4 Makam Wali dan Ulama di Palembang: Panduan Ziarah Lengkap dengan Rute, Adab, dan Waktu Terbaik
Panduan ziarah makam wali dan ulama di Palembang: Kiai Marogan, Kawah Tekurep, Gubah Duku, plus rute, adab, jam buka, biaya perahu ke Pulau Kemaro.
Palembang bukan hanya soal pempek dan Jembatan Ampera. Di tepian Sungai Musi, kota tua ini menyimpan jejak sultan, habib, dan ulama yang membentuk wajah Islam di Sumatera bagian selatan. Jejak itu tersebar di kampung-kampung lama, di antara rumah kayu, gang sempit, dan dermaga perahu.
Jawaban singkatnya, makam wali dan ulama di Palembang yang paling sering diziarahi terkumpul di empat kompleks:
- makam Kiai Marogan di Kertapati,
- Kawah Tekurep di kawasan 3 Ilir,
- Gubah Duku di dekat Pasar Kuto,
- makam para ulama keturunan Yaman di kawasan Ulu.
Di tengah rute itu ada satu persinggahan wisata sungai yang hampir selalu ikut masuk jadwal, yaitu Pulau Kemaro dengan pagoda sembilan lantainya.
Artikel ini adalah panduan ziarah makam wali Palembang yang disusun berurutan: sejarah singkat tiap tokoh, alamat dan cara menuju lokasi, jam kunjungan, biaya, sampai adab yang perlu dijaga. Bagi yang pernah membaca rangkaian ziarah sebelumnya tentang makam wali dan ulama di Lampung, perjalanan ke Palembang adalah kelanjutan yang wajar. Dua kota ini sama-sama punya sejarah panjang jaringan ulama di pesisir Sumatera.
DAFTAR ISI
- Ringkasan Cepat: Makam Wali dan Ulama di Palembang
- Mengapa Palembang Disebut Kota Para Wali dan Ulama
- 1. Makam Kiai Marogan di Kertapati: Ulama dan Saudagar di Muara Ogan
- 2. Pulau Kemaro: Persinggahan Sungai dengan Pagoda Sembilan Lantai
- 3. Kawah Tekurep: Kompleks Makam Sultan Palembang Darussalam
- 4. Gubah Duku: Pemakaman Habib Ahmad bin Syech Shahab
- 5. Makam Para Ulama Keturunan Yaman di Kawasan Ulu
- Rute Ziarah Makam Wali di Palembang dalam Satu Hari
- Rincian Biaya Ziarah di Palembang (Perkiraan)
- Adab Ziarah Makam Ulama yang Perlu Dijaga
- Waktu Terbaik Berziarah dan Ziarah Kubro Palembang
- Cara ke Palembang dan Transportasi Lokal
- Kuliner dan Destinasi Lain di Sekitar Rute
- Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Penutup
Ringkasan Cepat: Makam Wali dan Ulama di Palembang
| Lokasi | Tokoh atau daya tarik | Kawasan | Biaya masuk |
|---|---|---|---|
| Makam Kiai Marogan | Masagus H. Abdul Hamid (Kiai Marogan), ulama dan saudagar | Jl. Kimarogan, Kertapati | Gratis, infak sukarela |
| Pulau Kemaro | Legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah, pagoda sembilan lantai | Tengah Sungai Musi, sekitar 6 km dari Jembatan Ampera | Gratis, bayar sewa perahu |
| Kawah Tekurep | Sultan Mahmud Badaruddin I dan keluarga Kesultanan Palembang | 3 Ilir, Ilir Timur II | Umumnya tanpa tiket, sumbangan sukarela |
| Gubah Duku | Habib Ahmad bin Syech Shahab dan keturunan alawiyyin | Jl. Dr. M. Isa, Lorong Gubah, dekat Pasar Kuto | Umumnya tanpa tiket |
| Makam ulama kawasan Ulu | Habib Abdurrahman Al Munawar, Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff | Jl. KH. A. Azhari (13 Ulu) dan Telaga Sewidak (14 Ulu), Seberang Ulu | Umumnya tanpa tiket |
Mengapa Palembang Disebut Kota Para Wali dan Ulama
Kesultanan Palembang Darussalam menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan istana dan masyarakat. Para ulama dan habib dari Hadramaut, Yaman, datang dan menetap, lalu menikah dengan keluarga setempat dan membangun kampung. Sebagian bahkan dimakamkan di dekat makam sultan sebagai bentuk penghormatan. Karena itulah makam ulama di kota ini tidak terpusat di satu pemakaman besar, melainkan menyebar dalam kompleks-kompleks kecil yang disebut gubah.
Tradisi ziarahnya pun hidup sampai sekarang. Setiap akhir bulan Sya'ban, menjelang Ramadan, ribuan peziarah dari dalam dan luar negeri datang untuk Ziarah Kubro Palembang. Pembahasannya ada di bagian waktu terbaik di bawah.
Buat yang suka menelusuri jejak serupa di kota lain, ada juga panduan makam habib dan wali di Jakarta serta ulasan makam wali Allah di Madura.
1. Makam Kiai Marogan di Kertapati: Ulama dan Saudagar di Muara Ogan
Siapa Kiai Marogan?
Nama aslinya Masagus Haji Abdul Hamid bin Masagus Haji Mahmud. Masyarakat Palembang lebih akrab menyebutnya Kiai Marogan, singkatan dari Kiai Muara Ogan. Julukan itu muncul karena masjid dan makamnya berdiri di pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi. Tahun kelahirannya dicatat berbeda, sekitar 1802 atau 1811. Ia wafat pada 31 Oktober 1901 (17 Rajab 1319 H) dan dimakamkan di samping masjid yang ia dirikan.
Selain berdakwah di sepanjang Sungai Musi, ia dikenal sebagai pengusaha kayu yang sukses dan dermawan. Peninggalannya yang paling nyata adalah masjid-masjid bersejarah, yaitu Masjid Kiai Muara Ogan di Kertapati dan Masjid Lawang Kidul di 5 Ilir. Tahun berdirinya Masjid Kiai Muara Ogan tercatat berbeda di beberapa sumber, 1871 atau sekitar 1890 M. Yang pasti, masjid ini termasuk salah satu yang tertua di Palembang. Kiprahnya sebagai ulama sekaligus pengusaha diulas lengkap oleh NU Online dalam laporan tentang makam Kiai Marogan Palembang.
Suasana Kompleks Makam
Kompleks makamnya terawat, dengan bangunan sederhana yang khidmat. Area peziarahnya bersih dan tidak terlalu luas. Selain makam Kiai Marogan, ada makam adik kandungnya yang dikenal sebagai Kiai Mudo, serta istri dan putranya, Datuk H. Muhammad Usman. Silsilah keluarga terpasang di dinding makam.
Pada hari biasa, jumlah peziarah berkisar ratusan orang. Menjelang Ramadan dan hari-hari besar Islam, terutama Jumat dan Ahad, jumlahnya bisa mencapai sekitar 500 orang dalam sehari. Peziarah datang tidak hanya dari Sumatera Selatan, tetapi juga dari Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Alamat, Rute, dan Jam Kunjungan
- Alamat: Jl. Kimarogan, Kelurahan Kertapati, Kecamatan Kertapati, Kota Palembang.
- Cara mudah menemukannya: ketik "Masjid Ki Merogan" di aplikasi ojek daring atau peta. Makamnya berada tepat di sebelah masjid.
- Dari stasiun: Stasiun Kertapati berada di Jalan Ki Merogan juga, jadi kawasan ini terjangkau bagi peziarah yang datang dengan kereta.
- Jam kunjungan: portal pariwisata Sumatera Selatan mencantumkan 09.00 sampai 21.00 WIB. Karena ini masjid aktif, waktu sekitar salat berjamaah biasanya lebih ramai.
- Biaya: tidak ada tiket. Juru kunci tidak meminta bayaran, tetapi sedekah sukarela diterima dan dipakai untuk merawat makam.
Menurut penuturan juru kunci kepada NU Online, peziarah dianjurkan berwudu lebih dulu, lalu salat tahiyatul masjid dua rakaat atau salat dhuha sesuai waktunya, baru berziarah. Urutan ini sekaligus meluruskan niat: ziarah dilakukan untuk mendoakan, bukan untuk meminta kepada yang wafat.
Selesai berdoa dan tahlil, banyak peziarah melanjutkan perjalanan lewat sungai ke destinasi berikutnya, yaitu Pulau Kemaro.
2. Pulau Kemaro: Persinggahan Sungai dengan Pagoda Sembilan Lantai
Pulau Kemaro bukan makam wali, tetapi hampir selalu masuk dalam rangkaian ziarah di Palembang. Alasannya praktis: perjalanan menyusuri Sungai Musi menuju pulau ini menjadi jeda yang menyenangkan di tengah agenda ziarah, sekaligus kesempatan melihat sisi lain budaya kota.
Legenda dan Daya Tarik
Pulau Kemaro adalah delta kecil di Sungai Musi dengan luas sekitar 30 hektar dan penghuni hanya ratusan orang. Namanya diyakini berasal dari kata "kemarau", karena pulau ini tetap kering meski air sungai pasang.
Kisah yang menempel pada pulau ini adalah legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah. Tan Bun An, saudagar Tiongkok, jatuh hati pada Siti Fatimah, perempuan Palembang. Sepulang dari menemui orang tuanya, ia membawa tujuh guci hadiah. Mengira isinya hanya sawi asin, ia membuangnya ke Sungai Musi satu per satu. Pada guci terakhir yang pecah, terlihat harta di dalamnya. Tan Bun An menceburkan diri untuk mencarinya, disusul seorang pengawal dan Siti Fatimah, dan ketiganya tak pernah muncul lagi. Kisah lengkapnya bisa dibaca di Indonesia Kaya lewat tulisan tentang legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah.
Di pulau ini ada klenteng yang megah dengan ornamen merah dan emas serta ukiran naga khas Tiongkok. Klenteng ini rumah ibadah umat Buddha, Tao, dan Konghucu. Ikon yang paling mencolok adalah pagoda sembilan lantai, simbol cinta abadi kedua tokoh legenda tadi. Situs lain di pulau ini antara lain bangunan yang diyakini sebagai makam penunggu pulau (dalam versi lain disebut makam Tan Bun An, Siti Fatimah, dan pengawalnya), tempat pembakaran uang kertas, dan Pohon Cinta.
Karena pulau ini bagian dari budaya Tionghoa-Palembang, tema ini nyambung dengan ulasan wisata kampung Tionghoa di Indonesia yang membahas akulturasi serupa di kota lain.
Cara ke Pulau Kemaro dan Biaya Perahu ke Pulau Kemaro
Pulau Kemaro berjarak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera dan hanya bisa dicapai dengan perahu. Beberapa titik keberangkatan yang umum:
- Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB): paling populer, dekat Jembatan Ampera.
- Dermaga Pabrik Udang: pilihan lain menurut sejumlah panduan wisata.
- Dermaga di dekat Masjid Kiai Marogan: dipakai rombongan yang memulai ziarah dari Kertapati. Perahu juga melayani rute BKB menuju Kiai Muara Ogan.
Rincian biaya perahu ke Pulau Kemaro (kisaran dari berbagai sumber; tarif bisa berubah, jadi sepakati harga sebelum berangkat):
| Moda | Kisaran biaya | Catatan |
|---|---|---|
| Tiket masuk pulau | Gratis | Tidak ada tiket resmi |
| Perahu ketek sewa | Rp100.000 sampai Rp250.000 pulang-pergi per perahu | Cocok untuk rombongan kecil |
| Speedboat | Hingga sekitar Rp500.000 pulang-pergi | Lebih cepat, kapasitas bervariasi |
| Ketek wisata reguler dari dermaga 16 Ilir | Mulai sekitar Rp25.000 per orang | Rute melintas di bawah Jembatan Ampera atau lanjut ke Kemaro |
| Sewa ketek wisata eksklusif | Sekitar Rp350.000 sampai Rp500.000 per perahu | Rute bisa disesuaikan |
Waktu tempuh berkisar 15 sampai 35 menit, tergantung jenis perahu dan arus sungai. Jam kunjungan pulau dalam berbagai sumber berkisar sekitar 09.00 sampai 19.00 WIB, jadi lebih aman datang sebelum sore.
Etika di Pulau Kemaro
Beberapa hal yang sebaiknya dijaga:
- Klenteng dan pagoda adalah tempat ibadah. Menurut Indonesia Kaya, tidak semua pengunjung boleh masuk. Klenteng hanya untuk yang beribadah, dan akses ke pagoda juga dibatasi.
- Berpakaian sopan, tidak bercanda di area ibadah, dan meminta izin sebelum memotret orang yang sedang berdoa.
- Mintalah pelampung sebelum naik perahu, terutama bila membawa anak, dan jangan menolak instruksi pengemudi soal posisi duduk.
- Bawa air minum dan sampah dibawa kembali. Fasilitas dasar di pulau berupa dermaga kecil, toilet umum, dan kantin.
Waktu paling ramai adalah sekitar perayaan Cap Go Meh, ketika pulau ini dipadati pengunjung. Untuk ziarah yang tenang, pilih hari kerja.
3. Kawah Tekurep: Kompleks Makam Sultan Palembang Darussalam
Sejarah dan Arsitektur
Dari Pulau Kemaro, perjalanan berlanjut ke Kawah Tekurep, kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Palembang Darussalam. Nama ini unik. "Kawah" berarti wadah penanak nasi, sedangkan "tekurep" berarti terbalik, sehingga artinya kurang lebih wadah terbalik, mengacu pada bentuk kubah makam.
Menurut ulasan Indonesia Kaya tentang makam Kawah Tekurep Palembang, kompleks ini dibangun pada 1728 bersamaan dengan Masjid Agung Palembang. Bahan bangunannya tiga unsur: kapur pasir, putih telur, dan batu. Luasnya sekitar satu hektare, dengan enam bangunan makam untuk sultan dan orang-orang terdekatnya. Makam yang lebih kecil di bagian depan diperuntukkan bagi keturunan, abdi dalem, dan panglima. Arsitekturnya memadukan unsur Melayu, India, dan Tiongkok.
Siapa yang Dimakamkan?
Tokoh utamanya adalah Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo), sultan keempat yang memerintah sekitar 1724 sampai 1757. Ia dimakamkan bersama empat istrinya yang berasal dari latar yang berbeda-beda. Di bagian lain terdapat makam Imam Sayid Al Idrus, guru besar sang sultan.
Satu catatan agar tidak tertukar: Sultan Mahmud Badaruddin I berbeda dengan Sultan Mahmud Badaruddin II, pahlawan nasional yang namanya diabadikan pada bandara dan museum di Palembang.
Juru kunci makam menegaskan bahwa peziarah datang untuk mendoakan para sultan, bukan meminta kepada kuburan. Pesan ini sejalan dengan adab ziarah yang dibahas di bagian bawah.
Alamat, Rute, dan Jam Buka Makam Kawah Tekurep
- Alamat: Jl. Belabak, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Lokasinya sekitar 100 meter dari tepian Sungai Musi, sehingga mudah digabung dengan wisata sungai.
- Jam buka makam Kawah Tekurep: sumber berbeda mencatat 08.00 sampai 16.00 WIB di portal pariwisata Sumatera Selatan, sementara sebagian situs informasi menyebut dibuka sepanjang hari. Aman-nya datang pada jam siang sampai sore dan menanyakan langsung kepada juru kunci.
- Biaya: umumnya tidak ada tiket. Beberapa pengunjung memberi sumbangan sukarela untuk perawatan.
- Waktu nyaman: pagi atau menjelang sore, saat udara lebih sejuk dan pengunjung belum ramai.
Kawah Tekurep juga menjadi bagian dari rute puncak Ziarah Kubro, yang berangkat berjalan kaki dari kawasan Benteng Kuto Besak menuju Kawah Tekurep dan Kambang Koci.
4. Gubah Duku: Pemakaman Habib Ahmad bin Syech Shahab
Tentang Kompleks dan Tokohnya
Dari kawasan Ilir, perjalanan berlanjut ke Gubah Duku. Menurut keterangan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, kompleks ini didirikan pada 1918 oleh Habib Ahmad bin Syech, tokoh penghulu nasab bin Shahab di Palembang. Ia berjasa memperluas Masjid Agung Palembang setelah masa Sultan Mahmud Badaruddin. Pada awalnya makam ini hanya untuk keturunan Shahab, dan semula hanya bisa dicapai lewat anak sungai. Kini kompleks itu terbagi tiga gubah, disusun menurut kelompok keluarga alawiyyin seperti bin Syahab, Al Kaff, Abu Bakar, Al Bar, Al Khirid, dan Al Musawa. Rincian arsitektur dan tokoh yang dimakamkan di sana tercatat dalam laman resmi makam Gubah Duku Palembang.
Gubah utama, yaitu gubah I, memuat makam Habib Ahmad bin Syech di tengah cungkup. Di dekatnya ada makam Habib Abdullah bin Idrus Shahab, Habib Ahmad bin Zen Shahab, dan Habib Ali bin Alwi Shahab. Sampai kini kompleks ini masih dipakai sebagai pemakaman keturunan alawiyyin di sisi Ilir Palembang. Peziarah yang jeli bisa melihat gaya nisan Demak Troloyo pada beberapa makam, terutama di gubah III yang bagian jirat dan nisannya masih asli.
Habib Ahmad juga mendirikan Musala Darul Muttaqien di Jl. Dr. M. Isa dekat Pasar Kuto, yang kini menjadi masjid. Tanah wakafnya berasal dari pemberian sultan kepada ayahnya.
Alamat dan Rute
- Alamat: Jl. Dr. M. Isa, Lorong Gubah, kawasan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Titik acuan mudah: Pasar Kuto dan Masjid Darul Muttaqien.
- Aksesnya: gang menuju makam sempit. Rombongan besar biasanya berpindah ke mikrobus atau angkutan kecil agar bisa masuk. Kendaraan pribadi sebaiknya diparkir di jalan utama.
- Jam dan biaya: tidak ditemukan jam operasional resmi yang dipublikasikan, dan umumnya tidak ada tiket. Datanglah siang atau sore, hindari waktu azan dan salat jamaah di masjid sekitar.
Gubah Duku juga menjadi titik awal Ziarah Kubro hari pertama, bersama makam Habib Aqil bin Yahya, dengan peserta berkumpul di Masjid Darul Muttaqien.
5. Makam Para Ulama Keturunan Yaman di Kawasan Ulu
Persinggahan terakhir bergeser ke sisi Seberang Ulu, di seberang Ilir. Di kawasan ini bermukim para habib dan ulama keturunan Hadramaut. Tiga nama yang sering disebut dalam rangkaian ziarah adalah Habib Abdurrahman Al Munawar, Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi, dan Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Makam mereka berada dalam cungkup yang berbeda-beda.
Kampung Al Munawar dan Tokohnya
Kampung Arab Al Munawar di Jl. KH. A. Azhari, 13 Ulu, adalah salah satu kampung Arab tertua di Palembang. Namanya diambil dari pendirinya, Habib Abdurrahman Al Munawar, ulama dari Hadramaut yang wafat pada 27 Rajab 1310 H (14 Februari 1893). Deretan rumah kayu ulin berlantai marmer di sini sebagian sudah berstatus cagar budaya. Aktivitas keagamaan warganya kuat, dengan tradisi haul, Maulid Nabi, ruahan menyambut Ramadan, dan ziarah.
Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff dan Telaga Sewidak
Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff dikenal sebagai wali mastur, yaitu wali yang karamahnya tersembunyi. Menurut catatan manakib, ia dimakamkan di kompleks Telaga Sewidak (Telaga 60) di 14 Ulu. Kompleks ini bersama kawasan 12 sampai 16 Ulu menjadi titik utama ziarah hari kedua dalam Ziarah Kubro, termasuk gubah Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi dan kompleks As-Seggaf di 16 Ulu.
Jadi, bila ingin ziarah ke para ulama di kawasan Ulu, petakan saja jalurnya sepanjang koridor Jl. KH. A. Azhari sampai Telaga Sewidak. Titik-titik makamnya berdekatan dan bisa ditempuh dengan ojek daring. Dari pusat kota ke Kampung Al Munawar, ongkos taksi atau ojek daring umumnya berkisar Rp25.000 sampai Rp40.000 dengan waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit.
Rute Ziarah Makam Wali di Palembang dalam Satu Hari
Berikut rancangan rute ziarah makam wali di Palembang yang realistis untuk rombongan kecil. Jamnya perkiraan dan perlu disesuaikan dengan waktu salat dan kondisi sungai.
- 07.30: Makam Kiai Marogan. Berwudu, salat dhuha atau tahiyatul masjid, lalu ziarah dan tahlil singkat.
- 09.30: Perahu menuju Pulau Kemaro. Naik dari dermaga terdekat. Waktu tempuh 15 sampai 35 menit. Berkeliling pulau sekitar satu jam.
- 11.30: Kembali ke daratan, makan siang, salat Zuhur.
- 13.30: Kawah Tekurep. Ziarah makam sultan dan pelajari arsitekturnya.
- 15.30: Gubah Duku. Sekalian singgah di Masjid Darul Muttaqien untuk salat Asar.
- Hari berikutnya: kawasan Ulu. Kampung Al Munawar dan Telaga Sewidak, karena berada di sisi sungai yang berbeda dan butuh waktu tempuh tersendiri.
Rangkaian ini sengaja mengikuti pola yang umum dipakai peziarah, yaitu satu sisi sungai dulu sebelum menyeberang. Kalau waktu terbatas, prioritaskan Kiai Marogan, Kawah Tekurep, dan Gubah Duku.
Domain, Hosting, Hingga VPS Murah untuk Proyek Anda Nikmati fitur lengkap dari aplikasi favorit kamu tanpa ribet. Langganan aman dan cepat lewat link ini Tingkatkan SEO Website Dengan Ribuan Weblink Bebagai Topik! Sewa Domain, Hosting, Hingga VPS untuk Proyek Digital Anda! Sewa Domain, Hosting, dan VPS untuk Proyek Digital Anda! Dapatkan Akun Bersama Berbagai Aplikasi Web Populer Dengan Harga Murah!
Rincian Biaya Ziarah di Palembang (Perkiraan)
| Komponen | Perkiraan biaya |
|---|---|
| Tiket masuk makam (Marogan, Kawah Tekurep, Gubah Duku, kawasan Ulu) | Umumnya gratis, infak sukarela |
| Tiket Pulau Kemaro | Gratis |
| Perahu ketek ke Pulau Kemaro | Rp100.000 sampai Rp250.000 per perahu (pulang-pergi) |
| Speedboat ke Pulau Kemaro | Hingga sekitar Rp500.000 |
| Ketek wisata reguler | Mulai sekitar Rp25.000 per orang |
| Ojek daring antarkawasan | Sekitar Rp25.000 sampai Rp40.000 sekali jalan |
Angka di atas kisaran dari berbagai sumber. Tarif perahu bisa bergeser mengikuti musim dan jumlah penumpang.
Adab Ziarah Makam Ulama yang Perlu Dijaga
Ziarah kubur dilakukan untuk mengingat kematian dan mendoakan yang telah wafat. Adab ziarah makam ulama yang umum dipegang peziarah antara lain:
- Luruskan niat. Peziarah mendoakan, bukan meminta kepada orang yang sudah wafat. Juru kunci di Kawah Tekurep dan Kiai Marogan sama-sama menekankan hal ini.
- Berwudu dan berpakaian sopan. Di makam Kiai Marogan, peziarah dianjurkan berwudu dan salat sunah dahulu sebelum berziarah.
- Ucapkan salam kepada penghuni makam, lalu berdoa dengan tenang, misalnya membaca Al-Fatihah, tahlil, dan doa untuk almarhum.
- Jaga sikap di area makam. Tidak menginjak, duduk di atas, atau mencoret makam. Pelankan suara dan jangan berfoto dengan gaya berlebihan.
- Hormati juru kunci dan peziarah lain. Ikuti arahan petugas, terutama saat jam ramai.
- Jaga kebersihan. Bawa pulang sampah dan gunakan infak sukarela untuk perawatan makam.
- Hormati rumah ibadah agama lain saat singgah di Pulau Kemaro.
Waktu Terbaik Berziarah dan Ziarah Kubro Palembang
Waktu paling ramai sekaligus paling istimewa adalah Ziarah Kubro Palembang, tradisi tahunan yang digelar menjelang Ramadan, pada akhir Sya'ban. Edisi 2026 berlangsung tiga hari pada 6 sampai 8 Februari 2026 (18 sampai 20 Sya'ban 1447 H). Antara News Sumatera Selatan melaporkan Ziarah Kubro Palembang dihadiri ribuan jemaah dari berbagai daerah hingga mancanegara, dengan rangkaian haul, ziarah, dan penutupan di Benteng Kuto Besak serta makam Kiai Marogan.
Polanya kira-kira begini:
- Hari pertama: ziarah di Masjid Darul Muttaqien dan pemakaman Habib Ahmad bin Syech Shahab (Gubah Duku), disusul kegiatan di Ponpes Ar-Riyadh, 13 Ulu.
- Hari kedua: haul dan ziarah di kawasan 12 sampai 16 Ulu, termasuk Telaga Sewidak, serta pertemuan di Kampung Al Munawar.
- Hari ketiga: puncak ziarah di Sei Bayas (8 Ilir), wisata bahari menyusuri Sungai Musi, lalu penutupan di Benteng Kuto Besak dan makam Kiai Marogan.
Jadwal pasti edisi berikutnya mengikuti kalender hijriah dan pengumuman panitia, jadi periksa kabar dari Dinas Pariwisata Palembang menjelang Sya'ban.
Di luar Ziarah Kubro, sebagai pegangan umum:
- Hari kerja, pagi hingga siang: paling tenang untuk berdoa lama.
- Jumat dan Ahad: makam Kiai Marogan lebih ramai.
- Menjelang Ramadan dan hari besar Islam: sangat padat, siapkan waktu ekstra.
- Musim kemarau: sungai lebih tenang, tetapi kabut asap kadang mengganggu penerbangan dan jarak pandang, jadi pantau kondisi menjelang berangkat.
Cara ke Palembang dan Transportasi Lokal
- Pesawat: mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, lalu lanjut dengan taksi atau ojek daring ke pusat kota.
- Kereta: Stasiun Kertapati berada di Jalan Ki Merogan, sehingga dekat dengan makam Kiai Marogan.
- Di dalam kota: ojek daring (Grab atau Gojek) paling praktis untuk gang-gang kecil seperti menuju Gubah Duku dan Kampung Al Munawar. Untuk jalur sungai, perahu ketek tersedia di sekitar Benteng Kuto Besak.
- Menginap: area sekitar Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak memudahkan akses ke dermaga, makam di Ilir, dan kuliner malam.
Sebelum berangkat, cek juga panduan destinasi wisata halal unggulan di Indonesia untuk gambaran fasilitas ramah muslim di berbagai daerah.
Kuliner dan Destinasi Lain di Sekitar Rute
Selesai ziarah, Palembang menawarkan banyak pilihan makan. Pempek, tekwan, model, dan pindang ikan hanyalah sebagian. Untuk daftar yang sudah dikurasi, buka panduan kuliner halal legendaris di Palembang untuk keluarga.
Yang punya waktu lebih bisa mampir ke tempat wisata lain di Sumatera Selatan, atau menelusuri ulasan masjid ikonik untuk wisata religi di Indonesia sebagai inspirasi perjalanan religi berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Berapa makam wali dan ulama yang bisa diziarahi dalam sehari di Palembang
Dalam satu hari yang padat, tiga kompleks di sisi Ilir dan Kertapati (Kiai Marogan, Kawah Tekurep, Gubah Duku) plus Pulau Kemaro masih realistis. Kawasan Ulu lebih nyaman dijadwalkan di hari terpisah.
Apakah ada tiket masuk makam wali di Palembang
Umumnya tidak ada tiket resmi. Peziarah biasanya meninggalkan infak sukarela untuk perawatan. Satu-satunya biaya wajib adalah transportasi, misalnya sewa perahu ke Pulau Kemaro.
Berapa biaya perahu ke Pulau Kemaro
Perahu ketek sewa berkisar Rp100.000 sampai Rp250.000 pulang-pergi per perahu, speedboat hingga sekitar Rp500.000, dan ketek wisata reguler mulai sekitar Rp25.000 per orang. Tiket masuk pulau gratis. Sepakati harga sebelum naik.
Kapan jam buka makam Kawah Tekurep
Sumber berbeda: ada yang mencatat 08.00 sampai 16.00 WIB, ada yang menyebut dibuka sepanjang hari. Datang pada siang sampai sore dan tanyakan kepada juru kunci agar aman.
Siapa yang dimakamkan di Kawah Tekurep
Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) bersama empat istrinya, serta Imam Sayid Al Idrus, guru sang sultan. Ada pula makam keturunan, abdi dalem, dan panglima di bagian depan kompleks.
Kapan Ziarah Kubro Palembang digelar
Setiap tahun menjelang Ramadan, pada akhir bulan Sya'ban. Edisi 2026 berlangsung 6 sampai 8 Februari 2026.
Bagaimana menuju makam Kiai Marogan
Ketik "Masjid Ki Merogan" di aplikasi peta atau ojek daring. Makam berada tepat di sebelah masjid, di Jl. Kimarogan, Kertapati.
Apa yang sebaiknya dibawa saat ziarah di Palembang
Pakaian sopan, sajadah atau alas salat, air minum, uang tunai pecahan kecil untuk infak dan perahu, topi atau payung, dan pelampung bila membawa anak saat naik perahu.
Apakah Pulau Kemaro termasuk wisata religi Islam
Bukan. Pulau Kemaro memiliki klenteng dan pagoda yang menjadi tempat ibadah umat Buddha, Tao, dan Konghucu. Statusnya wisata budaya dan sejarah yang kerap dijadikan persinggahan dalam rute ziarah. Pengunjung diminta menghormati area ibadah.
Bagaimana adab ziarah makam ulama yang benar
Luruskan niat untuk mendoakan, berwudu, berpakaian sopan, ucapkan salam, jaga sikap dan kebersihan, serta ikuti arahan juru kunci. Jangan meminta kepada orang yang sudah wafat.
Penutup
Video: Menyusuri jejak Wali & Ulama Kota Palembang Sumatra Selatan Ziarah PP Azzuhri Wazahro Kapulogo
Palembang punya cara tersendiri merawat ingatan tentang para wali dan ulama: lewat gubah-gubah kecil di kampung, masjid tua di muara sungai, dan tradisi ziarah massal yang tidak pernah putus. Dari makam Kiai Marogan di Kertapati, Pulau Kemaro di tengah Musi, Kawah Tekurep, Gubah Duku, sampai makam para ulama di kawasan Ulu, tiap titik membawa cerita yang berbeda tentang bagaimana Islam tumbuh di tepian sungai ini.
Siapkan niat, waktu, dan sedikit uang tunai, lalu mulailah dari satu kompleks. Pelan-pelan, rute ziarah makam wali di Palembang ini akan terasa seperti menelusuri sejarah kota dari sudut yang jarang dilirik.
Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 |





















