Skip to main content

Kamu Bukan Prokrastinator—Kamu Seorang Batcher

Sering menunda tapi bukan karena malas? Kenali konsep “batcher” vs as-you-go, temukan 7 tipe batching, plus cara memakainya untuk produktif tanpa rasa bersalah.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Procastinator
Ilustrasi Procastinator

Pernah merasa “kenapa sih gampang banget nunda?”, padahal sebenarnya bukan malas—cuma cara kerja otak dan ritme energimu memang beda?

Ada orang yang tidak tahan lihat piring kotor ngendon di wastafel. Selesai sarapan, langsung cuci, keringkan, rapikan. Cuma satu-dua gelas pun tetap diberesin. Bukan karena perfeksionis, tapi karena rasanya lebih ringan kalau urusan kecil tidak menumpuk.

Di artikel ini, tipe orang itu kita sebut punya gaya as-you-go: mengerjakan hal-hal sedikit demi sedikit, seiring datangnya tugas.

Tapi ada juga yang kebalikannya. Bukan jorok. Bukan mager. Cuma punya logika: “Ngapain pakai sarung tangan cuci piring dan isi bak air cuma buat tiga sendok?” Jadi, tunggu sampai sore. Sekalian. Satu tarikan napas, satu sesi beres-beres.

Orang seperti ini disebut batcher: suka mengumpulkan beberapa tugas sejenis, lalu mengeksekusinya sekaligus.

Menariknya, di banyak lingkungan, gaya as-you-go sering dipersepsikan lebih “rapi”, lebih “teratur”, lebih “dewasa”. Mirip seperti “morning people” sering dipandang lebih positif dibanding “night owls”. Padahal, dua-duanya cuma beda ritme.

Memang, ada saat ketika batching melenceng jadi avoidance—tugas ditumpuk bukan karena strategi, tapi karena menghindar. Namun kalau seseorang memang natural batcher, mengenali gaya spesifiknya justru bisa membantu memakai batching sebagai alat produktif yang minim drama, bukan sumber rasa bersalah.

DAFTAR ISI

Batcher Itu Ada Tujuh Tipe

lustrasi procastinator

Kalau merasa lebih nyambung dengan pola “sekalian aja”, coba lihat tujuh profil ini. Biasanya ada satu pola dominan, lalu 2–3 pola sekunder.

  1. Time (reset terjadwal)
    Tugas dikerjakan di waktu yang berulang—misalnya setiap malam, setiap akhir pekan, atau akhir tahun. Pola “cuci piring di akhir hari” masuk kategori ini.
    Contoh lokalnya: bayar tagihan tiap tanggal gajian, beberes kamar setiap Minggu pagi, atau rapihin email tiap Jumat sore.

  2. Volume (nunggu cukup banyak)
    Menunggu sampai “cukup” untuk dikerjakan. Bukan nunggu meledak, tapi nunggu terasa worth it. Misalnya: baru cuci baju kalau stok kaos bersih habis, baru belanja kalau daftar kebutuhan sudah lumayan panjang, atau baru ke toko tertentu kalau ada beberapa barang yang harus dibeli sekalian.
    Intinya: perlu “alasan yang cukup” untuk bergerak.

  3. Pressure (deadline yang mendorong)
    Butuh tenggat atau tekanan eksternal untuk menyalakan mesin. Rumah jadi kinclong satu jam sebelum tamu datang. Isi tas dan dokumen diberesin malam sebelum berangkat karena tidak mau bawa “beban” berupa struk berbulan-bulan.
    Tidak selalu mepet-mepet amat, tapi juga jarang dikerjakan terlalu awal.

  4. Context (baru jalan kalau kondisi ideal)
    Baru bisa bergerak ketika situasi “pas”. Misalnya hanya bisa vakum saat anak-anak tidak ada di rumah, atau baru bisa mikir serius soal arah hidup ketika sedang liburan—jauh dari notifikasi dan rutinitas.
    Ada orang yang butuh suasana tertentu agar otaknya mau fokus.

  5. Identity (hari ini versi diri yang ini)
    Mendadak memakai “identitas sementara” dan ngebut sesuai identitas itu. Hari ini: versi rapi. Hari ini: versi finansial tertata. Hari ini: versi social butterfly yang menghubungi semua teman yang sudah lama tidak disapa.
    Seperti ganti mode—sekali nyala, jalan terus.

  6. Emotion (batas toleransi habis)
    Ada titik jenuh emosional yang memicu tindakan. Bayangkan orang tua yang berkali-kali menyuruh anak merapikan kamar. Ketika lelah meminta dan rasanya sudah “cukup”, akhirnya turun tangan juga, ikut beberes, lalu semua selesai.
    Bukan soal logika, tapi soal kapasitas emosi yang ada batasnya.

  7. System (alarm dan pengingat yang menentukan)
    Banyak sistem sebenarnya jatuh ke time/deadline/volume. Tapi ada juga yang paling merasa cocok dengan “respon terhadap prompt”. Tagihan listrik dibayar ketika ada email “jatuh tempo minggu depan”. Menyapa teman ketika Facebook mengingatkan ulang tahunnya. Minum vitamin ketika mulai terasa tenggorokan agak seret.
    Kuncinya: dorongan datang dari sinyal sistem.

Kalau masih bingung, coba pakai pertanyaan sederhana: “Yang biasanya bikin akhirnya bergerak itu apa—waktu, jumlah yang menumpuk, deadline, suasana, mood identitas, emosi yang penuh, atau notifikasi?”

Ketika Batching Dipandang Salah—Padahal Tidak Selalu

ilustrasi procastinator

Banyak orang menyimpan rasa malu karena merasa “kok kerjaan kok nunggu numpuk dulu”. Di kepala, batching sering disamakan dengan prokrastinasi. Padahal, dua hal ini tidak otomatis sama.

Yang sering terjadi bukan karena batchingnya “buruk”, melainkan karena stigma sosial: yang rajin itu yang bergerak cepat, yang rapi itu yang selesai hari itu juga, yang dewasa itu yang tidak “menunda”.

Masalahnya, hidup tidak hanya dinilai dari gaya yang terlihat rapi dari luar. Ada orang yang lebih kuat ketika kerja dalam sesi besar, fokusnya lebih tajam ketika sekali duduk. Ada juga yang justru stres kalau harus nyicil sedikit-sedikit sepanjang hari karena otaknya lelah berpindah mode.

Jadi, sebelum buru-buru menghakimi diri sendiri, ada tiga langkah yang lebih berguna:

1) Sadari dulu stigma itu nyata (dan sering tidak adil)

Batcher bukan berarti tidak disiplin. Sama seperti “orang malam” bukan berarti pemalas. Kadang, seseorang justru sangat efektif ketika bekerja dalam blok-blok besar.

2) Akui jujur bagian yang memang jadi masalah

Batching bisa menimbulkan friksi. Misalnya:

  • Bentrok dengan orang lain yang gaya kerjanya as-you-go (di rumah, di kantor, di tim proyek).

  • Terlihat tidak konsisten dari luar, padahal dalam kepala sedang menunggu “waktu eksekusi”.

  • Merasa stres karena tugas menumpuk dan jadi seperti awan gelap di belakang kepala.

  • Hasil kerja terlihat “meledak-ledak”: sepi lama, lalu produktif besar-besaran.

Mengakui dampaknya itu bukan menyalahkan diri. Itu seperti membaca peta.

3) Kenali sisi yang kamu sukai dari batching—dan kenapa ia bekerja

Batching sering cocok untuk orang yang:

  • Punya energi yang “intens” dan lebih enak all-in ketika mengurus sesuatu (misalnya urusan keuangan pribadi: sekali duduk, rapihin semuanya).

  • Sulit switch otak dari satu mode ke mode lain—jadi lebih nyaman ketika satu mode dipertahankan lebih lama (ini sering nyambung dengan tipe Identity).

  • Lebih mudah fokus pada satu tugas besar daripada banyak tugas kecil yang datang seperti cicilan notifikasi.

Ada juga yang merasa batching membantu konsentrasi dan energi. Ada tipe yang butuh “ideal conditions”: ruangan rapi dulu, sunyi dulu, baru bisa mikir.

Kalau batching membuatmu bisa hadir utuh, fokus, dan tenang—itu bukan dosa produktivitas. Itu strategi.

Cara Punya Hubungan yang Lebih Sehat dengan Gaya Batcher

Tujuannya bukan mengubah diri jadi manusia “langsung beres saat itu juga” (kalau itu bukan gaya naturalmu). Tujuannya: membuat batching bekerja untukmu, bukan melawanmu.

Beberapa cara yang sering membantu:

  • Berhenti menilai batching sebagai karakter buruk.
    Anggap ini sebagai gaya. Seperti pilihan cara belajar: ada yang kuat dengan catatan harian, ada yang kuat dengan “belajar semalam suntuk” (walau tentu tetap ada batas sehatnya).

  • Buat “pagar pembatas” kecil supaya tidak kebablasan.
    Misalnya untuk tipe Volume, “cukup” itu bisa ditentukan: bukan menunggu wastafel penuh total, tapi “kalau sudah 10 item, eksekusi”.
    Untuk tipe Time, jadwal reset bisa dibuat realistis: bukan setiap malam kalau itu berat, tapi dua kali seminggu.

  • Komunikasikan ritme ke orang terdekat.
    Ini sering menyelamatkan hubungan. Contoh: “Aku tipe yang kerjanya sekalian. Jadi kalau siang kelihatan santai, itu bukan ngeles. Nanti malam aku beresin dalam satu sesi.”
    (Kalau di rumah, bisa juga bikin kesepakatan area mana yang harus as-you-go, area mana yang boleh batching.)

  • Jadikan batching sebagai ritual yang menyenangkan.
    Sesi besar lebih mudah dijalani kalau ada “pembuka”: playlist, kopi, timer 45 menit, atau ruangan yang disiapkan. Ini terutama membantu tipe Context dan Identity.

Saat Batching Berubah Jadi Menghindar

ilustrasi procastination

Perilaku apa pun bisa jadi avoidance—termasuk orang as-you-go yang sibuk beresin hal kecil terus agar tidak menyentuh yang penting. Jadi, bukan batchingnya yang otomatis salah, tapi motif di belakangnya.

Kalau seorang batcher mulai merasa batching berubah jadi “nanti-nanti” yang melelahkan, pendekatan yang sering lebih efektif adalah lean into your type—memakai pemicu alami dari tipe batchingmu untuk bergerak.

Berikut contoh praktisnya:

  • Kalau tipe Time:
    Jangan menunggu “mood”. Pakai jadwal sebagai pintu masuk. Bukan jadwal besar—cukup jadwal kecil yang konsisten: “setiap jam 20.30 adalah sesi 20 menit beresin hal-hal yang ditunda.”

  • Kalau tipe Volume:
    Turunkan ambang “cukup”. Bukan menunggu menumpuk sampai bikin pusing, tapi tentukan titik minimal: “kalau sudah ada 5 email yang butuh jawaban, balas dalam satu batch.”

  • Kalau tipe Pressure:
    Ciptakan tekanan eksternal yang sehat: janji temu, check-in dengan teman, atau deadline yang kamu set sendiri lalu diumumkan ke orang lain.
    Bukan untuk menyiksa diri—lebih seperti membuat rel kereta supaya kereta tidak nyasar.

  • Kalau tipe Context:
    Siapkan kondisi ideal versi mini. Tidak harus menunggu liburan. Bisa “kondisi ideal 15 menit”: meja beres, HP silent, pintu tertutup, satu tujuan. Lalu mulai.

  • Kalau tipe Identity:
    Pancing identitas yang ingin dipakai hari itu. Misalnya: “Hari ini versi rapi 30 menit.” Atau “Hari ini versi fokus—cukup satu tugas.”

  • Kalau tipe Emotion:
    Sadari tanda-tanda toleransi menipis sebelum meledak. Saat mulai kesal atau lelah, itu sinyal: “sudah waktunya batch kecil.” Daripada menunggu sampai emosi habis dan jadi drama.

  • Kalau tipe System:
    Perkuat sistem pengingat yang benar-benar kamu patuhi: notifikasi kalender, aplikasi to-do, atau aturan sederhana: “kalau ada email ‘due next week’, langsung masuk batch pembayaran.”

Intinya: di dalam tipe batchingmu, sebenarnya sudah ada petunjuk tentang “tombol start” yang paling natural.

Kenapa Penting Membedakan Batcher dan Prokrastinasi?

Karena ketika dua hal ini dicampur aduk, seseorang jadi kehilangan energi untuk hal yang paling dibutuhkan: mengelola penundaan yang memang problematik.

Dengan membedakan batching dari prokrastinasi, seseorang bisa:

  • Memakai batching secara positif (strategi), bukan sebagai label negatif (karakter).

  • Mengurangi self-judgment yang menguras tenaga.

  • Punya fokus lebih untuk mengatasi prokrastinasi saat itu benar-benar terjadi.

Mengenali tipe batcher juga membuat pengelolaan diri lebih realistis. Tidak semua orang harus produktif dengan cara yang sama. Ada yang kuat dengan “sedikit-sedikit”, ada yang kuat dengan “sekalian”. Yang penting bukan gaya mana yang terlihat paling rapi, tapi gaya mana yang membuat hidup lebih berjalan, kepala lebih ringan, dan pekerjaan lebih selesai.

Kalau selama ini merasa “kok aku begini banget ya”, mungkin jawabannya bukan “kamu pemalas”. Mungkin jawabannya: kamu hanya sedang memakai mesin yang berbeda. Tinggal belajar cara mengemudikannya.


Atribusi: Diadaptasi dari artikel “You’re Not a Procrastinator, You’re a Batcher” oleh Alice Boyes, Ph.D., ditinjau oleh Lybi Ma, diperbarui 10 Januari 2026, dipublikasikan di Psychology Today.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!