Skip to main content

Awal Baru Terasa Powerful—Sampai Motivasi Luntur. Ini Cara Menetapkan Tujuan Kerja yang Nempel

Motivasi awal tahun sering cepat luntur. Pelajari cara menyusun tujuan kerja yang bertahan: rancang versi saat sibuk, temukan alasan personal, dan pakai langkah kecil “ketika… maka…” agar konsisten.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Planner 2026
Ilustrasi Planner 2026

 Setiap Januari, kantor-kantor itu seperti ikut “reset” diam-diam. Planner baru nongol di meja. Notebook masih wangi kertas. Di meeting, orang-orang jadi rajin bikin daftar: to-do list rapi, ambisi terdengar lebih jelas, dan ada semacam aura, “Tahun ini gue beda, deh.”

Lalu… Februari datang.

Planner yang kemarin terlihat seperti senjata pamungkas, sekarang jadi properti meja. Motivasi yang beberapa minggu lalu terasa nyata—kayak bisa dipegang—mulai menguap tanpa pamit. Biasanya, kita buru-buru menyalahkan diri sendiri: kurang disiplin, kurang niat, kurang “kuat”.

Padahal, psikologi punya cerita yang lebih manusiawi (dan jauh lebih berguna): awal baru memang jago bikin kita mulai, tapi sering gagal bikin kita bertahan.

Artikel ini membahas kenapa “fresh start” terasa sangat kuat—kenapa ia cepat melemah—dan bagaimana menyusun tujuan kerja yang bertahan saat energi nggak lagi semanis minggu pertama Januari.

DAFTAR ISI

Kenapa “fresh start” terasa begitu kuat

Awal tahun bekerja seperti yang disebut psikolog sebagai temporal landmark—semacam penanda waktu yang memisahkan “aku yang dulu” dari “aku yang baru”. Ada garis imajiner: sebelum 1 Januari dan setelah 1 Januari. Dan anehnya, garis imajiner itu terasa legit.

Dari riset perilaku, ada yang dikenal sebagai fresh start effect: ketika sebuah “bab baru” dimulai, orang cenderung merasa lebih termotivasi mengejar tujuan yang aspiratif. Bukan karena planner-nya ajaib, tapi karena planner itu melambangkan sesuatu yang kita kangenin: clean slate.

Clean slate itu seperti halaman kosong yang bilang, “Kegagalan kemarin nggak harus ikut pindah ke sini.” Di kepala kita, beban tugas yang belum selesai, proyek yang keteteran, atau target yang nggak tercapai tahun lalu seolah bisa ditinggal di belakang pintu.

Setelah Desember yang biasanya penuh beban—kalender padat, keputusan kecil yang numpuk, capek sosial, capek mental—melihat halaman kosong itu menenangkan. Menulis tujuan di notebook baru memberi sensasi singkat bahwa hidup bisa ditata ulang, niat bisa dijernihkan, dan kontrol bisa balik (pelan-pelan).

Dan itu bukan naif. Itu manusia.

Kenapa motivasi cepat luntur

Masalahnya bukan “fresh start” nggak ampuh. Masalahnya, kita sering keliru mengira euforia memulai sebagai bahan bakar jangka panjang.

Di sini, self-determination theory (teori motivasi yang cukup mapan) membantu menjelaskan kenapa semangat Januari gampang bocor. Teori ini menyebut motivasi cenderung bertahan kalau tujuan kita memenuhi tiga kebutuhan psikologis:

  1. Autonomy: terasa benar-benar pilihan kita, bukan sekadar “harus”.

  2. Competence: kita merasa mampu maju, ada tanda-tanda progress.

  3. Relatedness: kita merasa didukung—ada koneksi, ada teman seperjalanan.

Banyak tujuan Januari gagal karena tidak lulus “tes tiga kebutuhan” ini.

  • Tujuannya sering lahir dari tekanan sosial: “Harus lebih produktif.”

  • Atau terlalu kabur: “Pokoknya jadi lebih baik di kerjaan.”

  • Atau kebesaran porsi: “Sekalian rombak semuanya dalam sebulan.”

Begitu usaha awal belum menghasilkan progress yang kelihatan, rasa mampu (competence) mulai goyah. Saat competence turun, motivasi ikut turun. Maka muncullah ragu-ragu, planning cycle mandek, dan tujuan yang dulu terdengar heroik jadi terasa berat.

Makanya fenomena “gym membership Januari, ghosting Februari” sering punya versi kantor: program perubahan yang heboh di awal, lalu perlahan jadi slide presentasi yang mengendap di folder.

Ini bukan soal karakter jelek. Ini soal desain tujuan yang terlalu mengandalkan euforia.

Ada juga catatan penting dari riset motivasi: tujuan yang dikejar karena “aku seharusnya begitu” jarang tahan lama. Sebaliknya, tujuan yang terasa self-endorsed (kita mengiyakan dengan hati) dan bermakna, lebih mungkin bertahan ketika rasa “semangat baru” sudah habis.


Cara menyusun tujuan kerja yang benar-benar nempel

pria menulis di diari

Gambar: Ilustrasi Pria Yang Menulis Di Atas Planner

Kalau mau jujur, kunci follow-through bukan bikin target saat kita lagi on fire. Kuncinya adalah menyiapkan target yang tetap hidup saat kita sedang sibuk, terdistraksi, dan energi pas-pasan.

Bayangkan minggu yang kacau: chat nggak berhenti, meeting beruntun, keluarga butuh perhatian, badan capek. Di minggu itu, “versi realistis” dari tujuanmu harus tetap bisa berjalan.

Ada tiga pergeseran kecil yang sangat membantu.


1) Rancang tujuan untuk momen “dip”, bukan untuk puncak semangat

Anggap motivasi akan turun. Ini bukan pesimis—ini strategis.

Tentukan dari awal: kalau energi rendah, bentuk “lanjut” itu seperti apa?
Bukan versi ideal, tapi versi yang masih bermakna.

Contoh:

  • Alih-alih “rombak total sistem kerja tim”, ubah jadi: 20 menit review proses yang paling bikin macet.

  • Alih-alih “beresin semua backlog”, ubah jadi: pilih 1 tugas yang paling mengurangi beban minggu ini.

Ketika tujuan punya “mode hemat energi”, momentum lebih sulit mati. Di sinilah kamu sedang membangun kebiasaan kecil yang menjaga gerak tetap ada, meski pelan.

Mini checklist “Plan for the dip”

  • Apa langkah terkecil yang masih punya dampak?

  • Kalau hanya punya 10 menit, apa yang tetap bisa dilakukan?

  • Bagaimana tanda “aku masih di jalur” versi minggu super sibuk?

2) Cari alasan personal yang bikin kamu peduli (autonomy)

Beberapa tujuan memang datang dari review performa, KPI, atau ekspektasi tim. Wajar. Tapi motivasi lebih kuat kalau kamu bisa menemukan “alasan milikmu”.

Tanya pelan-pelan:

  • Tujuan ini nyambung ke pertumbuhan apa yang aku inginkan?

  • Ini membantu aku jadi orang kerja seperti apa?

  • Nilai apa yang mau aku bawa ke pekerjaan: ketelitian, ketenangan, keberanian ngomong jujur, konsistensi?

Misalnya, kalau targetmu “lebih rapi dokumentasi”, kamu bisa memaknai itu bukan sekadar patuh aturan, tapi cara “mengurangi chaos” supaya tim tidak buang tenaga menebak-nebak. Atau kalau targetmu “latihan komunikasi”, itu bisa jadi bentuk kepedulian: mengurangi miskom yang bikin stres semua orang (termasuk kamu).

Kalau butuh jangkar, kamu bisa menulis satu kalimat:

“Aku mengerjakan ini karena ______.”

Kalimat itu sederhana, tapi sering jadi pengingat ketika semangat sedang tipis.


3) Turunkan “biaya” untuk bertahan

Banyak target gagal bukan karena kita nggak mampu, tapi karena targetnya menuntut “mood bagus” dan “motivasi tinggi” setiap saat. Padahal hidup nggak punya fitur itu.

Solusinya: pecah tujuan jadi aksi kecil, konkret, dan berulang.

Contoh konkret:

  • Dari “lebih terorganisir” → “10 menit cek planner setiap Jumat sore.”

  • Dari “lebih fokus” → “tutup notifikasi 25 menit, lalu istirahat 5 menit.”

  • Dari “lebih disiplin” → “catat 1 hal yang belum selesai sebelum pulang.”

Ini mirip konsep implementation intentions—format “ketika… maka…”, yang membantu otak tidak perlu bernegosiasi setiap kali harus bertindak.

Contoh format:

  • Ketika jam 09.00, maka aku pilih 1 prioritas utama hari ini.

  • Ketika selesai meeting, maka aku tulis 3 poin keputusan + next step.

  • Ketika Jumat sore, maka aku review minggu ini 10 menit.

Kalau kamu pernah dengar prinsip “bangun sistem, bukan mengandalkan motivasi” dari buku Atomic Habits, spiritnya di situ: sistem yang tetap jalan bahkan di hari low-energy.

Toolkit praktis: ubah target ambisius jadi target yang tahan banting

pria bekerja di depan laptop

Gambar: Ilustrasi Pria Yang Bekerja Di Depan Laptop

Agar artikel ini bukan cuma enak dibaca tapi juga bisa dipakai, ini versi “alat tempur” yang bisa kamu copy ke notebook.

A) Tes 3 kebutuhan: Autonomy – Competence – Relatedness

Coba nilai tujuanmu (skala 1–10):

  • Autonomy: seberapa “aku banget” ini?

  • Competence: seberapa jelas langkah kecilnya dan tanda progress-nya?

  • Relatedness: siapa yang bisa bantu, atau minimal paham prosesnya?

Kalau salah satu skor rendah, biasanya itu titik bocor motivasi.

B) Template “tujuan + versi hemat energi”

Tulis begini:

  • Tujuan utamaku: ______

  • Tanda progress mingguan: ______

  • Versi 10 menit saat sibuk: ______

  • Versi 2 menit saat benar-benar mepet: ______

Contoh:

  • Tujuan: meningkatkan kualitas kerja (biar nggak revisi berulang)

  • Progress mingguan: 1 dokumen selesai dengan komentar lebih sedikit

  • Versi 10 menit: review outline sebelum nulis

  • Versi 2 menit: tulis 3 poin inti sebelum mulai

C) Untuk fokus yang realistis (tanpa drama)

Kadang “motivasi luntur” bukan malas, tapi otak lelah. Ini momen di mana strategi kecil jauh lebih efektif daripada marah-marah ke diri sendiri.

Kalau kamu sering terdistraksi, kamu bisa latihan fokus dengan pendekatan ringan seperti latihan membaca fokus 20 menit—bukan karena harus jadi “super produktif”, tapi karena fokus itu keterampilan yang bisa dilatih pelan-pelan.

Dan kalau masalahnya energi yang amburadul, jangan meremehkan tidur. Banyak rencana bagus mati karena badan capek. Coba cek ulang rutinitas istirahat dengan pendekatan tips sleep hygiene untuk pembaca—kadang yang kita butuhkan bukan strategi baru, tapi baterai yang nggak bocor.


Pendekatan yang lebih realistis (dan lebih ramah)

Keinginan untuk “start fresh” setiap Januari itu bukan konyol. Itu refleksi kebutuhan manusia untuk merasa punya harapan, arah, dan koherensi. Halaman kosong itu penting—hanya saja bukan karena ia otomatis mengubah perilaku.

Awal baru bisa membuka pintu perubahan. Tapi momentum yang tahan lama lahir dari apa yang kita bangun setelah novelty hilang.

Skill yang sebenarnya bukan menyusun tujuan saat motivasi sedang tinggi. Skill yang sebenarnya adalah merancang tujuan yang tetap hidup ketika motivasi sedang biasa saja—atau bahkan ketika kamu lagi nggak oke.

Kalau tahun ini kamu ingin beda, kamu nggak perlu jadi manusia baru dalam semalam. Cukup jadi manusia yang punya rencana versi sibuk, versi lelah, dan versi “aku tetap lanjut walau kecil”.

Dan itu, percaya deh, jauh lebih sustainable.


Atribusi Sumber (penulis asli): Artikel ini merupakan adaptasi terjemahan dari tulisan Gayani Gunasekera yang dipublikasikan di The Conversation, pada 7 Januari 2026.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!