffee — populer dengan variasi salted caramel.
- XLIII Coffee — specialty cafe yang fokus pada seduhan presisi seperti filter dan single-origin pour-over.
Coffee Trail & Cupping Experience: “Mencicipi Jiwa Kopi”
Untuk pengalaman yang lebih intim, Capella Hanoi menawarkan Coffee Trail & Cupping Experience. Di sini, Thang mengajak tamu memahami lanskap kopi Vietnam dari sisi yang jarang dilihat wisatawan biasa: sejarah, terroir, dan karakter biji dari berbagai daerah.
Mulai dari Son La Arabica yang tumbuh di pegunungan utara yang lembap dan sejuk, sampai typica langka dari Da Lat—salah satu varietas Arabica tertua dan paling dihargai di Vietnam.
“Cupping adalah cara untuk merasakan jiwa kopi—aroma, tekstur, keasaman, dan cerita. Saat tamu mulai bertanya ‘Ini dari mana?’ atau ‘Kenapa rasanya seperti buah?’—di situlah rasa ingin tahu lahir. Itulah tujuan kami,” kata Thang.
Kalau kamu suka pengalaman yang “bikin otak kebuka”, cupping ini semacam kelas rasa—yang membuat kopi tidak lagi sekadar pahit-manis, tapi jadi peta kecil tentang tempat, waktu, dan proses.
-
Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda
-
Berbisnis halal bikin hati tenang. Cek caranya disini!
-
Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik!
-
Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda!
-
Mau Hemat Biaya Transfer Antar Bank dan Isi Saldo e-Wallet?
Kopi Naik Kelas: Coffee-Infused Cocktails di Atas Kota
Masih di Capella, tapi naik ke Hudson Rooms: Head Bartender Nguyen Ngoc Khanh membawa biji kopi yang sama ke dunia mixology. Bukan sekadar “kopi dicampur alkohol”, melainkan ritual yang dibangun serius—seolah satu minuman tidak cukup untuk menceritakan satu biji kopi.
Untuk coffee cocktails, mereka bekerja sama dengan distillery berbasis Hanoi seperti Ve De Di, yang menciptakan coffee liqueur dari biji Dak Lak. Khanh menggunakan robusta Dak Lak untuk memberi kedalaman: bukan cuma rasa kopi, tapi fondasi yang kuat agar rasa lain bisa “berdiri” dengan rapi.
Salah satu minuman favoritnya memadukan espresso Vietnam dengan cold-brew amaro, lalu menggunakan teknik nitrous-shake agar teksturnya halus dan velvety. Tiap gelas jadi bukti: Vietnam pandai menggabungkan tradisi yang kokoh dengan inovasi yang berani.
Da Nang: Santai, Apa Adanya, dan Pagi yang Panjang
Kurang dari dua jam terbang dari Hanoi, Da Nang menawarkan wajah lain budaya kopi Vietnam: lebih rileks, lebih tanpa gaya-gayaan, dan terasa jujur.
“Untuk warga lokal Da Nang, kopi itu simpel: bangku kayu rendah, segelas kecil kopi kuat (hampir seperti shot), dan duduk ngobrol sepanjang pagi. Tanpa ribet, tanpa overstyling—hanya koneksi sehari-hari,” kata Helen Le.
Setelah banyak orang bertanya soal rekomendasi kafe di kota kelahirannya, Le membuat panduan lengkap di Instagram. Di antaranya ada Trình Coffee yang dikenal dengan biji sangrai sendiri dan avocado coffee (disebut cà phê muôi), serta A La Café—kafe kecil di gang yang disayang para penikmat kopi lokal.
Di Da Nang, pengalaman ngopi juga bisa bertemu alam. Di InterContinental Danang Sun Peninsula Resort, peserta dapat belajar menyeduh dan meracik kopi dengan teknik barista berpengalaman—di lokasi yang terkenal dengan lanskap dramatis dan satwa liar.
Resor ini juga menawarkan sesi coffee tasting: mencicipi lima sampai enam gaya kopi sambil mempelajari asal-usul, ritual seduh, dan variasi regional. Dari klasik seperti milk coffee dan egg coffee, sampai “zona kreatif” seperti coconut coffee, salt coffee, bahkan mango atau durian coffee.
“Barista Vietnam bangga bereksperimen. Itu banyak bicara soal kemampuan budaya kami untuk beradaptasi dan terus menemukan bentuk baru,” kata Thomas Duong, assistant director of Food and Beverage di hotel tersebut.
Hoi An: Lampion, Gang Pejalan Kaki, dan Coconut Coffee yang Bikin Betah
Perjalanan sekitar 45 menit dari Da Nang akan membawamu ke Hoi An—kota yang ritmenya lebih pelan, dan kafenya… bejibun. Lebih dari 100 kafe menghiasi jalur pedestrian, gang-gang bercahaya lampion, hingga latar persawahan yang tenang.
Hoi An terkenal dengan coconut coffee yang mantap, paling nikmat dinikmati di teras outdoor—apalagi kalau tempatnya menghadap suasana santai dekat An Bang Beach. Ini jenis minuman yang membuatmu berpikir: “Oke, hidup memang harus dinikmati pelan-pelan sesekali.”
Di dekatnya, Four Seasons Resort The Nam Hai, Hoi An menawarkan sesi Coffee Tasting Experience mingguan, serta pilihan kopi kurasi di Sol dan Sao Bar. Salah satunya adalah Modbar pour-over yang disajikan dalam carafe 225 ml, diseduh dari 100 persen arabica.
Kopi yang Juga Merawat Komunitas
Di ThanhUyen Roastery, pemiliknya Thanh Huynh menyumbangkan sebagian keuntungan untuk amal lokal dan mempekerjakan pekerja disabilitas yang terdampak dari warisan panjang Agent Orange. Ia juga membuka pengalaman membuat kopi melalui Airbnb Experience—cara yang hangat untuk melihat sisi manusia dalam budaya kopi Hoi An.
Di titik ini, kamu sadar: budaya kopi Vietnam bukan cuma latar foto yang cantik. Ada lapisan sejarah, ekonomi, kreativitas, dan kepedulian sosial yang ikut larut di dalamnya.
Saat Kopi Menjadi Lambang Daya Tahan dan Harapan
Setiap fase sejarah Vietnam ikut membentuk hubungannya dengan kopi. Dari masa kolonial, masa sulit, sampai era kebangkitan—kopi berubah menjadi semacam simbol: tentang daya tahan, kecerdikan, dan kebanggaan.
“Kopi datang ke Vietnam sebagai bagian dari sejarah kolonial—tapi melalui generasi, ia menjadi sesuatu yang sepenuhnya milik kami. Saat kamu menyesap kopi Vietnam, kamu tidak hanya mencicipi biji kopi—kamu sedang merasakan daya tahan, ingatan, dan harapan,” kata Thang.
Jadi, kalau suatu hari kamu menyesap cà phê sữa đá atau egg coffee, coba berhenti sebentar. Di balik pahit dan manisnya, ada cerita panjang tentang cara sebuah bangsa mengubah keterbatasan menjadi identitas—dan identitas menjadi kebanggaan.
Atribusi: Artikel asli oleh Kristin Braswell (7 Januari 2026).
Referensi Eksternal
- National Geographic: How to explore Vietnam’s rich coffee culture
- UN-REDD: Greening Coffee Production in Viet Nam
- Nguyen Coffee Supply: Phin Filter Guide
- Vietnam Airlines: Egg Coffee in Vietnam
- SCAA: Cupping Protocols (PDF)
- Mayo Clinic: Caffeine—How much is too much?
- World Bank – Vietnam’s coffee sector (dokumen)




















