Lima Cara Membuat Hari Kerja Terasa Lebih Baik Setiap Hari
Hari kerja terasa berat? Coba 5 kebiasaan kecil ini: minta bantuan, akui small wins, beri ruang, jalin koneksi, dan jaga keseimbangan—biar pulang lebih ringan.
Kebanyakan orang tahu rasanya menjalani hari kerja yang “berat”—capek, tegang, dan rasanya kepala masih di kantor bahkan setelah kamu pulang. Badan sudah rebahan, tapi pikiran masih scrolling daftar tugas yang belum selesai. Susah switch off.
Tapi, ada juga hari-hari ketika kerja terasa lebih ringan. Energi nggak keburu habis. Mood tetap stabil. Bahkan pas tutup laptop, kamu masih punya sisa tenaga buat hidup: ngobrol sama keluarga, olahraga, atau sekadar menikmati makan malam tanpa rasanya dikejar-kejar.
Menariknya, hari kerja yang terasa “enak” itu biasanya bukan karena kamu baru saja menang tender besar atau dapat promosi dadakan. Sering kali, yang bikin beda justru hal-hal kecil: interaksi yang hangat, suasana tim yang mendukung, dan cara kita mengatur langkah-langkah sederhana sepanjang hari.
Riset yang dilakukan Ioannis Kratsiotis dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa benar-benar didukung oleh orang di sekitarnya, itu membantu memenuhi tiga kebutuhan psikologis dasar: rasa kendali (otonomi), rasa mampu (kompetensi), dan rasa terhubung (koneksi). Ketika tiga hal ini “keisi” dengan cukup, hari kerja cenderung terasa lebih baik.
Kabar baiknya: kamu (dan tim kamu) bisa “menciptakan” lebih banyak hari seperti itu lewat lima cara simpel di bawah ini—nggak perlu nunggu kondisi sempurna dulu.
DAFTAR ISI
Minta bantuan—dan balas dengan bantuan juga
Dukungan itu nggak harus formal. Nggak selalu berarti meeting panjang atau sesi coaching yang makan setengah hari. Kadang cukup:
-
“Boleh minta pendapat 5 menit?”
-
“Aku stuck di bagian ini, kamu ada ide?”
-
“Kalau kamu sempat, aku pengin check-in sebentar.”
Interaksi kecil seperti ini bisa jadi pengaman emosi. Kamu jadi merasa: “Oke, aku nggak sendirian.” Dan itu ngaruh banget ke mood dan motivasi.
Tapi dukungan paling efektif biasanya dua arah. Jadi, selain berani minta bantuan, coba juga peka untuk menawarkan bantuan yang realistis. Nggak perlu jadi superhero—cukup jadi manusia yang hadir.
Contoh tawaran bantuan yang ringan:
-
“Kalau kamu mau, aku bisa review cepat draft-mu.”
-
“Aku baru ngerjain hal yang mirip. Mau aku share caranya?”
-
“Kamu kelihatan lagi padat. Ada yang bisa aku pegang sebentar?”
Kalau kamu kerja remote, kebiasaan ini tetap bisa jalan. Justru kadang lebih penting, karena orang lain tidak bisa “melihat” kamu sedang kewalahan. Satu pesan singkat bisa jadi penolong: “Kamu aman? Ada yang bisa dibantu?”
Kalau kamu butuh bacaan pendamping untuk membangun ritme kerja yang lebih rapi, kamu bisa tandai juga bagian seperti [[manajemen waktu atau cara membuat rutinitas kerja yang lebih sehat.
-
Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah
-
Jasa Backlink DoFollow Berkualitas Dari Berbagai Topik
-
Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website
-
Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain
-
Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis
Sadari dan nikmati small wins

Ada alasan kenapa hari terasa lebih berat saat kita merasa “nggak ngapa-ngapain”, padahal sebenarnya kita kerja dari pagi. Otak kita butuh bukti kemajuan—sekecil apa pun.
Karena itu, luangkan momen singkat untuk menyadari small wins. Misalnya:
-
Kamu akhirnya membalas email yang kamu tunda tiga hari.
-
Kamu menyelesaikan satu bagian tugas yang selama ini bikin enggan.
-
Kamu berhasil menahan diri untuk tidak multitasking (ini prestasi, serius).
Kadang small wins itu bahkan bukan soal output besar, tapi keputusan kecil yang sehat:
-
Kamu memilih istirahat 3 menit sebelum lanjut.
-
Kamu bilang “nggak dulu” ke permintaan yang nggak urgent.
-
Kamu merapikan prioritas sebelum panik.
Coba praktik cepat 30 detik menjelang siang:
-
Apa 1 hal kecil yang sudah lebih maju dibanding tadi pagi?
-
Apa 1 keputusan kecil yang membantu kamu tetap waras?
Kamu juga bisa pakai trik sederhana: bikin daftar “Done List” (bukan cuma to-do list). Isinya cuma tiga baris: “yang sudah kelar hari ini.” Nggak perlu puitis. Yang penting nyata.
Kalau kamu ingin versi kebiasaan fokus yang lebih terstruktur (tapi tetap ringan), kamu bisa tandai juga latihan membaca fokus 20 menit sebagai ide untuk menjaga ketenangan setelah jam kerja.
-
Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda
-
Berbisnis halal bikin hati tenang. Cek caranya disini!
-
Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik!
-
Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda!
-
Mau Hemat Biaya Transfer Antar Bank dan Isi Saldo e-Wallet?
Beri ruang untuk orang lain—dan untuk diri sendiri

Salah satu alasan kerja terasa melelahkan adalah ketika kita merasa seperti robot yang dikunci jalurnya: semuanya diatur, semua langkah harus sama, dan kita tidak punya ruang untuk memilih cara kerja yang cocok.
Padahal, rasa “punya kendali” atas hal-hal kecil bisa mengubah suasana satu hari penuh.
Ruang itu bisa sesederhana:
-
Memilih urutan tugas (yang penting dulu, atau yang ringan dulu untuk pemanasan).
-
Memilih cara menyelesaikan (pakai catatan manual, spreadsheet, atau voice note).
-
Memilih kapan mengerjakan bagian yang butuh fokus (misalnya pagi ketika otak masih segar).
Kalau kamu punya peran yang melibatkan orang lain, coba latih kebiasaan memberi ruang juga:
-
Jelaskan tujuan, bukan mengatur setiap langkah.
-
Tanyakan: “Kamu lebih nyaman ngerjainnya gimana?”
-
Tawarkan opsi: “Mau aku bantu bikin kerangka, atau kamu butuh waktu sendiri dulu?”
Memberi ruang itu bentuk kepercayaan. Dan kepercayaan adalah vitamin sosial di kantor—kecil, tapi efeknya terasa.
Yang penting: “ruang” bukan berarti lepas tangan. Ruang itu seperti memberi jalan napas—kamu tetap ada, tapi tidak menekan.
Jalin koneksi sebelum hari berakhir
Ada kalimat sederhana yang bisa mengubah rasa pulang: “Makasih ya.”
Serius. Kadang hari terasa berat bukan karena tugasnya, tapi karena suasananya dingin. Tidak ada momen hangat. Tidak ada tanda bahwa kita dilihat sebagai manusia, bukan sekadar mesin kerja.
Coba sebelum hari selesai, lakukan satu tindakan kecil yang membangun koneksi:
-
Ucapkan terima kasih secara spesifik: “Makasih ya tadi kamu bantu jelasin. Itu ngebantu banget.”
-
Kirim pesan apresiasi singkat.
-
Ajak ngobrol ringan 2 menit: “Hari kamu gimana?”
Koneksi yang tulus itu seperti menutup hari dengan nada yang lebih lembut. Kamu jadi pulang dengan perasaan “lebih ringan,” bukan “akhirnya selesai juga.”
Kalau kamu kerja remote atau hybrid, ini bisa jadi ritual penutup:
-
Kirim satu pesan “closing”: update singkat + apresiasi.
-
Bikin kebiasaan check-out: “Aku selesai untuk hari ini. Terima kasih semuanya.”
Ini bukan basa-basi. Ini cara membangun jaring pengaman sosial—yang suatu hari bisa kamu pakai saat kamu butuh dukungan.
Kamu bisa tandai juga frasa seperti membangun hubungan kerja yang sehat atau komunikasi efektif di tempat kerja untuk bacaan lanjutan.
Jaga keseimbangan: cek “yang kosong”, lalu isi sedikit
Kadang kita merasa drained bukan karena kerja terlalu banyak, tapi karena salah satu kebutuhan dasar tadi sedang “minus”.
Coba cek cepat:
-
Apakah hari ini kamu merasa terlalu dikontrol (kurang otonomi)?
-
Apakah kamu merasa tidak ada progres sama sekali (kurang kompetensi)?
-
Apakah kamu merasa sendirian meski ramai (kurang koneksi)?
Kuncinya bukan memaksimalkan satu hal sampai meledak, tapi mengembalikan keseimbangan. Caranya bukan revolusi. Cukup langkah kecil.
Contoh langkah kecil sesuai kebutuhan:
-
Kalau kamu butuh otonomi: pilih urutan tugasmu sendiri untuk 1–2 jam ke depan.
-
Kalau kamu butuh progres: kerjakan tugas yang manageable dulu, biar ada rasa “kelar”.
-
Kalau kamu butuh koneksi: lakukan check-in singkat dengan satu orang yang kamu percaya.
Dan kalau kamu punya posisi yang bisa membentuk kultur tim, ajak orang lain melakukan hal yang sama. Saat keseimbangan jadi kebiasaan bersama, “hari baik” tidak lagi terasa seperti kejadian langka.
Kalau kamu merasa akhir-akhir ini susah tidur karena pikiran kerja masih muter, kamu bisa tandai tips sleep hygiene untuk membantu proses switch off setelah jam kantor.
Perubahan kecil, dampaknya tidak kecil
Pesan utama dari riset ini sederhana: hari kerja yang terasa lebih baik tidak butuh kondisi sempurna. Ia sering lahir dari momen-momen kecil yang konsisten—dukungan singkat, kepercayaan kecil, apresiasi tulus, dan keseimbangan yang dijaga pelan-pelan.
Saat tiga kebutuhan dasar (otonomi, kompetensi, koneksi) lebih seimbang, kamu cenderung:
-
lebih enak menjalani jam kerja,
-
lebih punya energi saat pulang,
-
dan lebih mampu menghadapi hari sulit tanpa merasa “habis”.
Kerja memang akan selalu punya dramanya sendiri. Tapi sering kali, kita punya pengaruh lebih besar atas pengalaman harian kita daripada yang kita kira.
Mulai besok, kamu tidak perlu mengubah seluruh hidup. Cukup pilih satu dari lima cara di atas—lakukan kecil-kecil, tapi serius. Karena kadang, yang kita butuhkan bukan hidup baru. Cuma hari yang terasa sedikit lebih baik.
Atribusi penulis asli
Artikel ini merupakan adaptasi terjemahan dari tulisan Ioannis Kratsiotis, diterbitkan 7 Januari 2026 di The Conversation.
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.
Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.




















