Skip to main content

Sistem DIY “Maggot BSF” untuk Daur Ulang Sampah Makanan: Pakan + Pupuk Sekaligus

Sistem DIY berbasis maggot BSF mengolah sampah makanan jadi pakan berprotein tinggi dan frass untuk tanah—hemat, stabil, dan bisa jalan di rumah atau farm.

 |  Muhammad Fauzi Rizal  |  Inspirasi Rumah
Ilustrasi Larva Black Soldier Fly (BSF)
Ilustrasi Larva Black Soldier Fly (BSF)

Bayangin ini: sisa makanan dari dapur—yang biasanya berakhir di tong sampah, bau, terus bikin hati agak nyesek—bisa “disulap” jadi dua hal yang beneran kepakai: pakan hewan berprotein tinggi dan pupuk untuk tanah. Bukan sulap-sulapan, tapi kerja rapi dari serangga yang reputasinya sering disalahpahami: black soldier fly alias BSF (lalat tentara hitam).

Tim ilmuwan dari University of California, Riverside (UC Riverside) bikin sebuah sistem skala kecil yang bisa dibilang versi “rumahan” dari fasilitas pengolahan sampah makanan industri. Bedanya? Sistem ini lebih terjangkau, bisa dibangun dari material off-the-shelf, dan cukup dirawat satu orang—tapi tetap menghasilkan output yang berguna.

Dan ini bukan sekadar ide di papan tulis. Risetnya dipublikasikan di jurnal Waste Management dalam paper berjudul A steady-state system for farming black soldier flies to convert agri-food waste into frass and other value-added products (2025), lengkap dengan DOI yang jelas.


DAFTAR ISI

Kenapa sampah makanan itu masalah besar (dan kenapa kita sering cuek)

Sampah makanan itu kelihatannya sepele karena bentuknya “cuma sisa”. Tapi kalau dikumpulin, skalanya bikin merinding. Laporan Food Waste Index Report 2024 dari UNEP menekankan pentingnya pengukuran dan pengurangan food waste sebagai bagian dari target SDG 12.3—karena tanpa tahu seberapa besar masalahnya, kita juga sulit ngerjain solusinya secara serius.

Di Indonesia, kita juga akrab dengan “drama dapur”: sisa nasi, sayur yang keburu layu, kulit buah, dan makanan acara yang pulang-pulang jadi penghuni kulkas sampai “pensiun dini”. Kalau kamu pernah baca soal 6 sampah dapur yang bisa kamu gunakan di kebun, kamu tahu: sebagian sisa dapur sebenarnya punya “masa depan” yang lebih mulia daripada sekadar dibuang.

Nah, sistem BSF ini seperti meng-upgrade ide tersebut ke level berikutnya: bukan cuma “jadi kompos”, tapi jadi protein dan pembenah tanah.

Jadi… apa sih black soldier fly itu? Kok terdengar serem?

Nama boleh “soldier”, tapi mereka bukan pasukan yang siap menyerbu dapur kamu.

Black soldier fly (BSF) adalah serangga pengurai yang larvanya doyan banget makan bahan organik. Dalam paper Waste Management itu, BSF disebut sebagai Hermetia illucens, serangga yang memang digunakan untuk “valorize” (mengubah nilai) limbah makanan dan pertanian.

Yang menarik: BSF beda kelas sama lalat rumah. Lalat rumah terkenal bisa jadi gangguan dan berhubungan dengan penularan penyakit. Sementara BSF digambarkan relatif tidak mengganggu manusia dan nggak tertarik dengan lingkungan manusia seperti lalat rumah.

Jadi kalau kamu membayangkan rumah jadi lokasi syuting film horor, tarik napas dulu. Ini bukan cerita itu.

02 a diy fly powered fix 1

Cara kerja sistem DIY ini (versi gampangnya)

Sistemnya berupa semacam bioreactor—tempat larva BSF mengolah sisa makanan menjadi:

  1. Larva / prepupae (bisa dipanen sebagai pakan)

  2. Frass (kotoran/hasil residu penguraian yang berguna untuk tanah)

Para peneliti menekankan bahwa industri skala besar butuh infrastruktur dan tenaga kerja yang berat. Tapi versi DIY ini dirancang supaya tetap fungsional tanpa “modal pabrik”: materialnya bisa off-the-shelf dan cukup dikelola satu orang.

Lebih keren lagi: sistem ini memungkinkan daur ulang dilakukan di tempat sampah itu dihasilkan—misalnya di farm, greenhouse, atau bahkan rumah besar. Dalam uji coba mereka, sumber sampahnya dari dining hall kampus.

Kalau kamu punya kegiatan komunitas—pondok, sekolah, katering, atau dapur besar—ini konsep yang relevan banget, minimal untuk dipelajari.


Outputnya stabil—dan angkanya lumayan “wah” untuk skala kecil

Dengan pengawasan dasar, sistem ini bisa stabil dan menghasilkan sekitar 1 pound larva per yard persegi per hari.
Kalau dikonversi kasar: itu kira-kira ±450 gram per yard² per hari, atau sekitar 0,54 kg per m² per hari (angka pendekatan dari konversi satuan).

Larva BSF ini dikenal sebagai pakan kaya protein yang dicari untuk unggas dan ikan.
Kebayang nggak sih, “sisa makan siang” bisa jadi energi buat ternak? Rasanya kayak konsep circular economy yang akhirnya punya wujud.


Frass: “pupuk” yang bukan sekadar pupuk

Di sini bagian yang sering bikin orang berhenti scrolling.

Sistem bioreactor ini justru menghasilkan frass sebagai output utama—bahkan disebut diproduksi dalam jumlah lebih besar daripada larvanya.

Di paper Waste Management, frass dijelaskan sebagai residu yang bukan cuma “kotoran”, tapi campuran yang kompleks: termasuk ekskreta serangga, sisa bahan organik yang belum tercerna, bagian kulit serangga (exuviae) dari proses molting, mineral, dan komunitas mikroba yang kaya.

Kenapa itu penting?

Karena tim peneliti melihat sesuatu yang menarik: ketika fragmen tubuh serangga ikut tercampur ke tanah, ada indikasi tanah jadi lebih “hidup” dan tanaman bisa lebih tahan penyakit—hampir seperti efek vaccine alami (istilah analogi yang mereka pakai).

Mereka juga menekankan bahwa ini masih area yang terus dipelajari, tapi sinyalnya menjanjikan: frass bukan cuma soal nutrisi, tapi juga soal plant defense dan kesehatan mikroba tanah.

Buat kamu yang suka berkebun—yang punya kebun sayur di pekarangan rumah, atau rajin ngulik pupuk dari ampas kopi untuk tanaman, manfaat kulit telur untuk kebunmu, sampai manfaat kulit jeruk di kebun—frass ini bisa jadi “teman baru” yang patut kamu kenal.

Kunci agar sistemnya nggak rewel: suhu, kelembapan, dan… pH

Namanya juga makhluk hidup. Kalau kondisinya ngawur, sistemnya ikut ngamuk.

Peneliti menekankan climate control: larva perlu area teduh atau greenhouse dengan suhu di bawah 100°F (sekitar 38°C). Selama pemeliharaan, pengguna sesekali menambah air dan wood chips, sambil memantau metrik dasar seperti suhu dan pH, lalu melakukan penyesuaian bila perlu.

Dan ada satu pelajaran yang mereka garis-bawahi:

Monitoring pH itu penting banget.

Kalau sistem terlalu basah, bakteri anaerob bisa mengambil alih, pH turun, dan itu bisa merusak larva. Tapi kabar baiknya: perubahan kecil seperti mengurangi air atau menambah wood chips bisa membantu mengembalikan keseimbangan dengan cepat.

Kalau kamu pernah bikin kompos dan mendadak “kok jadi bau busuk ya?”, kamu sudah paham vibe-nya. Ini cuma versi yang lebih ilmiah dan lebih terukur.

a diy fly powered fix 2

Dampak ekologisnya: bukan cuma buang sampah, tapi bikin sumber daya

Bagian yang bikin saya suka dari riset ini adalah sudut pandangnya: sistem ini mencoba meniru siklus alami—serangga makan, tumbuh, lalu kembali jadi bagian dari tanah. Dengan begitu, praktik pertanian (atau aktivitas produksi pangan) yang sering “memutus” hubungan dengan ekosistem bisa tersambung lagi lewat proses biologis yang lebih natural.

Buat farm yang ingin menekan biaya input dan mengurangi waste, pendekatan berbasis serangga ini menawarkan manfaat ganda: ekologis dan ekonomis.

Atau kalau mau diringkas dalam satu kalimat yang cukup menohok:

Ini bukan sekadar pengelolaan sampah—ini penciptaan sumber daya.

Ringkasan cepat (buat yang suka poin-poin)

  • Sistem DIY BSF ini mengubah sampah makanan jadi larva (pakan) dan frass (pembenah tanah).

  • Bisa dibuat dari material off-the-shelf dan dikelola satu orang.

  • Output larva bisa stabil: ±1 pound/yard²/hari pada kondisi stabil.

  • Frass bukan cuma “pupuk”, tapi campuran kaya nutrisi + mikroba, plus fragmen serangga yang berpotensi menstimulasi pertahanan tanaman.

  • Kontrol kelembapan, suhu, dan terutama pH jadi kunci agar sistem tetap sehat.


Penutup: dari dapur ke tanah, dari sisa ke harapan

Ada hal yang diam-diam bikin lega ketika kita bisa melihat “sisa” sebagai awal dari sesuatu—bukan akhir.

Kalau biasanya sampah makanan itu identik dengan rasa bersalah (“duh kebuang lagi”), riset ini menawarkan cara pandang baru: bahwa limbah bisa kembali jadi bagian dari rantai pangan, dan bahkan membantu menumbuhkan pangan baru.

Dan mungkin, di masa ketika kita makin sering dibombardir istilah “krisis” (iklim, pangan, biaya hidup), solusi yang paling masuk akal memang sering datang dari hal yang kelihatannya sederhana: biologi yang bekerja sesuai kodratnya—asal kita kasih sistem yang tepat.


Atribusi sumber asli

Artikel ini merupakan terjemahan dan adaptasi dari tulisan Jules Bernstein (University of California – Riverside), diedit oleh Sadie Harley dan direview oleh Robert Egan, terbit 23 Desember 2025 di Phys.org: A DIY, fly-powered food waste recycling system.

Rujukan riset: William Samson et al. (2025), Waste Management, DOI: 10.1016/j.wasman.2025.115073.

Tebejowo.com didukung oleh pembaca. Kami mungkin memperoleh komisi afiliasi ketika Anda membeli melalui tautan di situs web kami. Untuk kolaborasi, sponsorship, hingga kerjasama, bisa menghubungi: 0857-1587-2597.

Ikuti juga kami di Google News untuk mendapatkan notifikasi artikel terbaru dari gawai Anda.

 

✓ Link berhasil disalin!