Skip to main content

Lagi Kena Reading Slump? Ini Cara Balik Jatuh Cinta Sama Buku Lagi

Lagi malas baca buku? Kenali reading slump dan coba cara mengatasi reading slump lewat trik bawa buku ke mana-mana, silent book club, sampai audiobook multi-suara.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Pekerjaan & Produktivitas
Ilustrasi Remaja Membaca Buku di Perpustakaan
Ilustrasi Remaja Membaca Buku di Perpustakaan

Kabar baik dan kabar buruknya gini, Sob. Kabar baiknya: gairah membaca sebenarnya nggak pernah benar-benar mati, cuma lagi "tidur siang" aja. Kabar buruknya: buat sebagian besar dari kita, membuka lembar pertama buku sekarang terasa seberat naik gunung, padahal dulu rasanya seringan minum es teh manis.

Fenomena ini punya nama keren: reading slump — fase ketika minat membaca tiba-tiba anjlok, padahal dulunya kamu kutu buku sejati. Penyebabnya klise tapi nyata: jadwal kerja yang menguras energi, notifikasi ponsel yang nggak ada habisnya, sampai mata yang keburu berat begitu buku dibuka. Bahkan gerakan literasi digital yang digalakkan Perpustakaan Nasional RI lewat berbagai platform baca gratis pun kadang belum cukup untuk bikin orang benar-benar konsisten baca setiap hari.

Kalau kamu penasaran cara mengatasi reading slump tanpa harus memaksa diri baca 300 halaman dalam semalam, coba beberapa pendekatan berikut. Nggak perlu semuanya sekaligus — pilih satu-dua yang paling masuk akal buat rutinitas kamu.


Banner Layanan Asisten Virtual
Banner Layanan Asisten Virtual



DAFTAR ISI

Anggap Membaca Seperti "Nge-gym" yang Menyenangkan

Sama seperti olahraga, alasan paling gampang buat skip baca adalah "lagi nggak bawa bukunya". Makanya, triknya mirip orang yang selalu naruh baju olahraga di tas kerja: selalu bawa bacaan ke mana pun kamu pergi, entah dalam bentuk buku fisik yang muat di tas atau aplikasi e-book di ponsel.

Novelis horor kenamaan Stephen King dikenal punya kebiasaan ini — ia selalu membawa buku ke mana pun dia pergi, dan memanfaatkan celah-celah waktu singkat, seperti saat mengantre di kasir atau menunggu di ruang tunggu, untuk mencicil beberapa halaman. Nggak perlu duduk manis satu jam penuh; cukup "seruput kecil" beberapa menit, berkali-kali dalam sehari.

Salah satu cara membangun kebiasaan membaca yang paling ampuh justru sesederhana ini: petakan slot 15–30 menit yang sudah ada di harimu — jam makan siang, waktu commuting, atau 20 menit sebelum tidur — lalu isi slot itu dengan bacaan, bukan dengan scroll tanpa tujuan. Cara membangun kebiasaan membaca dari nol bisa jadi panduan awal kalau kamu butuh langkah yang lebih detail.

Baca Bareng, Biar Nggak Berasa Beban Sendirian

Sama seperti olahraga lebih semangat kalau ada teman gym, membaca juga lebih enak kalau dilakukan bersama orang-orang yang sefrekuensi. Masalahnya, book club konvensional kadang terasa mengintimidasi — apalagi kalau ada tekanan buat selalu punya opini pintar setiap sesi diskusi.

Untungnya, ada format lain yang jauh lebih santai: silent book club. Di Jakarta, komunitas Baca Bareng Jakarta — bagian dari jejaring global Silent Book Club — menggelar sesi membaca senyap rutin di ruang terbuka seperti Taman Langsat, Jakarta Selatan. Konsepnya simpel banget: datang, gelar tikar, baca buku apa pun yang kamu bawa selama satu jam, tanpa kewajiban kenalan atau diskusi. Sesi yang awalnya cuma diikuti segelintir orang di tahun 2019 ini kini rutin menarik ratusan peserta setiap bulannya, seperti diulas tirto.id.

Kalau kamu di luar Jabodetabek, komunitas serupa juga mulai bermunculan di kota lain — dari Bandung, Malang, sampai Jember — biasanya lewat media sosial dengan tagar atau akun komunitas literasi lokal. Melihat orang lain fokus membaca di sekitarmu ternyata cukup ampuh mengurangi godaan untuk mengecek ponsel, bahkan bagi yang biasanya susah konsentrasi.


banner rumah edho horizontal kecil


Latih "Otot Fokus" Membacamu Pelan-Pelan

Kalaupun sudah punya niat dan komunitas, membaca kadang tetap terasa berat — dan itu wajar. Feed media sosial melatih otak kita untuk berpindah dari satu potongan konten ke potongan lain dalam hitungan detik, sementara buku menuntut hal yang berlawanan: perhatian yang menetap.

Daripada menganggap ini sebagai "kehilangan kemampuan fokus", lebih tepat melihatnya sebagai jenis perhatian yang perlu dilatih ulang — persis seperti otot yang lama nggak dipakai. Kalau rentang perhatian yang makin pendek belakangan ini sudah bikin kamu frustrasi, rentang perhatian yang makin pendek belakangan ini membahas strategi konkret untuk melatihnya kembali.

Beberapa trik yang bisa dicoba untuk melatih fokus:

  • Gabungkan indra: dengarkan audiobook sambil mengikuti teks, atau garis bawahi bagian penting sambil membaca.
  • Catat sedikit: satu-dua kalimat refleksi setelah membaca bisa membantu otak "mengunci" informasi.
  • Diskusikan dengan orang lain: nggak perlu formal, cukup cerita ke teman soal bagian yang paling menarik.

Strategi ini bahkan bisa jadi lebih penting kalau kamu punya ADHD atau disleksia — tapi kamu nggak butuh diagnosis klinis apa pun untuk merasakan manfaat dari struktur, target yang jelas, dan ritme yang manusiawi. Soal manfaat membaca untuk otak, riset dari Mindlab International bekerja sama dengan University of Sussex bahkan menemukan bahwa membaca selama enam menit saja bisa menurunkan tingkat stres secara signifikan — lebih efektif dibanding mendengarkan musik atau jalan santai, seperti dirangkum RRI.co.id.

Nggak Ada Format yang "Paling Benar" — yang Penting Cocok Buat Kamu

Kita hidup di zaman yang serba ada pilihan format bacaan, tapi nggak ada satu cara baca yang benar secara mutlak. Buku fisik menghilangkan gangguan notifikasi dan cocok untuk bacaan yang butuh fokus dalam; e-reader ringkas dan portabel; sementara membaca lewat ponsel, meski sering dianggap "kurang sah", tetap jauh lebih baik daripada nggak membaca sama sekali.

Kalau kamu penasaran soal manfaat membaca buku fisik dibanding layar gawai, manfaat membaca buku fisik dibanding layar gawai membahasnya lebih dalam. Beberapa sumber, termasuk ulasan dari Gramedia, juga mencatat bahwa buku fisik membantu mengurangi gangguan dari notifikasi dan bisa meningkatkan daya ingat terhadap isi bacaan.

Yang penting, apa pun formatnya, atur lingkungan biar mendukung: matikan notifikasi atau aktifkan mode fokus selama sesi membaca, terutama kalau kamu tahu diri gampang teralihkan. Kuncinya memang memilih format buku yang cocok dengan gaya hidupmu, bukan mengikuti format yang "kelihatan keren" di media sosial.



Coba "Remix" Cara Menikmati Ceritanya

Di era format media yang terus berubah, cerita bisa dinikmati dengan cara-cara kreatif yang jauh dari bentuk baku sebuah buku. Salah satu contoh unik: Dracula Daily, newsletter online yang mengirimkan potongan novel horor klasik Dracula karya Bram Stoker persis di tanggal yang sama seperti kejadian dalam cerita — bikin novel berusia lebih dari satu abad itu terasa relevan dan mendebarkan lagi, terutama kalau dibaca menjelang musim Halloween.

Kalau kamu tipe yang lebih suka mendengarkan daripada membaca teks, coba audiobook multi-suara yang digarap layaknya produksi radio drama lengkap dengan efek suara dan banyak pengisi suara berbeda karakter — bukan sekadar satu narator membacakan seluruh buku. Format seperti ini sering bikin fiksi terasa lebih hidup dan gampang dinikmati sambil beraktivitas lain. Soal apakah dengerin audiobook sama aja dengan membaca buku secara ilmiah, dengerin audiobook sama aja dengan membaca buku sudah mengulasnya tuntas.

Buat kamu yang baru mau mulai dan bingung harus pilih buku apa duluan, jangan lewatkan juga tips memilih buku pertama biar nggak nyasar — biar semangat baru kamu nggak keburu padam gara-gara salah pilih judul di awal.

Mulai dari yang Kecil Aja Dulu

Reading slump bukan tanda kamu "rusak" secara literasi — itu cuma sinyal bahwa ritme hidupmu sedang butuh penyesuaian kecil. Nggak perlu langsung menargetkan satu buku tebal per minggu. Cukup bawa satu buku ke tasmu besok pagi, cari 15 menit yang biasanya kepakai buat scroll tanpa arah, atau coba datang ke satu sesi baca bareng di kotamu bulan ini. Dari situ, kembali suka membaca buku bukan lagi resolusi yang menakutkan, tapi kebiasaan yang tumbuh pelan-pelan — persis seperti membentuk otot yang butuh waktu, bukan sulap semalam.


Sebagian gagasan dalam artikel ini terinspirasi dari tulisan Daniel Seifert, "In a reading slump? Here's how to fall in love with books again", yang dimuat di CNA Lifestyle pada 19 September 2026.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.