Kenapa Ngotot Cari yang Terbaik Justru Bikin Hidupmu Makin Runyam, Kata Peraih Nobel Ini
Peraih Nobel Herbert Simon cuma punya satu topi dan sarapan yang itu-itu aja tiap hari. Kenali "satisficing", cara mengambil keputusan tanpa overthinking yang bikin dia—dan bisa bikin kamu—lebih tenang.
Coba bayangin ada orang yang setiap pagi sarapannya itu-itu aja: setengah grapefruit, oatmeal, kopi hitam. Bertahun-tahun, tanpa variasi. Bajunya juga cuma tiga stel, itu pun dengan pembagian yang sangat spesifik: satu dipakai, satu di cucian, satu lagi standby di lemari. Topi bereta yang dia punya juga cuma satu biji dalam satu waktu. Rumahnya? Itu-itu aja selama 46 tahun.
Kedengarannya kayak orang yang hidupnya datar banget, ya? Tapi orang ini justru salah satu pemikir paling berpengaruh di abad ke-20. Namanya Herbert Simon, dan dia memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1978, Turing Award (penghargaan tertinggi di dunia ilmu komputer), dan dianggap sebagai salah satu bapak kecerdasan buatan alias AI. Kontribusinya menyebar ke enam bidang ilmu berbeda—dari psikologi sampai ilmu politik.
Yang menarik, orang yang hidupnya sesederhana dan seminim variasi ini justru menghabiskan sebagian besar kariernya untuk meneliti satu pertanyaan besar: gimana sih sebenarnya manusia mengambil keputusan? Dan dari situ, dia justru menemukan jawaban soal kenapa mencari yang terbaik bikin capek, sekaligus formula sederhana buat cara mengambil keputusan tanpa overthinking.
DAFTAR ISI
- Setiap Pilihan Itu Ada "Ongkos"-nya
- Riset Membuktikan: Jadi "Maximizer" Itu Nggak Enak
- "Jalan yang Tak Dipilih"—Puisi yang Sering Disalahpahami
- Paradoks Fredkin: Kenapa Kita Buang Waktu untuk Hal yang Nggak Penting
- Life Maxing: Ketika Semua Serba Harus "Dimaksimalkan"
- Kisah Murakami: Tragedi Mencari yang "Sempurna"
- Jadi, Gimana Cara Menerapkannya?
- Pertanyaan yang Sering Muncul
Setiap Pilihan Itu Ada "Ongkos"-nya
Buat Simon, tindakan mengambil keputusan itu sendiri punya biaya. Entah kamu lagi milih mesin cuci atau milih pasangan hidup, proses mencari opsi yang "paling terbaik" itu makan waktu dan energi yang sering banget luput dari perhitungan orang.
Makanya, strategi paling optimal menurut Simon justru bukan soal mengoptimalkan segalanya. Strateginya sederhana: temukan sesuatu yang cukup baik, terus stop. Dia menyebut ini satisficing—gabungan dari kata satisfy (memuaskan) dan suffice (mencukupi).
Kalau Simon dihadapkan pada keputusan penting, dia bakal mempertimbangkan beberapa alternatif, ambil keputusan, terus jalan terus. Nggak ada drama galau berkepanjangan, nggak ada acara nyesel-nyesel di kemudian hari.
Sepanjang abad ke-20, ilmu ekonomi dibangun di atas satu model yang disebut rational actor—anggapan bahwa manusia selalu menimbang semua opsi yang ada secara cermat, lalu memilih yang paling optimal. Ini fondasi utama cara para ekonom memahami perilaku manusia waktu itu.
Simon nggak setuju. Menurutnya, jadi sepenuhnya rasional itu hal yang mustahil. Untuk benar-benar menemukan opsi terbaik dari sebuah keputusan, kamu perlu memahami semua alternatif yang ada, bisa memprediksi konsekuensi dari masing-masing opsi secara akurat, dan punya cukup waktu serta kapasitas otak untuk membandingkan semuanya satu per satu. Realitanya? Nggak ada manusia yang benar-benar bisa melakukan itu. Kita semua kerja dengan informasi yang nggak lengkap dan kapasitas otak yang terbatas—dan di situlah masalahnya: proses "mencari" itu sendiri yang justru jadi beban.
Coba deh inget-inget, tiap jam yang kamu habiskan buat bandingin harga di marketplace, tiap opsi baru yang kamu tambahin ke daftar pertimbangan—itu semua ongkos, baik dari sisi waktu maupun (kadang) kewarasan. Familiar dengan istilah decision paralysis? Nah, itulah efeknya.
Konsultasi IT Online | Support Komputer, Email dan Internet Jasa Asisten Virtual Online untuk Lembaga Pendidikan dan ASN Jasa Renovasi/Perombakan Tampilan Situs Web Dinamis dan Statis Pembuatan Aplikasi Berbasis Web Sistem Manajemen Sekolah Jasa Pengelolaan Website Joomla, Wordpress, Hingga CMS Lainnya Jasa Pembuatan Website Joomla, Wordpress dan Web Dinamis Lain
Riset Membuktikan: Jadi "Maximizer" Itu Nggak Enak
Setelah Simon meninggal di tahun 2001, para psikolog yang meneruskan risetnya justru membuktikan bahwa filosofi hidupnya itu bukan cuma unik, tapi juga terbukti efisien dan bijak. Psikolog Barry Schwartz dan timnya menyusun sebuah alat ukur bernama Maximization Scale, buat mengukur di mana posisi seseorang dalam spektrum antara maximizer dan satisficer. Hasilnya konsisten: jadi maximizer itu hampir selalu berujung nggak enak.
Kalau dibandingkan langsung, hasil pertarungan maximizer vs satisficer ini nggak imbang-imbang amat. Orang-orang dengan kecenderungan maximizer cenderung:
- Kurang puas dengan keputusan dan hidup mereka sendiri
- Lebih gampang sedih dan gampang menyesal
- Terus-menerus membanding-bandingkan diri dengan orang lain
- Lebih sering memilih opsi yang "masih bisa diubah nanti", padahal ini justru bikin mereka nggak pernah benar-benar komit ke satu pilihan
Kalau kamu ngerasa sering banget kena poin ketiga, coba deh mulai belajar cara berhenti membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain di linimasa.
Dan yang lebih bikin waswas, ada bukti bahwa kecenderungan maximizing ini makin marak belakangan ini.
Sementara itu, satisficer nggak berarti standarnya rendah, lho. Standar mereka cuma beda: "yang penting cukup buat gue, buat apa yang lagi gue kerjain," bukan "yang paling terbaik yang ada di luar sana." Bedanya cuma di situ, tapi dampaknya besar—mereka jadi bisa merasa puas dengan pilihan yang sudah diambil, bukannya terus dihantui sama opsi-opsi yang nggak dipilih.
Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, orang yang mencetuskan konsep flow, pernah bilang hal yang pas banget soal ini: dengan berkomitmen pada satu pilihan—terlepas dari kemungkinan ada opsi yang lebih baik muncul belakangan—energi yang tadinya kepake buat mikirin "gimana caranya hidup" jadi bisa dialihkan buat benar-benar menjalani hidup itu sendiri. Kalau kamu ngerasa relate, mungkin ini saatnya belajar soal [Kenapa Melakukan Lebih Sedikit Justru Bikin Kamu Mencapai Lebih Banyak (Ini Kata Neurosains)|melakukan lebih sedikit justru mencapai lebih banyak].
Nikmati fitur lengkap dari aplikasi favorit kamu tanpa ribet. Langganan aman dan cepat lewat link ini Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik! Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda! Dapatkan Akun Bersama Berbagai Aplikasi Web Populer Dengan Harga Murah! Sewa Domain, Hosting, Hingga VPS untuk Proyek Digital Anda!
"Jalan yang Tak Dipilih"—Puisi yang Sering Disalahpahami
Satu abad sebelumnya, penyair Robert Frost sebenarnya udah menyampaikan pesan serupa lewat salah satu puisi paling terkenal yang pernah ditulis orang Amerika: The Road Not Taken. Kamu mungkin nggak hafal seluruh puisinya, tapi baris terakhirnya pasti familiar—soal dua jalan yang bercabang, dan sang tokoh mengambil jalan yang "jarang dilalui", yang katanya "membuat semua perbedaan."
Setiap musim kelulusan, bait ini selalu dibaca sebagai perayaan keberanian mengambil pilihan yang beda dari orang lain. Ambil jalan yang berani. Jadilah yang berbeda. Tapi kalau kamu baca teksnya lebih teliti, itu sebenarnya salah tafsir besar. Di dalam puisi, kedua jalan itu digambarkan sama persis—"sama-sama bagus", "nggak ada jejak kaki di keduanya pagi itu". Konon, Frost menulis puisi ini sebagian buat menyindir temannya sendiri, penyair Edward Thomas, yang tiap kali mereka jalan bareng selalu galau milih jalan mana yang harus diambil, terus di akhir jalan selalu bilang seharusnya ambil jalan yang satunya.
Bait terakhir yang terkenal itu—yang sering banget dicetak di kartu ucapan wisuda—sebenarnya adalah gambaran sang tokoh membayangkan dirinya di masa depan, mengubah pilihan yang sebenarnya nggak signifikan jadi terkesan menentukan arah hidupnya. Padahal, perbedaan yang diceritakan di puisi itu sebenarnya nggak pernah ada.
Paradoks Fredkin: Kenapa Kita Buang Waktu untuk Hal yang Nggak Penting
Ada nama khusus buat fenomena "galau berlebihan" kayak gini: Paradoks Fredkin, dinamai dari fisikawan Edward Fredkin. Intinya begini: makin mirip dua pilihan kelihatannya, makin susah buat memutuskan salah satunya—padahal, secara logika yang sama, artinya pilihan itu makin nggak penting-penting amat.
Kita justru sering menghabiskan waktu paling banyak buat keputusan yang sebenarnya opsinya nggak jauh beda—karena kalau opsinya kelihatan mirip, kita jadi susah membedakannya, dan energi kita malah kepake buat coba-coba membedakan yang sebenarnya nggak perlu dibedakan. Makin dekat kualitas dua pilihan, makin susah buat milih salah satunya. Familiar dengan drama milih Indomie goreng atau mie sedaap di minimarket selama lima menit padahal ujung-ujungnya sama-sama enak? Nah, itu dia paradoks Fredkin dalam mengambil keputusan yang kejadian tiap hari.
Life Maxing: Ketika Semua Serba Harus "Dimaksimalkan"
Sekarang ini, kita hidup di dunia yang cenderung ngoyo mengoptimalkan segalanya, persis kayak Edward Thomas yang galau tiap jalan bareng Frost. Fenomena life maxing generasi Z ini bahkan udah punya istilah khususnya sendiri. Faktanya, istilah "-maxing" ini udah dipakai buat hampir semua hal:
- Looks maxing — usaha maksimal buat tampil sebaik mungkin
- Money maxing — usaha memeras keuntungan maksimal dari setiap kesempatan
- Sleep maxing — optimasi kualitas tidur sampai detail terkecil
- Fiber maxing — bahkan asupan serat harian pun dioptimalkan habis-habisan
Apa pun jenis "-maxing" yang lagi tren, intinya sama: berusaha bikin setiap keputusan kecil jadi seoptimal mungkin demi hasil yang paling maksimal.
Menurut sejumlah kalkulasi akademis, manusia zaman sekarang punya opsi ratusan juta kali lebih banyak dibanding nenek moyang kita di era pra-industri. Media sosial memperparah masalah ini dengan berfungsi sebagai mesin pembanding tanpa akhir. Begitu kamu bisa lihat highlight reel karier, hubungan, rumah, sampai liburan orang lain yang udah dikurasi habis-habisan, konsep "cukup baik" jadi terasa kayak "menyerah" atau "settle". Ini juga sebabnya FOMO media sosial bikin nggak pernah puas buat banyak orang, sampai [FOMO Menurut Alquran: Pesan Tajam buat Kamu yang Capek Ngerasa Ketinggalan|capek ngerasa selalu ketinggalan] tiap buka aplikasi.
Riset bahkan membuktikan: kasih orang banyak video buat di-scroll dan pindah-pindah justru bikin mereka lebih gampang bosan, dibanding kalau mereka cuma fokus nonton satu video dari kumpulan yang sama. Sekadar kemungkinan bahwa "ada yang lebih baik di luar sana" aja udah cukup buat merusak momen yang lagi dijalani.
Kenapa AI Bikin Kita Makin Susah Memilih
Dan sekarang, dengan hadirnya AI, godaan untuk mengoptimalkan segalanya jadi makin menggiurkan—jadwal harian, pola makan, isi lemari baju, cara mencari pasangan, bahkan karya kreatif kita. Tapi kalau Simon benar, bahaya dari tools semacam ini bukan karena mereka nggak berfungsi. Justru sebaliknya: mereka bakal terus memperluas menu pilihan dan bahan perbandingan, yang ujung-ujungnya malah memperdalam rasa kecewa dan kelumpuhan dalam mengambil keputusan yang seharusnya mereka selesaikan. Nggak pernah semudah ini buat kita "kebanyakan mikir".
Kisah Murakami: Tragedi Mencari yang "Sempurna"
Novelis Jepang Haruki Murakami pernah menuliskan cerpen yang menggambarkan tragedi ala maximizer ini dengan sangat pas. Ceritanya, ada seorang cowok dan cewek kesepian yang ketemu di persimpangan jalan, dan langsung merasa yakin satu sama lain adalah pasangan yang 100% sempurna. Mereka mengobrol berjam-jam sambil berpegangan tangan—rasanya kayak mukjizat.
Tapi sebuah keraguan kecil muncul: apa iya wajar kalau mimpi bisa terwujud semudah ini? Mereka pun sepakat bikin "tes": kalau memang benar-benar berjodoh, mereka yakin takdir bakal mempertemukan mereka lagi suatu hari, dan waktu itu terjadi, mereka bakal langsung menikah tanpa pikir panjang. Si cowok jalan ke arah barat, si cewek ke arah timur.
Mereka memang benar-benar berjodoh. Tapi sayangnya... mereka nggak pernah ketemu lagi.
Jadi, Gimana Cara Menerapkannya?
Hidup Simon sendiri adalah contoh nyata dari rahasia hidup tenang ala Herbert Simon yang sebenarnya sudah dia jalani seumur hidupnya. Dia bukan minimalis karena kurang ambisi—justru sebaliknya, dia jadi salah satu akademisi paling produktif di zamannya justru karena dia menolak buang-buang kapasitas mikirnya buat urusan kaus kaki, menu sarapan, atau baju mana yang mau dipakai hari ini.
Satisficing bukan berarti nurunin standar hidup. Ini soal menentukan, dari awal, keputusan mana yang layak dicari "yang terbaik", dan keputusan mana yang cukup "yang penting oke" aja—terus punya disiplin buat berhenti nyari begitu standar itu udah tercapai. Kalau kamu ngerasa selama ini terlalu banyak energi kepake buat hal-hal yang sebenarnya nggak krusial-krusial amat, mungkin udah waktunya coba [Ternyata Ini yang Terjadi Kalau Kamu Berhenti Ngoyo Kejar yang Nggak Penting|berhenti ngoyo kejar yang nggak penting] dan lihat bedanya.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Video Aslinya: Why Searching for the Best is Actually the Worst
Apa itu satisficing? Satisficing adalah strategi mengambil keputusan yang dicetuskan oleh peraih Nobel Herbert Simon, gabungan dari kata satisfy dan suffice. Bukannya cari opsi paling sempurna, satisficer memilih opsi pertama yang sudah memenuhi standar wajar, lalu berhenti mencari.
Lebih baik jadi maximizer atau satisficer? Berdasarkan riset pakai Maximization Scale dari psikolog Barry Schwartz dan tim, maximizer secara konsisten melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah, lebih sering menyesal, dan lebih sering membanding-bandingkan diri dengan orang lain—meskipun kadang hasil akhir pilihan mereka objektifnya lebih bagus.
Apa itu Paradoks Fredkin? Paradoks Fredkin, yang dicetuskan fisikawan Edward Fredkin, menyatakan bahwa makin mirip dua pilihan kelihatannya, makin susah kita memutuskan salah satunya—padahal makin miripnya opsi tersebut, makin kecil juga dampak dari pilihan mana pun yang kita ambil.
Apakah puisi "The Road Not Taken" benar-benar soal keberanian jadi beda dari orang lain? Kebanyakan pembacaan sastra bilang enggak. Puisi itu justru menggambarkan dua jalan yang nyaris identik. Banyak yang membacanya sebagai sindiran soal bagaimana manusia suka memberi makna besar pada pilihan yang sebenarnya, saat diambil, hampir-hampir nggak ada bedanya.
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 |
















