Skip to main content

Kenapa Semua yang Kamu Pikir Tentang Dirimu Bisa Jadi Hanyalah Ilusi

Merasa “aku ya begini”? Mungkin itu ilusi. Kenali 5 insight tentang diri sebagai proses: keseimbangan, pikiran, relasi, dan cara melepas yang bikin hidup lebih ringan.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Laki-laki yang sedang melamun
Ilustrasi Laki-laki yang sedang melamun

Pernah nggak, kamu bangun pagi, lalu tiba-tiba kepikiran: “Sebenernya gue ini siapa, sih?” Kadang jawabannya terasa sederhana—nama, pekerjaan, sifat, kebiasaan. Tapi di lain waktu, semuanya terasa… cair. Berubah-ubah. Nggak bisa dipaku.

Di sinilah banyak dari kita mulai “menderita” diam-diam: ketika proses hidup yang dinamis kita paksa jadi identitas yang kaku. Padahal, hidup yang lebih waras dan lebih ringan sering dimulai bukan dari menemukan label baru, tapi dari menyeimbangkan hal-hal yang membentuk diri—pelan-pelan, berulang-ulang, tanpa drama.

Di bawah ini adalah lima gagasan kunci dari J. Eric Oliver (dari bukunya How To Know Your Self: The Art & Science of Discovering Who You Really Are) tentang kenapa cara kita memandang diri sendiri sering menipu—dan kenapa itu justru kabar baik.

DAFTAR ISI

Ide besarnya: Kita tersiksa karena mengira “diri” itu benda tetap

Banyak orang menjalani hidup seperti membawa kartu identitas batin: “Aku orangnya begini.”
Lalu semua hal yang terjadi—pikiran negatif, kecemasan, kebiasaan buruk, relasi yang melelahkan—dianggap bukti sah bahwa ya memang aku beginilah.

Padahal, menurut Oliver, kita sering keliru: kita salah mengira proses menjadi manusia sebagai identitas yang permanen. Hidup yang lebih “flourishing” (tumbuh dan mekar) dimulai ketika kita belajar menyelaraskan dan menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang membentuk diri.


Kamu bukan kata benda; kamu itu kata kerja

pria berkebun bersama putranya

Untuk waktu yang lama, Oliver mengira dirinya adalah entitas yang tetap: “Ini gue. Ini sifat gue. Ini siapa gue.” Seolah-olah dia masih orang yang sama persis yang:

  • suka sereal manis umur delapan,

  • doyan ayam goreng umur dua belas,

  • dan tequila umur dua puluh satu,

dan masih suka semuanya sampai sekarang—meski perut kadang protes.

Masalahnya, menurutnya itu ilusi. Neurosains, fisika, dan Buddhisme sama-sama memberi sinyal: nggak ada yang benar-benar “tetap” tentang diri kita. Kita ini proses—perputaran molekul, emosi yang datang-pergi, pikiran yang numpang lewat, dan gema dari semua orang yang pernah kita cintai, kita kesali, kita benci, atau diam-diam ingin kita bikin kagum.

Kalau kamu melihat diri sebagai kata kerja (proses), ada dua efek yang biasanya langsung terasa:

  1. Kamu nggak lagi merasa “rusak.”
    Kamu mungkin sedang tidak selaras—bukan gagal total sebagai manusia.

  2. Kamu sadar kamu bisa diarahkan.
    Proses itu bisa disetel. Di-adjust. Kadang pelan, tapi tetap bergerak.

Banyak dari kita menandatangani “kontrak hidup” tanpa baca tulisan kecilnya—fine print—lalu heran kenapa sering terjebak dalam keadaan emosi yang menyakitkan dan nggak produktif. Tapi ketika kamu berhenti menganggap diri sebagai benda tetap, narasinya berubah: kamu bukan barang cacat; kamu proses yang sedang butuh penataan ulang.

Kalau kamu suka pendekatan yang ramah pemula dan step-by-step, kamu bisa mulai dari sesuatu yang sederhana seperti panduan kesehatan mental ramah pemula—yang intinya bukan membuat kamu jadi “sempurna”, tapi membuat fondasi kamu lebih stabil.

Tujuan hidup itu bukan satu kalimat keren—tapi keseimbangan

Saat orang bertanya “tujuan hidup,” Oliver biasanya menjawab versi sopannya: jadi orang tua yang lebih baik, menulis buku yang bagus, bikin dunia lebih baik. Tapi menurutnya, semua itu sering cuma “kostum” dari tujuan yang lebih dalam: mengoptimalkan diri sebagai sistem hidup.

Ia menyebut fakta penting: di inti, kita ini sistem energi yang hidup. Identitas, pikiran, emosi—itu semua cara sistem ini tetap menyala. Diri adalah yang menjaga api kehidupan tetap hidup… idealnya tanpa membakar rumah.

Dan untuk menjaga api ini, ada dua dorongan dasar yang perlu diseimbangkan:

  • Keteraturan (Order): struktur yang menata hidup—dari sel, kebiasaan, sampai kalender.

  • Vitalitas (Vitality): energi yang menghidupkan—yang bikin kamu pengin nyanyi, joget, jatuh cinta, atau nambah sepotong kue.

Kelebihan salah satunya bikin hidup timpang:

  • Terlalu banyak keteraturan → hidup rapi, tapi kering, sesak, cepat “mati rasa”.

  • Terlalu banyak vitalitas → hidup seru, tapi berantakan, boros energi, gampang meledak.

Kabar yang mungkin bikin lega: “hari baik” dan “hari buruk” sering bukan karena kamu orangnya bagus atau jelek, tapi karena keseimbangan ini lagi berubah.

Coba cek dua pertanyaan kecil ini (jujur aja, tanpa menghakimi):

  1. Akhir-akhir ini hidup kamu lebih “kaku” atau lebih “liar”?

  2. Kalau kamu geser sedikit saja—lebih teratur 10% atau lebih hidup 10%—yang paling terasa manfaatnya yang mana?

Kadang jawabannya bukan langkah besar. Kadang cukup: rapihin jam tidur, rapihin makan, rapihin satu kebiasaan kecil, sambil tetap menyisakan ruang buat hal yang bikin kamu merasa hidup.


Pikiran itu bukan kamu (dan syukurlah begitu)

pria sedang bersedih

Ada fase ketika Oliver percaya pikirannya adalah segalanya: tiap kecemasan, tiap penilaian petty, tiap prediksi bencana tentang masa depan—semua dianggap “kebenaran keras”.

Ternyata itu delusi yang lumayan umum. Pikiran lebih mirip cuaca mental: datang, lewat, berubah bentuk. Pikiran itu emisi mental—tebakan cepat otak untuk menjaga kamu tetap selamat, tetap makan yang benar, atau mencegah kamu nyelonong ke jalan.

Ada satu kalimat yang menohok tapi menenangkan:

“Saat kamu melangkah mundur dan mengamati pikiran tanpa selalu mempercayainya, kamu mendapatkan sedikit kebebasan.”

Begitu kamu bisa menonton pikiran, kamu mulai punya ruang. Muncul momen kecil seperti:
“Oh, ini si cemas lagi. Lucu ya.”

Dan lalu kamu bisa bertanya sesuatu yang sangat praktis:

“Pikiran ini membantu apa?”

Sering kali jawabannya: tidak membantu apa-apa. Kamu mungkin masih kebangun jam 3 pagi, tapi kamu nggak lagi yakin dunia runtuh hanya karena kamu belum balas satu email.

Kalau kamu butuh cara yang lebih “membumi” untuk menghadapi pikiran negatif, kamu bisa mulai dari kebiasaan sederhana seperti yang dibahas di 5 strategi sederhana mengatasi pikiran negatif—intinya melatih jarak sehat antara “aku” dan “apa yang lewat di kepala.”

Kita makhluk sosial—sampai level terkecil

Di dalam sel kamu, ada “penumpang” kecil bernama mitokondria. Secara teknis, mereka bukan spesies yang sama persis dengan kamu. Mereka “pindah” ke dalam sel makhluk hidup lain sangat lama sekali, lalu menetap. Dan ini memberi pesan yang dalam: kita bukan satu sosok tunggal; kita adalah kolaborasi kehidupan.

Diri kita terbentuk oleh bahasa, budaya, relasi—terutama relasi yang berantakan: libur panjang yang bikin tegang, ekspektasi yang nggak ketemu, atau momen minta maaf yang ditulis tangan karena chat terasa kurang manusia.

Banyak orang pengin “memperbaiki diri” sendirian: kontemplasi, disiplin, dan menutup pintu rapat-rapat. Oliver bilang: itu ide yang menggoda, tapi sering keliru. Tempat pertumbuhan yang paling nyata justru ada di relasi, karena di sanalah kita ketemu “titik seret”—bagian-bagian diri yang nggak selaras.

Ada satu kalimat yang tegas:

“Sebagai makhluk sosial, cinta itu bukan pilihan.”

Dalam versi yang lebih sehari-hari: dukungan itu bukan bonus, tapi kebutuhan. Persahabatan bukan dekorasi hidup. Keintiman bukan kemewahan. Bahkan konflik—kalau dilakukan dengan baik—bisa jadi alat bertumbuh.

Kalau kamu tipe yang kadang merasa kesendirian itu menelan pelan-pelan, mungkin kamu akan nyambung dengan perspektif seperti di cara mengubah kesendirian menjadi sumber kekuatan: bukan menolak sendiri, tapi tahu kapan harus kembali terhubung.


Hidup yang baik: sadar ketidakseimbangan, lalu belajar "nrimo"

pria yang merasa bebas

Banyak dari kita diam-diam percaya pada “momen transendensi”:

  • Kalau dapat kerjaan yang pas…

  • Kalau renovasi dapur selesai…

  • Kalau pasangan bisa taruh piring di dishwasher dengan “cara yang benar”…

…barulah kita jadi tenang, bijak, dan puas.

Sayangnya, itu jarang bekerja. Hidup yang baik itu lebih sederhana dan lebih sulit: melihat ketidakseimbangan, lalu melepasnya. Bukan dengan paksa, tapi dengan rasa ingin tahu, keberanian, dan perawatan.

Oliver menawarkan tiga hal yang membantu:

A) Rawat hal-hal dasar dulu

Kamu nggak bisa membangun diri yang bertumbuh di atas fondasi yang ambruk. Yang termasuk dasar:

  • tidur yang cukup,

  • relasi yang sehat,

  • makanan yang masuk akal,

  • kerja yang bermakna (atau minimal tidak merusak jiwa tiap hari).

Kalau bagian tidur kamu lagi kacau, mulai saja dari kebiasaan kecil dan konsisten seperti di tips sleep hygiene untuk pembaca. Kadang yang kamu butuhkan bukan motivasi baru, tapi tubuh yang akhirnya berhenti “mode darurat”.

B) Arahkan perhatian

Ke mana perhatian pergi, pengalaman mengikuti. Kamu bisa punya hidup yang sama, tapi kualitasnya beda karena fokusnya beda.

Alat yang sering membantu:

  • meditasi,

  • journaling,

  • yoga,

  • napas sadar.

Tujuannya bukan jadi zen master, tapi mengenali “mesin batin” kamu—apa yang memicu, apa yang menenangkan, dan kapan pikiran mulai ngelantur. Untuk latihan yang lebih praktis dan harian, kamu bisa eksplor mindfulness dalam kehidupan nyata.

C) Perlakukan emosi dengan lembut

Emosi itu bukan vonis; emosi itu sinyal. Kalau emosi selalu diperlakukan sebagai keadaan darurat, dia akan semakin dominan. Tapi kalau emosi diperlakukan sebagai “guru” (yang kadang dramatis), kamu mulai punya kendali.

Coba kalimat ini ketika emosi berat datang:

  • “Oke, ini sinyal. Bukan keputusan final.”

  • “Emosi ini minta didengar, bukan dipukul balik.”

  • “Aku bisa merawatnya tanpa menuruti semua ceritanya.”

Yang muncul bukan diri yang sempurna dan “transenden”, tapi relasi yang lebih bijak dan lebih ramah dengan diri kamu yang sekarang—yang masih berproses.

Kalau di titik tertentu kamu merasa kewalahan, terus-menerus cemas, atau kehilangan fungsi sehari-hari, itu bukan tanda kamu lemah. Itu tanda kamu butuh dukungan tambahan—dan mencari bantuan profesional adalah bentuk merawat diri, bukan drama.


Penutup

Mungkin bagian paling menenangkan dari semua ini adalah: kamu tidak “terjebak” menjadi versi tertentu dari dirimu selamanya. Kamu bukan label. Kamu bukan paket sifat permanen. Kamu adalah proses yang terus bergerak—kadang rapi, kadang berantakan, kadang lucu, kadang melelahkan.

Dan kabar baiknya: proses bisa diselaraskan. Pelan-pelan. Berulang-ulang. Dengan keseimbangan.


Daftar Referensi


Atribusi

Diadaptasi dan diterjemahkan dari tulisan “Why Everything You Think About Yourself Could Be an Illusion” oleh J. Eric Oliver, dipublikasikan 6 Januari 2026 di Next Big Idea Club.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!