Skip to main content

8 Makam Wali Allah di Madura: Rute, Sejarah, dan Panduan Ziarah Lengkap

Panduan wisata religi Madura: 8 makam wali Allah dari Bangkalan sampai Sumenep, lengkap rute via Suramadu, adab ziarah, dan waktu terbaik berkunjung.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Jalan-jalan
Ilustrasi Makam-Syaikhona-Kholil-Bangkalan Madura
Ilustrasi Makam-Syaikhona-Kholil-Bangkalan Madura

Madura sering dijuluki Pulau Garam, tetapi bagi banyak peziarah, pulau di timur laut Jawa ini lebih layak disebut negeri para ulama. Dari ujung barat di Bangkalan hingga ujung timur di Sumenep, tersebar makam tokoh-tokoh yang jasanya melekat kuat dalam sejarah dakwah Islam di Nusantara. Tidak heran jika wisata religi Madura nyaris tidak pernah sepi. Bus rombongan dari berbagai kota datang silih berganti, terutama pada malam Jumat dan hari-hari besar Islam.

Artikel ini merangkum delapan makam wali Allah di Madura yang paling sering diziarahi, lengkap dengan lokasi, kisah tokohnya, cara menuju ke sana, sampai adab dan waktu terbaik untuk berkunjung. Cocok dijadikan pegangan bagi rombongan pengajian, keluarga, maupun peziarah yang berangkat sendiri.

DAFTAR ISI

Ringkasan Cepat: Delapan Makam dalam Satu Tabel

NoMakamLokasiYang Perlu Diketahui
1 Syaikhona Kholil Desa Martajasah, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan Guru para pendiri NU; kompleks makam terbuka 24 jam
2 Sunan Cendana Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan Ulama keturunan Sunan Ampel dan Sunan Giri
3 Sultan Abdul Kadirun Belakang Masjid Agung Bangkalan, Desa Demangan Raja Bangkalan yang memerintah 1815–1847
4 Raden Jakandar Desa Ujung Piring, Kecamatan Bangkalan Dikenal sebagai Sunan Bangkalan; berada di tepi pantai
5 Bujuk Sara Dukuh Blandungan, Martajasah, Bangkalan Sekitar 200 meter dari makam Syaikhona Kholil
6 Sayyid Husein Desa Banyusangkah, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan Dijuluki Sayyid Zimat atau Bujuk Zimat
7 Pesarean Batu Ampar Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan Kompleks enam makam aulia; ramai 24 jam
8 Sayyid Yusuf Pulau Talango, Kabupaten Sumenep Harus menyeberang laut dari Pelabuhan Kalianget

Enam dari delapan makam berada di Kabupaten Bangkalan, satu di Pamekasan, dan satu di Sumenep. Artinya, peziarah yang baru menyeberang dari Surabaya bisa langsung memulai perjalanan di kabupaten pertama yang mereka injak.

Kenapa Madura Jadi Magnet Wisata Religi?

Pulau Madura berada di sebelah timur laut Pulau Jawa dan dipisahkan oleh Selat Madura. Wilayah yang dijuluki Pulau Garam ini punya banyak objek wisata, mulai dari kuliner, pantai, bukit, wisata budaya, wisata sejarah, hingga wisata religi. Bagi pencinta perjalanan yang gemar menjelajah destinasi wisata halal unggulan di Indonesia, Madura menawarkan sisi yang lebih sunyi dan spiritual.

Alasan utamanya sederhana. Banyak tokoh agama yang berjasa bagi penyebaran Islam lahir dan wafat di pulau ini. Para pelancong dari seluruh pelosok Nusantara pun rela menempuh perjalanan jauh demi berziarah. Selain mengharap berkah, peziarah secara tidak langsung ikut mempelajari sejarah dan mengenang jasa para tokoh yang dimakamkan di sana.

Mengenal Istilah: Bujuk, Pesarean, dan Asta

Sepanjang perjalanan, peziarah akan sering mendengar sebutan khas Madura. Memahaminya membantu saat bertanya arah atau berbincang dengan warga dan juru kunci.

  • Bujuk adalah sebutan dalam bahasa Madura untuk aulia atau wali Allah yang makamnya dikeramatkan, misalnya Bujuk Sara dan Bujuk Zimat.
  • Pesarean berarti tempat peristirahatan atau kompleks makam, seperti pesarean Batu Ampar di Pamekasan.
  • Asta juga bermakna makam. Sebutan ini lazim dipakai di Sumenep, misalnya Asta Sayyid Yusuf di Talango dan Asta Tinggi yang menjadi kompleks makam raja-raja Sumenep.
  • Juru kunci adalah penjaga makam yang biasanya paling paham sejarah lokasi dan tata tertib setempat.

Rute Ziarah Wali Madura via Suramadu

Pintu masuk paling umum menuju Madura adalah Jembatan Suramadu dari Surabaya. Rute ziarah wali Madura via Suramadu kini jauh lebih ringan karena jembatan ini tidak lagi berbayar sejak 27 Oktober 2018. Sebelum digratiskan, tarif golongan I sempat berada di angka Rp15.000. Jembatan sepanjang 5.438 meter ini menghubungkan Surabaya di Pulau Jawa dengan Bangkalan di Pulau Madura.

Setelah menyeberang, urutan paling logis mengikuti letak geografis dari barat ke timur:

  1. Bangkalan sebagai gerbang pertama, tempat enam dari delapan makam berada.
  2. Pamekasan di bagian tengah pulau, tempat pesarean Batu Ampar berdiri.
  3. Sumenep di ujung timur, tempat makam Sayyid Yusuf di Pulau Talango.

Sebelum berangkat, sempatkan mengisi tenaga dengan kuliner halal legendaris di Surabaya agar perjalanan panjang ke Madura tetap nyaman.

1. Makam Syaikhona Kholil Bangkalan: Makam Sang Guru Para Ulama

Makam Syaikhona Kholil Bangkalan terletak di dalam kompleks masjid di Desa Martajasah, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Syaikhona Muhammad Kholil dikenal sebagai wali Allah yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa Timur, khususnya di Bangkalan. Di kalangan Nahdlatul Ulama, beliau termasyhur sebagai guru dari sejumlah pendiri NU, di antaranya KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Beliau wafat pada 1925, hampir satu abad silam, namun namanya tetap harum hingga sekarang.

Selain makam Syaikhona Kholil, di kompleks ini juga terdapat makam KH Abdul Latif, ayahanda beliau, serta makam sejumlah ulama lain. Setiap hari, ratusan hingga ribuan peziarah dari berbagai kota di Indonesia datang untuk berdoa sekaligus meneladani semangat belajar dan keikhlasan sang guru.

Info praktis: menurut ulasan detikJatim tentang makam Syaikhona Kholil Bangkalan, pengunjung tidak dikenai tiket masuk. Biaya yang lazim hanya tarif parkir bagi yang membawa kendaraan. Kompleks makam terbuka 24 jam dan dilengkapi kamar mandi, masjid untuk beribadah, bangku tunggu untuk bergantian berziarah, serta deretan pedagang makanan, minuman, dan oleh-oleh khas Madura. Di sepanjang akses jalan menuju makam juga berjejer lapak pedagang, dari perlengkapan rumah tangga sampai pisau dan parang buatan pengrajin lokal.

2. Makam Sunan Cendana Kwanyar: Jejak Dakwah di Pesisir Selatan

Makam Sunan Cendana Kwanyar berlokasi di Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan. Penyebaran Islam di Madura tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidup seorang ulama bernama Syekh Zainal Abidin atau Sunan Cendana.

Gelar "Sunan" disematkan karena silsilahnya memang berdarah biru. Ayahnya, Syekh Khatib, adalah cucu Sunan Ampel dari jalur Sunan Drajat. Ibunya, Nyai Gede Kedaton, merupakan cucu Sunan Giri dari jalur Syekh Penambahan Kulon. Sementara itu, kata "cendana" punya beberapa versi asal-usul. Menurut satu versi, Syekh Zainal Abidin identik dengan tongkat dari batang kayu cendana yang selalu dibawa dalam setiap aktivitas dakwahnya. Versi lain, seperti dituturkan juru kunci makam kepada Radar Madura, menyebut julukan itu muncul ketika pohon tempat beliau sering bertapa ditebang dan mengeluarkan aroma harum.

Menurut laporan tentang makam Sunan Cendana Kwanyar, beliau menyebarkan Islam atas tugas dari Sunan Ampel dan menetap di pesisir selatan Bangkalan yang kini menjadi Kecamatan Kwanyar. Pendekatan dakwahnya persuasif, sehingga ajaran Islam diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Hingga kini, makam Sunan Cendana menjadi tujuan wisata religi yang diziarahi ribuan orang setiap tahun.


Banner Layanan Asisten Virtual
Banner Layanan Asisten Virtual


3. Makam Sultan Abdul Kadirun Bangkalan: Raja yang Memajukan Madura Barat

Makam Sultan Abdul Kadirun Bangkalan berlokasi di belakang Masjid Agung Bangkalan, Desa Demangan, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Letaknya di jantung kota, sehingga sangat mudah dijangkau dan cocok digabung dengan ziarah ke makam lain dalam satu hari.

Sultan Abdul Kadirun, yang bergelar Cakraadiningrat II, adalah raja kedua Bangkalan. Sebelum naik takhta, beliau adalah pangeran di keraton Bangkalan. Pada 1815, ayahandanya, Sultan Abdurrahman Cakraadiningrat I, wafat, dan pemerintahan pun diwariskan kepada beliau. Masa kepemimpinannya berlangsung hingga 1847. Di bawah pemerintahannya yang berpegang pada prinsip-prinsip Islam, wilayah ujung barat Madura berkembang pesat. Beliau juga berjasa besar dalam penyebaran Islam, hingga Islam menjadi agama yang dominan di Bangkalan.

Catatan sejarah pemugaran masjid, seperti dirangkum dalam makam Sultan Abdul Kadirun Bangkalan, menyebut bahwa pada masa beliau masjid yang semula khusus keluarga keraton dijadikan masjid umum. Sebagai penghargaan atas jasa itu, jenazah beliau dikebumikan di kompleks masjid, di bangunan cungkup di belakang masjid. Makam ini selalu dipenuhi peziarah, terutama pada bulan Ramadan.

4. Makam Raden Jakandar: Sunan Bangkalan di Tepi Pantai

Makam Raden Jakandar berada di Desa Ujung Piring, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Menurut beberapa sumber sejarah lokal, Raden Jakandar lebih dikenal sebagai Sunan Bangkalan atau Sayyid Al-Maghribi. Beliau disebut sebagai ulama keturunan keluarga kerajaan Pajajaran.

Dari pernikahannya dengan Dewi Nawang Sasi, putri Ki Ageng Taruk, beliau dikaruniai dua orang putri. Putri pertama kelak menjadi istri Sunan Gunung Jati, sedangkan putri kedua menjadi istri Sunan Bonang. Kisah ini menunjukkan betapa eratnya jaringan kekerabatan para penyebar Islam di tanah Jawa dan Madura.

Berbeda dengan makam-makam di pusat kota, makam Raden Jakandar berada di pinggiran Bangkalan, tepat di tepian pantai Ujung Piring. Suasananya cenderung lebih tenang, sehingga cocok bagi peziarah yang ingin berdoa lebih khusyuk.

5. Makam Bujuk Sara: Tiga Makam Bersahaja Dekat Syaikhona Kholil

Makam Bujuk Sara berlokasi di Dukuh Blandungan, Martajasah, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Ini adalah salah satu destinasi wisata religi di ujung barat Pulau Madura. Lokasinya tidak jauh dari makam Syaikhona Kholil, hanya sekitar 200 meter, sehingga peziarah bisa berjalan kaki dari satu makam ke makam lainnya.

Di lokasi ini terdapat tiga makam yang saling berdekatan. Sebelah kanan merupakan makam Sayyid Abdullah. Di bagian tengah terdapat makam Sayyidah Siti Maisarah, dan di sebelah kiri terdapat makam Syekh Syarifuddin. Makam Bujuk Sara kerap dikunjungi wisatawan untuk berziarah, dan yang datang tidak hanya dari Madura, melainkan juga dari berbagai daerah lain, khususnya dari Pulau Jawa.

6. Makam Sayyid Husein: Sang Bujuk Zimat dari Tanjung Bumi

Makam Sayyid Husein terletak di Desa Banyusangkah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Sayyid Husein dikenal sebagai waliyullah yang sangat dikeramatkan karena berbagai kelebihan yang dimilikinya. Saking dihormatinya, beliau mendapat julukan Sayyid Zimat atau Bujuk Zimat.

Beberapa sumber menyebut Sayyid Husein adalah putra Syekh Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, cucu Sunan Ampel. Menurut keterangan yang berkembang, beliau wafat akibat kesalahpahaman dengan Raja Bangkalan pada masa itu. Peristiwa tersebut berdampak panjang. Putranya, Syekh Abdul Manan, meninggalkan Bangkalan dan berdakwah di daerah lain, hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu tokoh di pesarean Batu Ampar, Pamekasan, yang akan dibahas berikutnya. Dengan begitu, mengunjungi makam Sayyid Husein dan Batu Ampar dalam satu rangkaian perjalanan akan memberi gambaran utuh tentang kisah keluarga ulama ini.

7. Pesarean Batu Ampar Pamekasan: Enam Aulia dalam Satu Kompleks

Pesarean Batu Ampar Pamekasan berlokasi di Batu Ampar, Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Menurut pesarean Batu Ampar Pamekasan yang diulas Good News From Indonesia, kompleks ini berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Pamekasan atau kurang lebih setengah jam berkendara. Nama Batu Ampar berasal dari bahasa Madura, bato yang berarti batu dan ampar yang bermakna berserakan namun teratur seperti permadani yang dihamparkan.

Di kompleks ini terdapat enam makam aulia atau wali Allah, yang dalam bahasa Madura disebut bujuk. Mereka adalah Syekh Abdul Manan (Bujuk Kosambi), Syekh Basyaniyah (dikenal juga sebagai Bujuk Tumbeng), Syekh Abu Syamsuddin (Bujuk Latong), Syekh Husein, Syekh Moh. Romli, dan Syekh Damanhuri.

Syekh Abdul Manan adalah putra Sayyid Husein dari Bangkalan. Menurut cerita rakyat yang berkembang, setelah ayahandanya wafat, beliau mengasingkan diri (uzlah) di bawah pohon kosambi di hutan Batu Ampar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di tempat itu pula beliau mendirikan padepokan kecil untuk mengajarkan ilmu agama kepada pemuda setempat. Sayyid Husein sendiri adalah cucu Sunan Ampel dan putra Sunan Bonang, sehingga menjadi leluhur para bujuk atau masyaikh di Batu Ampar.

Suasana dan tata tertib: pesarean Batu Ampar hampir tidak pernah sepi. Lantunan Al-Qur'an terdengar sepanjang hari, dan kompleks ini ramai selama 24 jam setiap hari. Peziarah datang dari berbagai tempat untuk berdoa dan membaca kitab suci. Laporan pada 2023 mencatat setidaknya sekitar 500 orang berziarah setiap hari, dan setiap tamu wajib melapor sebelum memasuki area pesarean.


banner rumah edho horizontal kecil


8. Makam Sayyid Yusuf Talango Sumenep: Makam di Seberang Laut

Makam Sayyid Yusuf Talango Sumenep berada di Pulau Talango, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep. Secara administratif, asta atau makam ini terletak di Desa Padike. Jaraknya sekitar 11 kilometer dari pusat Kota Sumenep menuju Pelabuhan Kalianget, lalu dilanjutkan menyeberang laut sejauh kira-kira satu kilometer.

Cara menuju ke sana: dari Pelabuhan Kalianget, peziarah menyeberang dengan perahu tradisional atau tongkang yang juga mengangkut kendaraan. Tarif menyeberang dilaporkan sekitar Rp2.500 per orang, dan tarif ini bisa berubah sewaktu-waktu. Setibanya di Talango, perjalanan ke lokasi asta biasanya dilanjutkan dengan becak motor. Pada musim libur sekolah, antrean di dermaga bisa panjang, sehingga pengelola pelabuhan pernah melayani penyeberangan hingga malam hari.

Kisah penemuannya: menurut penuturan turun-temurun yang dirangkum NU Online Jatim tentang makam Sayyid Yusuf Talango Sumenep, makam ini pertama kali ditemukan oleh Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat pada 1791 M (1212 H), sepulang berdakwah dari Pulau Dewata. Saat bermalam di Pelabuhan Kalianget, sang raja melihat cahaya terang seolah jatuh dari langit di sebelah timur pelabuhan. Beliau mengikuti cahaya itu hingga tiba di sebuah kuburan yang diyakini sebagai makam seorang wali.

Penemuan tersebut disertai selembar daun sukun bertuliskan huruf Arab, yang berbunyi "Hadza Maulana Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah Al-Hasani". Sri Sultan kemudian memasang batu nisan dan memberinya nama sebagaimana tertulis pada daun tersebut. Tongkat yang ditancapkan sang raja di dekat makam konon kini tumbuh menjadi pohon besar dan rindang yang menaungi para peziarah. Kompleks ini juga memiliki masjid Jami' Talango, serta Yayasan Asta Sayyid Yusuf yang berdiri pada 1986 dan bergerak di bidang pendidikan.

Adab Ziarah Makam Wali yang Perlu Diperhatikan

Ziarah bukan sekadar kunjungan wisata. Menurut NU Online, adab ziarah makam wali adalah hal pokok yang tidak boleh diabaikan, terlebih ketika yang dikunjungi adalah makam para kekasih Allah. Sikap hormat yang ditunjukkan sama seperti saat mereka masih hidup. Beberapa pegangan sederhana yang dapat dipraktikkan:

  • Luruskan niat. Berziarah untuk mendoakan yang telah wafat, mengambil pelajaran, dan mengingat kematian serta akhirat.
  • Ucapkan salam kepada penghuni makam, lalu lanjutkan dengan zikir dan doa.
  • Panjatkan permohonan hanya kepada Allah. Para wali dikunjungi untuk dikenang dan diteladani, bukan untuk disembah.
  • Berpakaian sopan, longgar, dan bersih.
  • Jaga ucapan dan ketenangan. Hindari berkata buruk, berteriak, atau bercanda berlebihan di area makam.
  • Hormati antrean dan sesama peziarah. Di makam yang ramai, bergiliranlah saat berdoa dan jangan berlama-lama sehingga menghalangi orang lain.
  • Patuhi aturan pengelola. Foto diperbolehkan di sebagian lokasi selama tidak mengganggu jalannya ibadah, tetapi tetap minta izin bila ragu.
  • Jangan menginjak atau menduduki makam, dan buang sampah pada tempatnya.

Ziarah ke makam para wali hukumnya sunah menurut ulama mazhab Syafi'i, bagi laki-laki maupun perempuan.

Waktu Terbaik Ziarah Makam Wali di Madura

Soal waktu terbaik ziarah makam wali di Madura, pilihannya bergantung pada suasana yang dicari.

Jika ingin merasakan keramaian dan kebersamaan, datanglah pada Kamis sore hingga Jumat. Peziarah biasanya berbondong-bondong pada waktu tersebut, dan di makam Syaikhona Kholil, kendaraan ditaksir mencapai ribuan setiap malam Jumat. Suasana juga sangat ramai pada hari-hari besar Islam seperti awal tahun baru Hijriah, bulan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Makam Sultan Abdul Kadirun, misalnya, selalu dipenuhi peziarah terutama saat Ramadan. Bagi yang ingin memahami suasana perayaan hari raya di berbagai daerah, tradisi unik Idul Adha di Indonesia bisa menjadi bacaan pendamping.

Jika ingin lebih tenang, hindari malam Jumat, hari libur nasional, dan musim libur sekolah. Datang pada hari biasa memberi ruang lebih lega untuk berdoa, membaca Al-Qur'an, dan berkeliling kompleks. Makam yang terbuka 24 jam, seperti kompleks Syaikhona Kholil dan Batu Ampar, memungkinkan peziarah memilih waktu yang paling sepi.

Untuk Talango, pastikan cuaca dan kondisi laut aman sebelum menyeberang, dan berangkatlah lebih awal agar tidak terjebak antrean di dermaga.



Makam Mana yang Cocok untuk Siapa?

Tidak semua peziarah punya waktu dan tenaga yang sama. Pertimbangan berikut bisa membantu menentukan prioritas:

  • Keluarga dengan anak atau orang tua lanjut usia: utamakan kelompok makam di Kota Bangkalan. Makam Syaikhona Kholil, Bujuk Sara, dan Sultan Abdul Kadirun berdekatan, fasilitasnya lengkap, dan jaraknya bisa ditempuh tanpa perjalanan panjang.
  • Peziarah yang mencari suasana tenang: makam Raden Jakandar di tepi pantai Ujung Piring cenderung lebih lengang dibanding pusat kota.
  • Pencinta sejarah keraton: makam Sultan Abdul Kadirun di belakang Masjid Agung Bangkalan menyimpan jejak Kesultanan Bangkalan, lengkap dengan kompleks makam keluarga raja.
  • Penelusur silsilah ulama: rangkaian Sayyid Husein di Tanjung Bumi dan pesarean Batu Ampar di Pamekasan menunjukkan hubungan ayah dan anak yang berdakwah di dua wilayah berbeda.
  • Peziarah yang suka tantangan perjalanan: makam Sayyid Yusuf di Talango menawarkan pengalaman menyeberang laut sebelum tiba di lokasi.

Contoh Rencana Perjalanan Tiga Hari

Delapan makam bisa dijelajahi dalam tiga hari dengan ritme santai. Waktu tempuh antar-kabupaten bergantung pada lalu lintas, jadi cek estimasi perjalanan lewat aplikasi peta sebelum berangkat.

  • Hari 1: Kota Bangkalan. Mulai dari makam Syaikhona Kholil, lanjut berjalan kaki ke makam Bujuk Sara, kemudian ke makam Sultan Abdul Kadirun di belakang Masjid Agung Bangkalan. Bila waktu masih ada, tutup hari dengan makam Raden Jakandar di tepi pantai Ujung Piring.
  • Hari 2: Kwanyar dan Tanjung Bumi. Ziarahi makam Sunan Cendana di Kwanyar, lalu menuju makam Sayyid Husein di Tanjung Bumi.
  • Hari 3: Pamekasan dan Sumenep. Kunjungi pesarean Batu Ampar di Proppo, kemudian lanjutkan ke Sumenep dan menyeberang dari Kalianget menuju makam Sayyid Yusuf di Talango.

Untuk melengkapi perjalanan, tersedia banyak ide bagi penjelajah yang ingin menikmati tempat wisata lain di Jawa Timur setelah urusan ziarah selesai. Pencinta arsitektur Islam juga bisa menambah daftar kunjungan dengan masjid ikonik untuk wisata religi lainnya.

Tips Praktis Sebelum Berangkat

  • Siapkan uang tunai pecahan kecil untuk parkir, penyeberangan perahu, becak motor, jajanan, dan oleh-oleh.
  • Bawa perlengkapan ibadah seperti Al-Qur'an saku, sajadah tipis, dan air minum.
  • Pakai alas kaki yang mudah dilepas. Sebagian besar area makam mengharuskan pengunjung melepas alas kaki.
  • Cek jam operasional dan kondisi jalan sebelum berangkat, terutama saat ada haul atau acara besar di lokasi.
  • Tentukan titik kumpul rombongan. Di makam yang ramai, peziarah mudah terpisah dari rombongan.
  • Jaga barang berharga dan hindari membawa tas besar ke area yang padat.

FAQ: Pertanyaan Seputar Wisata Religi Madura

Apa saja makam wali Allah di Madura yang paling banyak diziarahi?

Di antara delapan makam yang dibahas, makam Syaikhona Kholil di Bangkalan dan pesarean Batu Ampar di Pamekasan termasuk yang paling ramai, karena kompleksnya terbuka sepanjang hari dan didatangi peziarah dari berbagai daerah. Makam Sunan Cendana, Sultan Abdul Kadirun, Bujuk Sara, Sayyid Husein, Raden Jakandar, dan Sayyid Yusuf Talango juga rutin dikunjungi.

Apakah ada tiket masuk ke makam-makam ini?

Makam Syaikhona Kholil tidak memungut tiket masuk. Biaya yang umumnya muncul hanya parkir. Untuk makam lain, siapkan uang tunai kecil untuk parkir, penyeberangan, dan keperluan di lokasi.

Apakah Jembatan Suramadu masih berbayar?

Tidak. Jembatan Suramadu bebas tarif sejak 27 Oktober 2018 dan kini berstatus jalan umum non-tol.

Bagaimana cara ke makam Sayyid Yusuf di Talango?

Menuju Pelabuhan Kalianget, sekitar 11 kilometer dari pusat Kota Sumenep, lalu menyeberang dengan perahu atau tongkang sejauh kira-kira satu kilometer ke Pulau Talango. Dari dermaga, perjalanan dilanjutkan dengan becak motor ke lokasi asta di Desa Padike.

Kapan waktu terbaik untuk berziarah?

Kamis sore hingga Jumat adalah waktu paling ramai. Hari besar Islam juga sangat padat. Untuk suasana lebih tenang, pilih hari biasa di luar musim liburan.

Berapa hari yang ideal untuk mengunjungi kedelapan makam?

Tiga hari sudah cukup dengan ritme santai. Bila hanya punya waktu sehari, fokuskan pada kelompok makam di Kota Bangkalan, yaitu Syaikhona Kholil, Bujuk Sara, dan Sultan Abdul Kadirun, yang jaraknya berdekatan.

Penutup

Video: 8 Makam Wali Allah di Madura

Delapan makam ini bukan sekadar titik di peta. Masing-masing menyimpan jejak perjuangan ulama, raja, dan para wali dalam menanamkan Islam di tanah Madura. Bagi yang berencana berkunjung, siapkan niat yang lurus, perjalanan yang terencana, dan sikap yang santun. Semoga informasi tentang makam wali Allah di Madura ini bermanfaat dan memudahkan langkah para peziarah. Wallahu a'lam.


Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk pertanyaan bisnis dan pemasangan artikel promosi bisa menghubungi: 0813-8229-7207 | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.