FOMO Menurut Alquran: Pesan Tajam buat yang Resah
Sering merasa ketinggalan dari orang lain? Simak pesan Alquran soal FOMO yang bisa bantu kamu lebih tenang, fokus, dan bersyukur dengan hidup sendiri.
Kenapa kita lebih takut ketinggalan tren daripada kehilangan diri sendiri?
Coba deh jujur sama diri sendiri. Pernah nggak, lagi scroll medsos, terus lihat teman seangkatan udah punya rumah sendiri, udah jalan-jalan ke luar negeri, udah naik jabatan—dan dada kamu mendadak sesak tanpa sebab yang jelas? Bukan karena kamu nggak senang buat mereka, tapi karena ada bisikan kecil yang nyeletuk, "Kok aku belum, ya?"
Itulah FOMO, alias fear of missing out. Rasa takut ketinggalan yang nggak berisik, tapi diam-diam menggerogoti dari dalam, kayak rayap yang makan kayu pelan-pelan sampai akhirnya rapuh sendiri. Kita lihat orang lain berlari, lalu merasa langkah sendiri terlalu lambat. Kita lihat orang lain punya, lalu hati diam-diam merasa kurang. Dunia jadi terasa seperti pasar yang riuh, dan jiwa kita berubah jadi pembeli yang gelisah—takut banget pulang tanpa membawa apa-apa.
Singkatnya, FOMO menurut Alquran bukan sekadar istilah anak zaman sekarang. Ini gejala zaman yang ternyata sudah dibahas jauh sebelum kata "FOMO" itu sendiri ada. Dan menariknya, Alquran nggak cuma menenangkan permukaannya, tapi langsung membongkar akarnya.
DAFTAR ISI
- Titik Seimbang yang Ditawarkan QS Al-Hadid Ayat 23
- Stop Menoleh ke "Bunga" Punya Orang Lain (QS Thaha 131)
- Yang Terlihat Menarik, Belum Tentu Baik (QS Al-Baqarah 216)
- Dunia Itu Cuma Perhiasan Sementara, Bukan Inti Kehidupan (QS Al-Qasas 60)
- Ketenangan Itu Soal Hati yang Terhubung, Bukan Soal Punya Banyak (QS Ar-Ra'd 28)
- Standar Kemuliaan Sejati Menurut Allah (QS Al-Hujurat 13)
- Jadi, Gimana Cara Mengatasi FOMO Sehari-hari?
- Cukup Itu Kekayaan yang Sebenarnya
Titik Seimbang yang Ditawarkan QS Al-Hadid Ayat 23
Dalam QS. Al-Hadid ayat 23, manusia diajak berdiri di satu titik keseimbangan:
"Agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu."
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafātīḥul Ghaib menjelaskan, ayat ini bukan cuma soal mengelola emosi, tapi soal cara pandang hidup secara keseluruhan. Segala yang datang dan pergi sudah ada dalam pengetahuan Allah. Jadi, rasa gelisah karena "ketinggalan" itu sebenarnya muncul karena kita gagal memahami satu hal sederhana: tidak semua yang terlewat itu kerugian.
Kalau kamu sering merasa overthinking padahal sudah berusaha maksimal, mungkin kamu juga perlu baca psikologi di balik rasa cemas meski sudah produktif. Sering kali, sumber gelisahnya bukan dari kurangnya usaha, tapi dari cara kita menilai diri sendiri.
Stop Menoleh ke "Bunga" Punya Orang Lain (QS Thaha 131)
Kita sering gelisah bukan karena benar-benar kekurangan, tapi karena terlalu sering menoleh ke kanan-kiri. QS. Thaha ayat 131 mengingatkan:
"Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada sebagian mereka sebagai bunga kehidupan dunia."
Dalam tafsir Al-Razi, "bunga" dunia itu memang indah, tapi sifatnya fana—cantik kalau dilihat dari jauh, tapi nggak bertahan lama. FOMO lahir saat kita menjadikan "bunga" punya orang lain sebagai standar kebahagiaan kita sendiri, padahal itu cuma ujian, bukan tolok ukur.
Ini mirip banget sama jebakan media sosial. Kita lihat highlight reel orang lain, lalu merasa hidup kita kurang berwarna. Padahal, kenapa semua yang kamu pikirkan soal dirimu sendiri itu sering cuma ilusi juga, karena standar yang kita pakai untuk menilai diri sendiri seringkali bukan standar kita, melainkan standar orang lain.
Jasa Asisten Virtual Online untuk Lembaga Pendidikan dan ASN Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah Jasa Pembuatan Hingga Kustomasi Aplikasi Berbasis Website Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain
Yang Terlihat Menarik, Belum Tentu Baik (QS Al-Baqarah 216)
Alquran juga meruntuhkan satu ilusi besar: bahwa segala sesuatu yang menarik itu wajib dikejar. QS. Al-Baqarah ayat 216 menyatakan:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu."
Al-Razi menegaskan, manusia menilai berdasarkan rasa, sementara Allah menilai berdasarkan ilmu. Di titik inilah jebakan FOMO bekerja—kita mengejar sesuatu karena terlihat menarik, bukan karena memang baik buat kita.
Dunia Itu Cuma Perhiasan Sementara, Bukan Inti Kehidupan (QS Al-Qasas 60)
Lalu, Alquran meredam kegaduhan dunia dengan satu kalimat yang sederhana tapi tajam. QS. Al-Qasas ayat 60:
"Apa yang diberikan kepadamu hanyalah kenikmatan dunia dan perhiasannya."
Menurut Al-Razi, "perhiasan" itu sesuatu yang memperindah, tapi bukan esensi. Dunia hanya perhiasan sementara—bukan untuk dikejar habis-habisan, tapi untuk digunakan secukupnya. FOMO membuat kita lupa membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar hiasan yang nggak benar-benar kita perlukan.
Ketenangan Itu Soal Hati yang Terhubung, Bukan Soal Punya Banyak (QS Ar-Ra'd 28)
Tapi Alquran nggak cuma membongkar, dia juga menyembuhkan. QS. Ar-Ra'd ayat 28 hadir dengan jawaban yang menenangkan:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
Al-Razi menjelaskan, ketenangan itu bukan hasil dari kepemilikan, melainkan dari keterhubungan dengan Allah. Artinya, kegelisahan ala FOMO ini nggak bisa disembuhkan dengan menambah apa yang kita punya, tapi dengan menata ulang apa yang ada di dalam hati.
Kalau kamu sedang merasa hidup terasa hambar atau datar-datar saja, mungkin bukan karena kurang pencapaian, tapi karena ada ruang dalam hati yang belum "diisi" dengan benar. Soal ini, kamu bisa baca lebih lanjut di psikologi ketika hidup terasa hambar dan kosong.
Produk sehat yang benar-benar sehat, dengan harga yang lebih hemat! Nikmati fitur lengkap dari aplikasi favorit kamu tanpa ribet. Langganan aman dan cepat lewat link ini Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda Berbisnis halal bikin hati tenang. Cek caranya disini! Mau Hemat Biaya Transfer Antar Bank dan Isi Saldo e-Wallet?
Standar Kemuliaan Sejati Menurut Allah (QS Al-Hujurat 13)
Akhirnya, Alquran menutup semua ilusi itu dengan satu standar yang membebaskan. QS. Al-Hujurat ayat 13:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
Nilai seseorang nggak diukur dari apa yang dia miliki, tapi dari siapa dirinya di hadapan Allah. Ini semacam revolusi cara pandang—dari yang tadinya fokus ke dunia luar, jadi fokus ke dunia batin. Dan kalau dipikir-pikir, ini juga sejalan dengan pemahaman bahwa mengejar prestasi demi pengakuan orang lain belum tentu membawa kebahagiaan. Standar kemuliaan menurut Islam ternyata jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih dalam, dari sekadar pencapaian yang terlihat di permukaan.
Jadi, Gimana Cara Mengatasi FOMO Sehari-hari?
Setelah memahami semua pesan di atas, pertanyaannya sekarang: gimana cara praktisnya? Berikut beberapa hal yang bisa mulai kamu coba:
- Sadari dulu, baru proses. Saat rasa "kok dia udah, aku belum" muncul, jangan langsung dilawan. Akui dulu kalau perasaan itu ada, lalu ingat-ingat kembali QS. Al-Hadid: 23—bahwa apa yang luput darimu sudah dalam pengetahuan Allah.
- Kurangi waktu "menoleh". Coba batasi waktu scrolling media sosial, terutama di jam-jam rawan seperti sebelum tidur. Kalau kamu merasa digital detox yang sudah dicoba ternyata belum terasa hasilnya, mungkin yang perlu diubah bukan durasinya, tapi caranya.
- Bedakan kebutuhan dan hiasan. Sebelum membeli atau mengejar sesuatu, tanya dulu: ini benar-benar aku butuhkan, atau cuma karena orang lain punya?
- Ciptakan ruang sunyi. Luangkan waktu tanpa notifikasi, tanpa target, tanpa perbandingan. Soal ini, keheningan yang justru jadi gaya hidup mewah di era serba ramai bisa jadi bacaan menarik buat kamu.
- Rawat hubungan dengan Allah. Dzikir, sholat, dan doa bukan sekadar ritual, tapi cara paling efektif untuk menata hati yang gelisah—sesuai pesan QS. Ar-Ra'd: 28.
- Latih rasa cukup. Cukup itu bukan tentang berhenti berusaha, tapi tentang berhenti membandingkan hasil usaha kita dengan hasil usaha orang lain.
Kalau kamu juga butuh kebiasaan-kebiasaan kecil yang efeknya terasa dalam waktu singkat, beberapa kebiasaan sederhana yang bisa bikin hidup terasa lebih baik dalam seminggu juga bisa jadi pelengkap dari poin-poin di atas.
Cukup Itu Kekayaan yang Sebenarnya
Di tengah dunia yang berlari kencang, strategi terbaik bukan ikut berlari tanpa arah, tapi berani memilih. Tidak semua yang ramai harus diikuti. Tidak semua yang viral harus dikejar. Dan tidak semua yang kita lewatkan itu kerugian.
Justru di era yang penuh FOMO ini, ketenangan jadi keunggulan. Fokus jadi kekuatan di tengah dunia yang serba cepat. Dan kemampuan untuk bilang "cukup" jadi bentuk kecerdasan tertinggi yang jarang dimiliki banyak orang.
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa banyak yang kita genggam, tapi seberapa tepat yang kita pilih.
Yang sebenarnya kita cari bukanlah menyamakan diri dengan mereka yang terlihat lebih diapresiasi banyak orang, melainkan kemampuan untuk berkata pelan dalam hati: alhamdulillah. Bersyukur dengan apa yang dimiliki, dengan diri yang apa adanya, yang terus belajar menghamba, berdzikir, dan menapaki kebaikan sedikit demi sedikit. Di sanalah letak ketenangan hati menurut Islam yang sebenarnya—bukan hanya menenangkan diri sendiri, tapi juga memantul ke sekitar, menyentuh orang-orang di sekeliling kita tanpa perlu disadari.
Syukur yang sederhana, tapi diam-diam merawat semesta.
Diadaptasi dari tulisan Erdy Nasrul, yang dimuat di Republika (iqra.republika.co.id), pada 10 April 2026.
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.
Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.





















