Dengerin Audiobook Itu Sama Aja dengan Baca Buku? Ini Kata Sains
Riset UC Berkeley sampai studi kontroversial ungkap audiobook vs buku cetak, mana yang lebih efektif buat otak kamu. Simak faktanya di sini.
Di HP kebanyakan orang sekarang pasti ada audiobook yang belum kelar didengerin dan antrean podcast yang udah numpuk sampai dua puluh episode—jam-jam "membaca" yang tetap dihitung sebagai bacaan beneran. Di sisi lain, ada juga kubu yang bilang audiobook itu cara curang, dan meragukan apakah pendengarnya benar-benar menyerap isi bukunya, apalagi kalau dibandingkan dengan cara membaca buku menenangkan sistem saraf kita. Ternyata dua kubu ini sama-sama ada benarnya, dan sama-sama ada salahnya, di titik yang persis sama. Nah, titik temu itulah yang bikin riset soal ini menarik buat dibahas.
Daripada langsung kasih vonis "mendengarkan lebih baik dari membaca" atau sebaliknya, ilmu neurosains dan psikologi kognitif justru mengarah ke sesuatu yang jauh lebih berguna: apa yang terjadi di otak saat dengerin audiobook ternyata tergantung satu variabel yang jarang dipikirkan orang. Begitu variabel ini kelihatan, jadi jauh lebih gampang tahu format mana yang harus dipakai, dan kapan waktunya—termasuk buat jawab perdebatan klasik soal audiobook vs buku cetak, mana yang sebenarnya lebih oke.
DAFTAR ISI
- Kenapa Lebih dari 40% Orang Nggak Anggap Audiobook Itu "Membaca"
- Buat Otak, Awalnya Nggak Ada Bedanya Kata Datang dari Mana
- Sisi yang Menentang Audio: Selisih Pemahaman 28%
- Sisi yang Mendukung Audio: Studi yang Sama Sekali Nggak Menemukan Selisih
- Kenapa Dua Studi Ini Sebenarnya Nggak Bertentangan
- Kalau Membaca Sambil Mendengarkan Bareng, Apa Hasilnya Lebih Bagus?
- Satu Catatan Penting: Ini Bukan Soal Anak-Anak yang Lagi Belajar Membaca
- Jadi, Sebaiknya Pakai Format yang Mana?
- Variabel Sebenarnya: Fokus, Bukan Formatnya
- Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
- Sumber:
Kenapa Lebih dari 40% Orang Nggak Anggap Audiobook Itu "Membaca"
Menurut jajak pendapat NPR-Ipsos, sekitar 40% orang dewasa Amerika percaya bahwa mendengarkan audiobook bukan bentuk membaca, dan kepercayaan ini paling kuat di kalangan orang di atas 65 tahun, laki-laki, dan mereka yang nggak punya gelar sarjana. Wajar sih kalau dipikir-pikir, dengerin cerita memang terasa lebih pasif dibanding harus mengeja huruf demi huruf. Tapi intuisi dan neurosains nggak selalu sejalan.
Buat Otak, Awalnya Nggak Ada Bedanya Kata Datang dari Mana
Buat ngerti cara otak memproses audiobook dibanding teks biasa, peneliti di UC Berkeley langsung mengujinya secara langsung. Dalam studi yang dipimpin ahli saraf Fatma Deniz, sembilan sukarelawan mendengarkan cerita naratif berjam-jam dari The Moth Radio Hour di dalam mesin pemindai fMRI, lalu mereka diminta kembali untuk membaca cerita yang sama persis sambil dipindai lagi. Setiap kata dipetakan ke aktivitas otak yang muncul.
Hasilnya: peta makna dari sesi mendengarkan dan sesi membaca ternyata nyaris identik. Seperti kata Deniz, mau materinya diserap lewat audiobook, podcast, atau teks biasa, otak tetap memproses informasi maknanya dengan cara yang serupa. Korteks temporal, korteks parietal, dan korteks prefrontal semuanya merespons dengan pola yang hampir sama, nggak peduli lewat jalur mana informasinya masuk.
Temuan ini masuk akal kalau ditelusuri sejarah bahasa manusia: bahasa lisan sudah ada puluhan ribu tahun, bahasa tulisan mungkin baru sekitar 6.000 tahun, mesin cetak sekitar 600 tahun, sementara audiobook baru sekitar 90 tahun. Otak manusia nggak pernah bikin sistem baru khusus buat membaca—otak cuma "meminjam" sistem yang udah ada buat mendengarkan. Jadi membaca dan mendengarkan itu sebenarnya jauh lebih mirip daripada beda. Tapi riset menunjukkan keduanya jauh lebih rumit dari yang biasa dibayangkan orang.
Sisi yang Menentang Audio: Selisih Pemahaman 28%
Sebelum masuk ke bukti-bukti kelemahan belajar lewat audio, penting buat tahu dari mana asal kekhawatiran ini. Balik ke tahun 2010, penerbit buku teks lagi gencar menawarkan versi audio ke para dosen. Profesor psikologi David Daniel pengin bukti nyata dulu sebelum memaksa mahasiswanya bayar buat versi audio itu, jadi dia bersama rekannya William Woody menjalankan eksperimen terkontrol.
Mahasiswa psikologi dibagi acak jadi dua kelompok: satu kelompok membaca bab buku teks, kelompok lainnya mendengarkan versi audio dari materi yang sama persis, masing-masing selama 25 menit. Setelah itu, kedua kelompok mengerjakan kuis dengan taruhan nilai yang tinggi. Hasilnya cukup mengejutkan—kelompok pendengar mendapat skor rata-rata 28% lebih rendah dibanding kelompok pembaca, kira-kira selisih antara nilai A dan D.
Yang terjadi sebelum kuis itu justru sama menariknya dengan hasil akhirnya. Sebelum dibagi kelompok, hampir semua mahasiswa bilang mereka lebih pengin masuk kelompok audio—opsi yang terasa lebih santai dan lebih menarik. Tapi pertanyaan pertama di kuis justru menanyakan kelompok mana yang mereka harap mereka ikuti, dan kelompok audio hampir semuanya menjawab berharap masuk kelompok membaca. Mereka merasa sedang belajar saat mendengarkan, tapi rasa "paham" itu langsung buyar begitu harus mengingat materinya di bawah tekanan kuis.
Beberapa alasan yang mungkin menjelaskan selisih ini:
- Membaca melibatkan jalur decoding di otak. Mata memindai huruf demi huruf, otak melakukan pemetaan grafem-ke-fonem, dan memori kerja menyatukan semuanya jadi unit yang bermakna—proses aktif yang sepenuhnya dilewati saat mendengarkan audio.
- Audio menghilangkan penanda ruang. Saat membaca, otak membangun semacam peta: ingat ada ide di bagian atas halaman kiri, atau definisi tertentu ada di tengah bab. Audio nggak punya penanda semacam itu.
- Mata terus-menerus "regresi" saat membaca, diam-diam mengecek ulang dan membaca ulang bagian tertentu. Audio sebenarnya bisa diputar ulang, tapi jujur aja, hampir nggak ada yang benar-benar melakukannya. Riset lain juga mendukung ini: dibanding membaca nyaring atau membaca dalam hati, mendengarkan audio menghasilkan tingkat pikiran melayang (mind-wandering) yang paling tinggi, dan studi yang sama menemukan kelompok audio punya performa memori paling lemah serta minat paling rendah terhadap materinya.
- Nggak ada titik berhenti alami. Halaman buku menciptakan jeda alami buat mengendapkan pemahaman; audio yang terus mengalir nggak punya jeda semacam itu.
Sisi yang Mendukung Audio: Studi yang Sama Sekali Nggak Menemukan Selisih
Kelihatannya masalah ini udah selesai—tapi ada studi lain yang sama rigornya justru menemukan kesimpulan yang berlawanan.
Beth Rogowsky, profesor di Bloomsburg University of Pennsylvania yang sebelumnya 14 tahun jadi guru bahasa Inggris, pengin menguji apakah "modalitas"—format datangnya informasi—benar-benar mengubah seberapa banyak yang nempel di kepala. Dia merekrut 91 orang dewasa berpendidikan sarjana dan membagi mereka acak jadi tiga kelompok: satu mendengarkan bagian dari Unbroken, buku nonfiksi naratif tentang Perang Dunia II; satu membaca bagian yang sama persis lewat Kindle; dan satu lagi mendengarkan sambil membaca secara bersamaan. Semua peserta lalu mengerjakan kuis pemahaman yang sama, isinya 48 soal, langsung setelah sesi dan diulang lagi dua minggu kemudian.
Kali ini hasilnya kebalikan dari studi Daniel: nggak ada perbedaan signifikan dalam skor pemahaman di antara tiga kelompok tersebut, baik langsung setelah sesi maupun dua minggu kemudian, dan juga nggak ada beda antara peserta laki-laki dan perempuan. Rogowsky sendiri sebenarnya menduga kelompok dual-modalitas bakal unggul—semacam "dosis ganda" informasi—tapi ternyata kelompok itu juga nggak lebih unggul.
Ada satu detail yang perlu diungkap jujur di sini: studi ini sebagian didanai oleh Audible, perusahaan audiobook. Rogowsky sendiri menyatakan pihak pendana sama sekali nggak terlibat dalam desain studi, pemilihan materi, atau hasil akhirnya. Perlu dicatat juga bahwa kelompok "membaca" di studi ini pakai Kindle, bukan buku cetak fisik, dan membaca di layar biasanya mendapat skor sedikit lebih rendah dibanding membaca di kertas—soal ini juga sudah pernah dibahas soal kenapa membaca di kertas lebih unggul—artinya kalau studinya membandingkan audio dengan buku cetak asli, hasilnya mungkin akan berbeda. Para peneliti sendiri mengakui dua poin ini, dan juga mencatat bahwa Unbroken itu nonfiksi naratif, yang mungkin nggak bisa mewakili tulisan teknis yang lebih padat.
Kenapa Dua Studi Ini Sebenarnya Nggak Bertentangan
Di titik inilah perbedaan membaca dan mendengarkan buku kelihatan paling jelas. Dua studi yang sama-sama rigor dan sama-sama melalui peer-review, tapi hasilnya berlawanan. Penyelesaiannya bukan berarti salah satu studinya cacat—tapi karena dua eksperimen ini mengukur jenis konten yang benar-benar berbeda.
Mahasiswa Daniel sedang menyerap materi buku teks psikologi yang padat dan berlapis-lapis buat menghadapi kuis. Peserta Rogowsky justru mengikuti narasi perang yang mengalir linear. Daniel Willingham, psikolog kognitif dari University of Virginia yang meneliti cara kerja otak dalam belajar, menjelaskan perbedaannya dengan gamblang: kebanyakan orang merasa narasi lebih gampang diikuti lewat audio karena mereka bisa mengandalkan pemahaman bawaan tentang bagaimana sebuah cerita biasanya berjalan. Teks yang padat informasi dan nggak berbentuk narasi itu beda ceritanya—memahami halaman enam sering kali butuh mengaitkannya lagi dengan halaman dua, dan itu gampang dilakukan di buku cetak karena tinggal balik-balik halaman, tapi jadi jauh lebih susah lewat audio.
Ada juga perbedaan soal kecepatan. Di buku cetak, pembaca yang mengatur ritmenya sendiri dan bisa berhenti sejenak buat merenungkan sebuah ide. Di audiobook, narator yang mengatur kecepatannya, dan nggak ada jeda alami buat berhenti dan merenung sebelum kalimat berikutnya keburu terdengar.
Simpelnya: konten naratif cocok banget diubah jadi audio; konten yang padat informasi dan berlapis-lapis, nggak semudah itu. Kedua temuan ini sama-sama benar—tinggal disesuaikan aja formatnya dengan tujuannya.
Nikmati fitur lengkap dari aplikasi favorit kamu tanpa ribet. Langganan aman dan cepat lewat link ini Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik! Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda! Sewa Domain, Hosting, Hingga VPS untuk Proyek Digital Anda! Dapatkan Akun Bersama Berbagai Aplikasi Web Populer Dengan Harga Murah!
Kalau Membaca Sambil Mendengarkan Bareng, Apa Hasilnya Lebih Bagus?
Sebagian orang suka membaca sambil mendengarkan konten yang sama secara bersamaan, berharap dapat efek "dosis ganda". Sebuah meta-analisis yang mencakup sekitar 30 studi dan hampir 2.000 peserta menguji ini secara langsung, dan hasilnya cuma menunjukkan efek positif yang kecil banget—nyaris nggak lolos dari batas kebisingan statistik. Kelompok dual-modalitas milik Rogowsky juga menegaskan pola yang sama: lebih banyak input ternyata nggak otomatis berarti lebih banyak yang nempel di kepala. Kalau membaca sambil mendengarkan bareng terasa menyenangkan dan bikin kamu tetap fokus, itu kebiasaan yang oke aja—cuma jangan berharap itu jadi jalan pintas buat jadi "super learner".
Satu Catatan Penting: Ini Bukan Soal Anak-Anak yang Lagi Belajar Membaca
Semua peneliti di balik temuan-temuan ini sama-sama mengangkat satu kekhawatiran yang sama soal bagaimana hasil riset mereka bisa disalahartikan: nggak ada satu pun dari studi-studi ini yang melibatkan anak-anak yang masih belajar cara membaca. Semuanya melibatkan orang dewasa yang udah bisa membaca duluan. Seperti yang ditekankan Rogowsky, anak-anak butuh latihan langsung membaca, dan menjadikan audiobook untuk anak belajar membaca sebagai pengganti latihan itu justru merampas pengalaman decoding yang penting buat membentuk masyarakat yang melek huruf. Jadi temuan-temuan ini soal pemahaman pada orang dewasa yang sudah melek huruf—bukan soal bagaimana kemampuan membaca itu sendiri terbentuk.
Jadi, Sebaiknya Pakai Format yang Mana?
Nah, ini dia tips memilih audiobook atau buku cetak sesuai kebutuhan kamu, berdasarkan bukti riset, tergantung tujuannya:
- Buat pemahaman umum—ikut book club, di perjalanan, atau sekadar santai—membaca dan mendengarkan sama efektifnya. Otak memproses maknanya dengan cara yang sama.
- Buat belajar mendalam soal materi yang kompleks dan teknis, buku cetak masih punya keunggulan kecil tapi konsisten, berkat kemampuan atur kecepatan sendiri, penanda ruang di halaman, dan berkurangnya pikiran yang melayang ke mana-mana. Kalau mau ngerasain sendiri bedanya, coba deh mulai dari latihan membaca fokus selama dua puluh menit buat materi yang berat.
- Audiobook paling pas dipakai buat memperluas jumlah konten yang bisa diserap di waktu-waktu yang biasanya "mati"—macet di jalan, beres-beres rumah, olahraga—bukan buat menggantikan sesi belajar fokus terhadap materi yang berat. Ini juga salah satu manfaat audiobook untuk belajar yang paling gampang dirasakan sehari-hari.
Ini juga sejalan dengan cara para peneliti sendiri menggunakan kedua format ini: audio disimpan buat materi yang lebih ringan atau sambil lipat baju, sementara buku cetak dipakai saat harus menyiapkan sesuatu yang butuh fokus mendalam. Kalau kamu masih bingung mau mulai dari mana, ada baiknya coba dulu membangun kebiasaan membaca mulai dari sepuluh menit atau simak tips memilih buku yang pas buat pemula.
Variabel Sebenarnya: Fokus, Bukan Formatnya
Temuan paling penting dari semua riset ini adalah variabel yang paling menentukan bukan soal membaca versus mendengarkan—tapi soal fokus. Kalau kamu ngerasa fokusmu sekarang cuma tahan sebentar banget, itu bukan cuma perasaan kamu doang—dan itu berlaku sama persis mau kamu lagi baca atau dengerin audiobook. Audiobook yang didengarkan dengan konsentrasi penuh bisa mengalahkan buku cetak yang dibaca sambil nyambi hal lain, dan begitu juga sebaliknya. Logika yang sama berlaku buat podcast: setelah selesai dengerin satu episode, cara gampang buat cek diri sendiri adalah berhenti sejenak dan bertanya, "Aku beneran inget nggak sih apa yang barusan aku dengar?" Salah satu cara meningkatkan fokus saat dengerin audiobook justru sesederhana kebiasaan kecil ini.
Jadi medianya bukan yang paling menentukan di sini. Fokusnya yang menentukan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Video Aslinya: What Scientists Found About Audiobooks
Apakah dengar audiobook sama dengan membaca buku? Buat urusan pemahaman, riset menunjukkan otak memproses makna dari audiobook dan teks cetak dengan cara yang nyaris sama. Beberapa studi menemukan nggak ada perbedaan signifikan dalam daya ingat antara mendengarkan dan membaca konten naratif.
Apakah audiobook lebih buruk buat belajar dibanding buku cetak? Tergantung jenis materinya. Buat materi naratif, studi menunjukkan nggak ada perbedaan berarti. Buat materi yang padat dan berlapis seperti buku teks, studi terkontrol menemukan kelompok pendengar mendapat skor jauh lebih rendah dibanding pembaca, kemungkinan karena audio nggak punya penanda ruang dan titik berhenti alami.
Apakah membaca sambil mendengarkan bersamaan bikin pemahaman lebih baik? Nggak terlalu. Meta-analisis dari sekitar 30 studi menemukan manfaatnya cuma sedikit banget kalau kedua format digabung sekaligus, dan studi dual-modalitas khusus juga nggak menemukan keunggulan dibanding format tunggal.
Apakah anak-anak sebaiknya belajar membaca pakai audiobook dibanding buku cetak? Nggak disarankan. Riset soal pemahaman audiobook ini berlaku buat orang dewasa yang sudah bisa membaca. Peneliti mengingatkan bahwa anak-anak yang masih membangun kemampuan membaca tetap butuh latihan langsung mengeja teks, sesuatu yang nggak bisa didapat dari format audio saja.
Sumber:
- NPR: "Does listening to an audiobook count as reading?" (2025)
- UC Berkeley: "A map of the brain can tell what you're reading about" — Deniz et al., Journal of Neuroscience
- Daniel & Woody, "They Hear, but Do Not Listen: Retention for Podcasted Material in a Classroom Context," Teaching of Psychology (2010)
- Rogowsky, Calhoun & Tallal, "Does Modality Matter? The Effects of Reading, Listening, and Dual Modality on Comprehension," SAGE Open (2016)
- Daniel Willingham, Professor of Psychology, University of Virginia
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 |




















