Skip to main content

5 Kebiasaan yang Membuat Kamu Terjebak dan Tak Bahagia

Merasa stuck, capek, dan nggak bahagia? Kenali 5 kebiasaan yang diam-diam jadi “armor”: kontrol berlebihan, people-pleasing, perfeksionisme, menekan emosi, dan susah letting go—plus cara kecil untuk mulai lepas pelan-pelan.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Hikmah & Motivasi
Ilustrasi Pria Yang Tidak Merasa Bahagia
Ilustrasi Pria Yang Tidak Merasa Bahagia

Pernah nggak sih, kamu ngerasa hidup tuh kayak muter di tempat—padahal kamu tahu pola ini bikin capek? Kamu pengin berubah, tapi entah kenapa selalu balik lagi ke mode lama: overthinking, people-pleasing, ngejar sempurna, pura-pura “aku gapapa”, dan pegang kendali terlalu erat.

Tulisan ini merangkum 5 insight dari Kati Morton—terapis berlisensi, penulis, sekaligus content creator—yang selama lebih dari 14 tahun bantu banyak orang memahami kesehatan mental lewat terapi dan YouTube. Intinya bukan “kamu lemah” atau “kamu kurang iman/kurang usaha”. Sering kali, kita cuma lagi pakai strategi bertahan hidup yang dulu terasa paling aman.

Kalau kamu pekerja, mahasiswa, orang tua, atau siapa pun yang belakangan ini sering berkata, “Kok aku gini-gini aja ya…,” mungkin kamu bakal ngerasa relate.

DAFTAR ISI

Catatan Penting (Bukan Pengganti Konsultasi)

Panduan ini bersifat pendamping, bukan pengganti layanan profesional. Jika kamu mengalami gejala berat (mis. pikiran melukai diri, serangan panik berulang, atau fungsi harian terganggu), segera hubungi tenaga profesional setempat dan rujuk materi resmi seperti kampanye kesehatan jiwa WHO Indonesia untuk pemahaman dasar dan opsi bantuan. Untuk dukungan segera, pemerintah menyediakan Healing119 (hotline Kemenkes) yang berisi panduan ringkas mengenali tanda bahaya dan akses layanan.

Ide Besarnya: Pola Lama Itu “Armor”, Bukan Kepribadian

Kati ngajak kita melihat sesuatu dengan kacamata berbeda: banyak kebiasaan yang bikin kita stuck sebenarnya mirip armor (baju zirah) tak terlihat. Dulu, armor itu berguna—bikin kita merasa aman, diterima, atau setidaknya “nggak diserang”.

Masalahnya, ketika kita terus pakai armor itu di usia dewasa, hidup jadi berat. Kamu tetap “selamat”, tapi jadi nggak bebas. Yang tadinya melindungi, pelan-pelan berubah jadi penjara.

Dan di sinilah twist-nya: tujuan kita bukan “buang semua armor lalu jadi nekat.” Tujuannya adalah mengganti armor itu dengan inner strength—kekuatan dari dalam—biar kamu bisa bergerak bukan karena takut, tapi karena sadar dan merdeka.


1) Control Itu Strategi Survival, Bukan Sekadar Sifat “Control Freak”

Kita sering mengira control itu ciri kepribadian. Kita bilang, “Aku emang control freak,” atau “Tenang, semua udah under control.”

Tapi menurut Kati, control bukan “state of being”. Control adalah cara bertahan hidup yang dipelajari tubuh saat hidup terasa nggak bisa diprediksi. Sistem saraf kita mencari pegangan: sesuatu yang bisa diatur, ditata, dihitung, dirapikan.

Waktu kecil, banyak dari kita belajar: jadi anak baik, diam, atau sempurna bikin suasana lebih aman—atau bikin kita lebih dicintai. Maka ketika dewasa, kita jadi:

  • micromanage (ngatur detail kecil sampai habis napas),

  • overthink (kepala kayak tab browser kebuka semua),

  • self-criticize (menghajar diri sendiri duluan sebelum orang lain sempat).

Kati cerita, saat kondisi rumah dulu terasa di luar kendali, dia fokus mengontrol nilai sekolah, kerapian kamar, performa. Kontrol palsu itu jadi cara self-soothe saat hal lain terasa nggak pasti.

Tanda kamu lagi “mode kontrol” (versi sehari-hari)

  • Kamu panik kalau rencana berubah sedikit saja.

  • Kamu susah delegasi karena takut “nggak beres”.

  • Kamu lebih nyaman capek sendiri daripada percaya orang lain.

  • Kamu merasa bersalah saat santai (kayak harus “produktif” terus).

Latihan kecil yang lebih realistis dari “yaudah ikhlasin aja”

Daripada memaki diri sendiri, coba ganti pertanyaan:

  • “Kontrol ini sedang melindungiku dari apa?”

  • “Bagian hidup mana yang terasa unpredictable akhir-akhir ini?”

Rasa ingin mengontrol biasanya muncul saat tubuh mendeteksi ancaman—kadang ancamannya bukan bahaya nyata, tapi rasa tidak aman yang lama. Kalau kamu butuh konteks soal stres dan dampaknya pada emosi/relasi, kamu bisa baca ringkasan dari Harvard Health tentang stress dan efeknya ke tubuh serta pikiran.

2) People-Pleasing Itu Bukan “Baik Hati”—Seringnya Takut yang Menyamar

people pleasing

People-pleasing sering dikira kebaikan: mudah menolong, nggak enakan, selalu jadi “yang mengerti”. Kadang kita bangga: “Aku tuh orangnya nggak bisa nolak.”

Tapi Kati menampar pelan: people-pleasing sering digerakkan oleh fear—takut ditolak, ditinggalkan, atau memicu konflik. Next Big Idea Club

“When we spend all our energy anticipating what others want, we lose touch with what we want.”

Ada satu momen yang Kati ceritakan, agak bikin kaget. Terapisnya pernah bilang, “People-pleasing is actually a form of manipulation.” Bukan karena niatnya jahat, tapi karena—tanpa sadar—kita “mengatur suasana” supaya kita sendiri tidak perlu merasakan cemas, tegang, atau tidak nyaman.

Dan efek jangka panjangnya? Kamu kelihatan baik-baik saja di mata orang, tapi di dalam:

  • lelah,

  • resentful (nggak enak hati, tapi dipendam),

  • hampa,

  • bahkan bisa mengarah ke sedih berkepanjangan.

Kalau kamu pengin versi penjelasan yang mudah dicerna, Cleveland Clinic membahas tanda-tanda people-pleasing dan cara mulai berhenti dengan lebih sehat di artikel Signs You're a People Pleaser and How To Stop.
Biar makin dekat dengan konteks Indonesia, ada juga ulasan dari UGM tentang kenapa people-pleasing bisa mengganggu kesehatan mental di Why Being a People Pleaser Can Harm Your Mental Health.

Langkah awalnya bukan “tiba-tiba jadi galak”

Kati bilang: bukan langsung menolak semua hal. Mulai dari yang kecil:

  • pause sebelum bilang “iya”

  • tanya diri sendiri: “Aku melakukan ini karena care… atau karena fear?”

Pertanyaan kecil ini memisahkan nilai diri dari kegunaan. Kamu nggak perlu menghilang supaya tetap dicintai.

Kalau kamu pernah membaca panduan kesehatan mental ramah pemula atau menghindari positivitas palsu di tebejowo, kamu mungkin sudah kenal ide bahwa emosi dan kebutuhan itu bukan musuh—mereka cuma minta didengar.


3) Perfectionism Itu “Moving Target” (Dan Kamu Nggak Akan Pernah Selesai Mengejarnya)

Perfectionism sering terasa seperti motivasi: bikin kita rajin, rapi, disiplin. Tapi di bawahnya, sering ada rasa: “Aku belum cukup.”

Kati menulis bahwa kita mengejar performa tanpa cela karena percaya: kalau akhirnya “benar”, kita akan dapat approval yang kita cari. Masalahnya, perfection itu moving target. Satu pencapaian cuma memberi lega sebentar, lalu muncul “should” berikutnya.

“Instead of asking, ‘Was it perfect?’, ask, ‘Did I feel connected?'”

Kati juga cerita personal: dulu ia percaya kalau bisa sempurna—jadi first chair di band atau masuk varsity team—ayahnya akan lebih sering pulang. Butuh waktu lama untuk sadar bahwa jadwal kerja ayahnya tidak ditentukan oleh prestasinya, dan worth dirinya bukan sesuatu yang harus dibuktikan.

Di dunia nyata, perfectionism bisa muncul dalam bentuk:

  • nunda mulai karena takut hasilnya “jelek”,

  • revisi berulang sampai kamu sendiri muak,

  • kerja ekstra tapi tetap merasa kurang,

  • sukses tapi kosong (kayak “kok segini doang rasanya?”).

Kalau kamu ingin perspektif yang kuat tentang sisi gelap perfectionism, Harvard Gazette punya bahasan terbaru tentang dampaknya pada kesehatan mental dan relasi di The perils of perfectionism.
Kalau kamu suka gaya “kerja-kantoran tapi tetap waras”, HBR juga mengulas soal ini lewat podcast Dealing with Perfectionism.

Antidote-nya bukan “standar diturunkan”

Kati menyarankan mengganti fokus: dari performa ke koneksi.
Bukan, “Sempurna nggak?”
Tapi, “Aku merasa nyambung nggak—dengan diri sendiri, orang lain, dan hidupku?”

Kamu boleh ambisius. Tapi jangan sampai ambisi itu jadi kontrak seumur hidup untuk selalu membuktikan bahwa kamu layak.

Kalau tema “prestasi vs bahagia” ini nyantol, ada benang merah yang nyambung banget dengan sukses itu overrated.


4) Suppression Itu Bukan Kuat—Seringnya Self-Abandonment

though supresssion

Banyak dari kita tumbuh dengan kalimat-kalimat seperti:

  • “Udah, jangan lebay.”

  • “Jangan nangis.”

  • “Yang kuat dong.”

  • “Kamu harus fine.”

Akhirnya kita menganggap menahan emosi itu dewasa. Padahal, kata Kati, emotional suppression bukan strength—seringnya itu self-abandonment.

Saat emosi ditekan, emosi itu nggak hilang. Ia “pindah tempat”: numpuk di badan, lalu muncul sebagai:

  • anxiety,

  • gampang tersinggung,

  • burnout,

  • meledak di momen yang kelihatannya sepele.

Kati memberi contoh yang sangat manusiawi: kamu menahan semuanya berhari-hari, lalu tiba-tiba nangis bombay gara-gara iklan anjing tua di TV. Bukan karena iklannya. Tapi karena emosi yang tidak sempat “dirasakan” akhirnya minta diakui.

“Merasa” bukan berarti “kehilangan kontrol”

Kati menekankan: belajar merasakan itu memperluas kapasitas kita untuk menahan ketidaknyamanan tanpa ditelan olehnya. Itu yang disebut resilience.

“Naming emotions helps regulate the nervous system and makes them feel less overwhelming.”

Dan ini bukan cuma kata-kata manis. Dalam riset “affect labeling” (menamai emosi), para peneliti menemukan bahwa memberi label pada perasaan dapat menurunkan reaktivitas emosi dan terkait dengan perubahan aktivitas di area otak yang memproses ancaman. Kamu bisa lihat ringkasannya di PubMed: affect labeling disrupts amygdala activity.
Ada juga ulasan ilmiah yang membahas bagaimana labeling perasaan bisa membantu menurunkan distress di PubMed Central: Affect labeling: The role of timing and intensity.

Praktik sederhana: “sebutkan”

Coba latihan ini (nggak pakai drama, nggak perlu puitis):

  • “Aku sedih.”

  • “Aku marah.”

  • “Aku takut.”

  • “Aku kecewa.”

  • “Aku kewalahan.”

Tujuannya bukan jadi melodramatis. Tujuannya bikin tubuhmu mengerti: “Oke, kita aman. Kita bisa menghadapi ini.”

Kalau kamu suka pendekatan yang ringan tapi konsisten, gaya ini nyambung dengan kebiasaan journaling singkat seperti di menulis tangan vs mengetik atau jika anda ingin lebih bahagia anda harus menulis ringkasan hidup.


5) Healing Itu Soal Letting Go—Bukan Kehilangan Kendali

Buat orang yang bertahan hidup dengan kontrol, letting go terasa seperti free-fall. Kayak melepas pegangan di tebing, padahal kamu belum yakin ada pijakan lain.

Kati mengaku, dulu ia kira letting go berarti “nggak peduli” atau “tidak bertanggung jawab”. Tapi ternyata bukan itu. Letting go adalah redefinisi tentang safety: kamu tetap bisa peduli, tanpa mencoba mengatur semua hasil.

Ada kontrol yang menyehatkan—misalnya membuat boundaries, bikin struktur, menjaga ritme hidup. Tapi ada juga kontrol yang bikin kamu stuck: membuat kamu takut mencoba hal baru, takut minta bantuan, takut membuka diri.

“That shift from control to trust has been one of the most freeing lessons of my life.”

Kati menyebut pergeseran dari control ke trust sebagai salah satu pelajaran paling membebaskan. Dan di titik ini, healing bukan berarti hidup jadi mulus. Healing berarti kamu makin peka: kapan kontrol membantumu aman… dan kapan kontrol diam-diam mencuri hidupmu.

Bedakan “kontrol yang membumi” vs “kontrol yang memborgol”

Kontrol yang membumi biasanya:

  • bikin kamu tenang,

  • membuat langkahmu jelas,

  • membantu kamu hadir.

Kontrol yang memborgol biasanya:

  • bikin kamu tegang,

  • bikin kamu menghindar,

  • bikin kamu menunda hidup.


Kamu Nggak Rusak—Kamu Lagi Berusaha Aman

Kalau kamu menemukan diri kamu di salah satu (atau semua) kebiasaan di atas, tolong jangan langsung menghakimi diri sendiri. Pola itu mungkin bukan “kepribadian kamu”. Bisa jadi itu adalah cara paling masuk akal yang dulu kamu punya untuk bertahan.

Dan kabar baiknya: begitu kamu mengerti “kenapa”, kamu punya ruang untuk memilih “bagaimana”. Pelan-pelan. Realistis. Dan manusiawi.

Kalau kamu merasa stuck berkepanjangan sampai mengganggu fungsi harian (tidur, kerja, relasi), tidak ada salahnya ngobrol dengan profesional. Kadang, keberanian paling elegan justru dimulai dari kalimat sederhana: “Kayaknya aku butuh bantuan.”


Sumber asli: Kati Morton (Next Big Idea Club), 5 Januari 2026, “These 5 Habits Are Keeping You Stuck and Unhappy


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!