Jeda Ngaji: Mengaji Kembali di Usia Senja, Ditemani dengan Sabar dan Tanpa Terburu-buru
Kelas mengaji online untuk lansia dan pensiunan — koreksi bacaan Quran dan tanya jawab seputar ibadah, 30 menit, sabar dan tanpa terburu-buru. Sabtu–Kamis.
Buat Bapak/Ibu yang seumur hidup sibuk bekerja dan mengurus keluarga, dan kini di masa purnabakti ingin kembali dekat dengan Al-Quran — ini bimbingan baca quran online untuk pensiunan yang ditemani langsung, sabar, dan tanpa rasa canggung.
DAFTAR ISI
- Kapan terakhir kali bacaan Quran Bapak/Ibu benar-benar dikoreksi?
- Sekarang, bayangkan versi yang lebih tenang
- Apa itu Jeda Ngaji?
- Jeda Ngaji ini cocok buat Bapak/Ibu kalau...
- Supaya Bapak/Ibu tidak ragu — soal teknologi, tidak perlu khawatir
- Supaya ekspektasi Bapak/Ibu pas dari awal — batasan yang perlu diketahui
- Kenalan dengan pembimbing Bapak/Ibu
- Bagaimana cara mengikutinya?
- Soal infak dan donasi
- Yang sering ditanyakan
- Belum pernah terlambat, Pak, Bu
Kapan terakhir kali bacaan Quran Bapak/Ibu benar-benar dikoreksi?
Boleh jujur sebentar, Pak, Bu.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali ada orang yang duduk mendengarkan bacaan Quran Bapak/Ibu, lalu membenarkan dengan sabar kalau ada tajwid yang kurang pas? Bagi banyak orang di usia purnabakti, jawabannya: sudah puluhan tahun. Dulu masa kecil sempat diajar mengaji, tapi setelah itu hidup jadi penuh — kerja, membesarkan anak, urusan rumah tangga — dan bacaan Quran perlahan cuma berjalan apa adanya, tanpa pernah benar-benar dibenahi lagi.
Ada juga rasa yang lebih halus dari itu: sungkan untuk belajar lagi di usia sekarang. Takut dianggap "kok baru sekarang," atau minder kalau harus dikoreksi oleh ustadz yang usianya jauh lebih muda. Padahal di dalam hati, ada keinginan yang nyata untuk memperbaiki bacaan sebelum waktu terus berjalan — bukan karena terpaksa, tapi karena di usia yang sudah matang ini, ibadah terasa jadi jauh lebih berarti.
Belum lagi soal pertanyaan-pertanyaan keseharian yang selama ini dipendam sendiri — soal ibadah, soal kebiasaan yang diwariskan turun-temurun, soal hal-hal yang ingin dipastikan lagi kebenarannya — tapi bingung mau tanya ke siapa tanpa merasa canggung.
Kalau ini terasa dekat dengan yang Bapak/Ibu rasakan, percayalah, ini bukan sesuatu yang perlu ditanggung sendiri, dan bukan pula sesuatu yang sudah terlambat untuk dibenahi.
Sekarang, bayangkan versi yang lebih tenang
Bayangkan ada waktu 30 menit dalam seminggu — cukup 30 menit — di mana Bapak/Ibu bisa membaca Quran dan langsung dituntun dengan sabar kalau ada yang perlu dibenahi, tanpa perlu keluar rumah, tanpa perlu merasa diburu-buru, dan tanpa perlu malu karena sesinya personal, hanya berdua atau bersama keluarga terdekat.
Bayangkan pula akhirnya ada tempat untuk bertanya soal ibadah dan keseharian, dijawab dengan tenang dan penuh hormat, oleh seseorang yang memang menempuh jalan panjang belajar agama — bukan sekadar tahu sepintas.
Waktu pensiun yang selama ini terasa lengang, bisa diisi dengan sesuatu yang jauh lebih bermakna: menjadi bekal untuk diri sendiri, sekaligus teladan bacaan Quran yang baik untuk anak dan cucu. Itulah yang coba dihadirkan lewat Jeda Ngaji.
Apa itu Jeda Ngaji?
Jeda Ngaji adalah kelas mengaji online untuk lansia dan siapa saja yang ingin kembali dekat dengan Al-Quran — satu sesi, maksimal 30 menit, cukup lewat panggilan video WhatsApp untuk sesi sendirian, atau Zoom kalau mengikuti bersama beberapa orang, kapan saja Bapak/Ibu berkenan di antara hari Sabtu sampai Kamis.
Karena masa pensiun umumnya memberi lebih banyak keleluasaan waktu dibanding masa bekerja, Bapak/Ibu bisa memilih jam berapa pun sepanjang hari yang terasa paling nyaman — pagi setelah subuh, siang selepas istirahat, atau sore menjelang maghrib.
Satu sesi bisa dipakai untuk salah satu dari dua hal ini, sesuai kebutuhan:
- Muroja'ah dan koreksi bacaan. Bapak/Ibu membaca, dan pembimbing mendengarkan serta membenarkan langsung kalau ada tajwid atau makhraj yang kurang tepat. Ini muroja'ah quran online untuk lansia yang dilakukan perlahan, tanpa terburu-buru, dan tanpa menghakimi.
- Tanya jawab seputar ibadah dan keseharian. Dari hal-hal yang selama ini dipendam soal ibadah, kebiasaan yang diwariskan, sampai persoalan hidup yang ingin diketahui pandangan Islamnya — ini tanya jawab islam online untuk lansia yang santai, dua arah, dan tanpa rasa canggung.
Jeda Ngaji ini cocok buat Bapak/Ibu kalau...
Ingin memperbaiki bacaan Quran, tapi sudah bertahun-tahun tidak ada yang mengoreksi dan sungkan untuk meminta tolong, bahkan kepada anak sendiri. Sesi ini jadi jalan yang tenang untuk itu — les mengaji online untuk kakek nenek yang tidak mengharuskan Bapak/Ibu merasa canggung karena diajar oleh siapa pun di sekitar rumah.
Di masa pensiun ini, ingin mengisi waktu luang dengan sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar menonton televisi sepanjang hari. Ini bisa jadi kegiatan mengisi waktu pensiun dengan mengaji yang terjadwal, punya tujuan, dan hasilnya terasa nyata dari minggu ke minggu.
Punya banyak pertanyaan seputar ibadah dan keseharian, tapi sungkan bertanya karena merasa "masa iya, umur segini masih nanya yang dasar-dasar." Tidak ada pertanyaan yang terlalu sederhana atau terlalu terlambat untuk ditanyakan. Ini konsultasi masalah islam sehari-hari untuk pensiunan yang dijawab dengan hormat, bukan dengan menggurui.
Ingin memantapkan kembali bacaan dan pemahaman sebagai bekal diri sendiri, sekaligus teladan bagi anak dan cucu. Belajar mengaji lagi di usia tua bukan hal yang perlu ditutupi — justru menjadi contoh nyata bahwa semangat belajar itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Beragama lain, namun di usia yang sudah matang ini justru merasa semakin ingin memahami Islam langsung dari sumbernya. Usia bukan penghalang untuk mencari kebenaran. Sejarah mencatat sahabat Nabi ﷺ seperti Salman Al-Farisi justru memeluk Islam setelah menempuh perjalanan panjang bertahun-tahun mencari kebenaran — pencarian seperti itu tidak pernah mengenal kata terlambat.
Supaya Bapak/Ibu tidak ragu — soal teknologi, tidak perlu khawatir
Salah satu keraguan yang paling sering muncul justru bukan soal bacaan Quran, tapi soal, "Nanti caranya lewat Zoom itu gimana, ya? Saya kan kurang paham teknologi."
Tenang, Pak, Bu — untuk sesi sendirian, tidak perlu repot instal aplikasi baru sama sekali. Sesi bisa berlangsung lewat panggilan video biasa di WhatsApp, aplikasi yang sudah biasa dipakai sehari-hari untuk video call dengan anak atau cucu. Tinggal angkat panggilannya saat waktunya tiba. Kalau mengikuti bersama beberapa orang sekaligus, sesi akan berjalan lewat Zoom supaya semua bisa tergabung dengan stabil — dan kalau masih ragu di percobaan pertama, boleh sekali minta bantuan anak atau cucu untuk membukakannya. Yang paling penting hanya satu: suara harus terdengar jelas selama sesi berlangsung.
Supaya ekspektasi Bapak/Ibu pas dari awal — batasan yang perlu diketahui
Bagian ini sengaja ditulis terbuka, karena kepercayaan itu lebih berharga daripada sekadar menarik minat di awal.
- Sesi ini bukan tempat belajar membaca Al-Quran dari nol, artinya bukan untuk mengenal huruf hijaiyah dari awal. Sesi ini untuk memperbaiki bacaan quran untuk orang tua yang sudah bisa membaca, namun ingin dibenahi dan dimantapkan lagi.
- Pertanyaan yang belum tuntas terjawab dalam 30 menit akan ditanyakan dulu kepada guru pembimbing, baru jawabannya dikirim susulan lewat WhatsApp atau email — supaya jawaban yang Bapak/Ibu terima benar-benar berdasar.
- Bukan tempat berdebat panjang soal masalah fiqih yang memang bersifat khilafiyah (ikhtilaf). Kalau ada jawaban yang berbeda dari yang selama ini dipahami, itu hal yang wajar, karena secara dalil perbedaan pendapat di ranah cabang ilmu memang dimungkinkan. Tidak ada keharusan untuk mengikuti pendapat yang disampaikan di sesi ini — kewajiban seorang muslim adalah menjalankan apa yang diketahui hukumnya, bukan sekadar mengikuti kata orang.
- Untuk peserta yang beragama lain, pembahasan akan dimulai dari pokok-pokok ajaran Islam terlebih dahulu, bukan langsung ke ranah cabang, dan disampaikan secara terbuka serta penuh hormat tanpa maksud memaksa atau mendesak.
Kenalan dengan pembimbing Bapak/Ibu
Sesi ini dibimbing langsung oleh Muhammad Fauzi Rizal.
Perjalanan belajar mengajinya dimulai sejak kecil, diajar langsung oleh sang nenek, almarhumah Ustadzah Hj. Inun Ruliah, dengan metode Baghdadi. Setelah itu, ia belajar mandiri lewat buku Iqro', lalu dikenalkan pada metode Qiro'ati oleh Kang Nasrul dan Pak Mis'ad, keduanya guru di SDIT Insantama Leuwiliang. Belakangan, ia juga dikenalkan dengan metode Ummiy lewat Kang Iskandar dan Bang Hasan.
Sejak kecil, ia dididik di lingkungan Muhammadiyah — almarhum ayahandanya aktif di keorganisasian Muhammadiyah di Kota Medan. Sejak tahun 1998, ia mulai rutin mengaji kitab secara talaqqi (tatap muka langsung dengan guru), satu hingga tiga kali dalam sepekan, mencakup kajian fiqh, ushul fiqh, tarikh, siroh, muamalah, akhlak, ulumul Quran, hadits, hingga tasawuf. Karena latar belakang pendidikannya yang banyak bersentuhan dengan Muhammadiyah, pendekatan fiqh ibadahnya condong kepada Mazhab Imam Hanafi.
Sampai hari ini, ia masih rutin belajar secara talaqqi dengan lima orang guru:
- KH. Umar Latief — Cibatok 1, Cibungbulang
- KH. Muhyiddin, Pimpinan Pondok Pesantren An-Nuur, Cibitung Kulon, Pamijahan
- Ustadz Supriadi, S.Si., Pimpinan Majelis Ta'lim Nur Tsaqofiah
- Dr. Dede Heri Yulianto, Peneliti di BRIN
- Hasan Sunarto, S.Sos., pengajar di TPQ Al-Biruni, Kampung Tank, Leuweungkolot, Cibungbulang
Selain talaqqi langsung dengan para guru di atas, ia juga menjaga konsistensi belajarnya lewat komunitas — aktif di One Day One Juz (ODOJ) kelompok G-1125, komunitas yang menjaga semangat tilawah harian secara bersama-sama, serta mengikuti Kelas Khataman Terjemah Al-Quran Angkatan ke-4 untuk memperdalam pemahaman makna, bukan sekadar bacaan.
Perjalanan menuntut ilmu ini juga tercermin dari kitab-kitab yang pernah dikaji langsung bersama para guru: kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain, Tafsir Ath-Thabari, dan Tafsir Al-Munir; kitab tazkiyatun nafs dan tasawuf seperti Ihya' Ulumuddin, Al-Hikam, dan Sulamut Taufiq; kitab hadits dan akhlak seperti Riyadhush Sholihin dan Mukhtashar Shahih Bukhari; hingga kitab sirah seperti Sirah Ibnu Hisyam dan Hilyatul Auliya' — dan masih banyak lagi.
Ia juga aktif membina lebih dari 100 remaja dan pemuda di Cibungbulang dan Pamijahan lewat organisasi keislaman yang ia ikuti. Ini bukan sekadar gelar atau klaim — ini perjalanan belajar dan mengajar yang berjalan puluhan tahun, dan sekarang bisa diakses Bapak/Ibu cukup lewat layar HP atau laptop di rumah.
Bagaimana cara mengikutinya?
- Hubungi salah satu kanal ini — WhatsApp di +62 857-1587-2597 atau email ke
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . - Sampaikan kebutuhan Bapak/Ibu — ingin muroja'ah bacaan, ingin tanya jawab, atau dua-duanya — lalu pilih waktu yang nyaman. Sesi tersedia setiap Sabtu–Kamis, pukul 09.00–21.00 WIB, jadi Bapak/Ibu bebas memilih jam yang paling leluasa.
- Pilih platform. Kalau mengikuti sendirian, sesi bisa berlangsung lewat panggilan video WhatsApp biasa — tanpa perlu instal aplikasi baru. Kalau mengikuti bersama keluarga atau beberapa orang sekaligus, sesi akan berjalan lewat Zoom.
- Pastikan suara terdengar jelas. Karena sesi ini berbasis suara, cukup pastikan koneksi internet stabil dan suara Bapak/Ibu terdengar jernih, supaya tidak ada bagian yang terlewat saat dikoreksi.
- Kamera boleh dimatikan. Kalau Bapak/Ibu ingin tetap merasa nyaman tanpa tampil di layar, tidak masalah sama sekali — yang penting suara tetap terdengar jelas.
Soal jumlah peserta: peserta laki-laki bisa mengikuti sendirian sampai maksimal 5 orang dalam satu sesi. Untuk peserta perempuan, demi menjaga kenyamanan bersama, minimal 2 orang atau didampingi mahram — bisa sekalian mengajak pasangan atau anggota keluarga lain yang juga ingin belajar bersama.
Soal infak dan donasi
Sesi ini tidak dipungut biaya wajib. Kalau Bapak/Ibu merasa terbantu dan berkenan berinfak atau berdonasi, baik sebelum maupun sesudah sesi, bisa lewat transfer bank atau e-wallet — nomor rekening dan akunnya bisa langsung ditanyakan saat menghubungi. Insya Allah dana yang terkumpul digunakan untuk operasional kegiatan ini (koneksi internet, listrik, perangkat) serta pengembangan syiar Islam di sekitar pembimbing.
Yang sering ditanyakan
Apakah kelas mengaji online ini gratis untuk lansia dan pensiunan?
Ya. Tidak ada biaya wajib untuk mengikuti sesi ini. Infak atau donasi sifatnya sukarela dan bukan syarat untuk bisa ikut.
Saya sudah lama tidak belajar mengaji, apa belajar quran online ramah lansia ini masih cocok buat saya?
Sangat cocok. Sesi ini justru dirancang untuk memperbaiki bacaan yang sudah lama tidak dikoreksi, dengan tempo yang sabar dan tanpa terburu-buru.
Apakah saya perlu mahir memakai Zoom atau aplikasi lain?
Tidak perlu. Untuk sesi sendirian, cukup lewat panggilan video WhatsApp yang sudah biasa Bapak/Ibu pakai sehari-hari — tidak perlu instal apa pun. Zoom hanya dipakai kalau sesinya diikuti berkelompok.
Apakah bisa ikut bersama pasangan atau anggota keluarga lain?
Bisa. Untuk peserta perempuan, minimal 2 orang atau didampingi mahram — jadi bisa sekalian mengajak pasangan atau anggota keluarga untuk belajar bersama.
Saya bukan Muslim namun sudah berusia lanjut, apakah tetap boleh mengikuti sesi ini?
Tentu boleh. Usia bukan penghalang untuk mengenal Islam — pembahasan akan dimulai dari pokok-pokok ajaran Islam terlebih dahulu, disampaikan secara terbuka dan penuh hormat, tanpa tekanan apa pun.
Apakah wajib menyalakan kamera selama sesi?
Tidak wajib. Kamera boleh dimatikan, selama suara tetap terdengar jelas sepanjang sesi.
Bagaimana kalau pertanyaan saya belum terjawab tuntas dalam 30 menit?
Pertanyaan akan ditanyakan dulu kepada guru pembimbing, lalu jawabannya dikirim susulan lewat WhatsApp atau email, supaya jawabannya tetap berdasar.
Bagaimana jika jawaban pembimbing berbeda dari yang selama ini saya pahami?
Itu hal yang wajar di ranah masalah khilafiyah (ikhtilaf), karena perbedaan pendapat memang dimungkinkan secara dalil. Tidak ada keharusan mengikuti pendapat yang disampaikan di sesi ini.
Bagaimana cara mendaftar sesi ini?
Hubungi lewat WhatsApp di +62 857-1587-2597 atau email ke
Belum pernah terlambat, Pak, Bu
Ada anggapan yang keliru bahwa belajar mengaji itu urusan anak-anak, dan di usia senja sudah waktunya berhenti belajar. Padahal justru sebaliknya — semangat memperbaiki diri di usia mana pun, termasuk di usia purnabakti, adalah sesuatu yang layak dibanggakan, bukan disembunyikan.
30 menit. Sekali dalam seminggu. Itu saja yang dibutuhkan untuk mulai lagi, dengan tenang dan tanpa terburu-buru.
Hubungi sekarang lewat WhatsApp di +62 857-1587-2597 atau email ke
💬 Hubungi Sekarang via WhatsApp

